20 Komentar

[Chapter 2] Back in Time

Title : Back in Time

backintime-kakella

Author : ellaverina96

                                                                                         

Main Casts :

  • Oh Sehoon [Sehun] (EXO-K)
  • Jung Soojung [Krystal] (f(x))
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Cameos :

  • Park Chanyeol (EXO-K)
  • Park Sunyoung [Luna] (f(x))

Pairing : Temukan sendiri :*

Rating : PG-15.

Genre : Hurt/Comfort | Romance.

Length : Double-shot/Two-shots [2/2]

Summary :

Tiba-tiba kepingan masa lalu itu kembali mengisi ruang kosong yang pernah ditinggalkan. Krystal menjerit, ia tak mampu menahan dera sakit yang amat sangat, rasanya tempurung kepalanya hampir pecah karena berusaha mengingat nama yang sesungguhnya tak asing baginya itu.

“Krystal-ssi!”

A/N :

Yahoo! Chapter akhir datang, maafkan atas ketidak-profesionalan Author yang telat apdet /gulung-gulung/ Kembali aja ke topik, deh… silahkan dibaca chap akhir dari fanfic ini, okeh?

Author tidak turut bertanggung jawab jika pembaca mengalami mual, muntah, gangguan kehamilan, dan janin /kaboor/

oOo

Dan itu adalah pertama kalinya Baekhyun melihat wanita itu. Rambut cokelat panjangnya melambai-lambai terkena angin sore, pakaiannya pun begitu. Wajahnya cantik layaknya porselen, namun dua lingkaran hitam di bawah matanya seolah menghilangkan semangat hidupnya. Gadis itu melamun, entah apa.

Masih dilibatkan rasa penasaran, Byun Baekhyun mendekatinya.

“Halo, nona… err…” Baekhyun menggantung kata-katanya. Dia baru ingat kalau tidak satupun antara mereka berdua tahu nama gadis itu.

Sang gadis melihatnya sekilas, namun sorot mata ketakutan terpancar dari obsidiannya. “Si… siapa kau?” tanyanya dengan bibir bergetar.

Baekhyun menarik kesimpulan bahwasanya gadis di hadapannya memanglah mengalami tekanan batin yang berat. Usai berpikir sejenak, ia berjalan mendekati gadis itu.

“Aku rekan Dokter Park. Aku akan membantu untuk mengingat memorimu. Namaku Byun Baekhyun.” Baekhyun menyodorkan tangannya.

Gadis berambut brunette nampak ragu. Perlu waktu cukup lama baginya hingga ia akhirnya menjabat tangan kanan Baekhyun. Itupun tidak lebih dari satu sekon.

Pemuda bermarga Byun terkikik geli, “Tak perlu sungkan. Percaya saja padaku. Aku akan membantumu dengan satu syarat… kau harus benar-benar memulihkan kondisi fisikmu.”

Binar mata kecil itu begitu bersinar. Sang gadis tak dapat menemukan cela jika saja benar lelaki bernama Byun Baekhyun itu berbohong padanya.

Tidak hanya dia, Baekhyun-pun agaknya juga tercenung dengan indah obsidian milik seorang di hadapannya. “Bagaimana jika sekarang kita membuat nama sementara untukmu?”

Baekhyun tersenyum kala gadis itu berpandangan penuh tanya terhadapnya. Dia… manis.

“Bagaimana dengan Caroline? Diamond? Ah, tidak! Itu terlalu sulit.” Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Kau cantik seperti batu mulia.” puji lelaki bermarga Byun yang secara otomatis membuat kedua pipi si gadis bersemu. “Aaa…. Krystal! Bagaimana dengan Krystal? Bukankah itu terdengar indah?”

“E-eh?”

Baekhyun tersenyum puas. “Aku akan memanggilmu Krystal mulai sekarang.” katanya. Ia lantas mencubit hidung mancung Krystal一ya, kini itu telah menjadi namanya一dengan gemas. “Lekas sembuh, Krystal-ssi. Aku akan datang lagi nanti.”

***

“Kau gila, ya?”

Chanyeol tertawa mendengar penjelasan Baekhyun sebelumnya. “Kau tahu, Baekhyun-ya? Idemu bahkan lebih konyol dari ide Jongin yang ingin mengadakan naked party setelah wisuda.”

Baekhyun tersenyum hambar. “Aku serius.” ujarnya singkat… dan sungguh-sungguh. Ini pertama kalinya Chanyeol melihat besties-nya seserius ini. Atau mungkin ia saja yang lupa?

Chanyeol agak risau. Dia mengetuk-ngetuk telunjuknya pada meja. “Tapi kenapa? Apa kau tak yakin aku bisa menanganinya?” tanya Chanyeol yang kini tentu saja sama seriusnya dengan pemuda Byun. “Dia pasienku.”

Baekhyun membenahi posisi dasinya yang agak miring sembari berkata, “Aku hanya ingin membantumu, Chanyeol-ya. Lagipula…”

“Lagipula?”

Baekhyun meneguk ludah kala Chanyeol menatapnya penuh tanya. Lelaki jangkung itu seolah hendak memakannya hidup-hidup jika ia tak segera angkat bicara soal alasannya yang tetap kukuh ingin membantu ‘Krystal’ kembali mengingat memorinya.

“Lagipula apa, Baek?”

Baekhyun mengerutkan keningnya, masih bingung harus menjawab seperti apa. “Lagipula…”

“Hm?”

“Aku…”

“Kenapa denganmu?” tanya Chanyeol. Lelaki itu mengambil jas dokter dan memakainya.

“Aku mulai tertarik.” lanjut Baekhyun. Dia merutuk dalam hati, mengetahui bahwa alasan itu benar-benar terdengar aneh. “Maksudku… tertarik pada kasus ini. Kasus yang penuh misteri.” jelasnya dengan ekspresi dibuat-dibuat pada kata terakhir.

Chanyeol mengedikkan bahunya. “Terserah kau sajalah. Asal kau tidak tertarik pada pasienku saja.”

***

Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Pupil matanya masih belum terbiasa dengan terang sinar mentari pagi. Sama dengan nama baru yang diberikan untuknya.

Krystal.

Terdengar asing di telinganya. Sama seperti Byun Baekhyun. Wajahnya begitu asing. Tapi, meski begitu, Krystal merasa bahwa Baekhyun mampu dipercayai. Dia tidak sedang mendustainya…

Tapi…

Krystal tidak butuh belas kasihan dari orang lain.

“Bangun pagi-pagi sekali, nona?” manis suara wanita memanjakan telinganya. Krystal segera menegakkan posisi duduknya, gadis itu memeluk lututnya. “Jangan tegang begitu.”

Suster itu mendekat dan mencek keadaan Krystal dengan alat yang ia tak tahu apa. Suster tersebut lantas tersenyum simpul. “Aku pikir kau sudah baikan. Kondisi kesehatanmu sudah lebih baik dibanding hari yang telah lalu.” katanya. Krystal tak bereaksi, bahkan tersenyumpun ia enggan. Hal tersebut lantas membuat Luna mengelus punggung Krystal dengan lembut. “Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?”

Mata Krystal menerawang ke luar jendela dengan nanar. Samar terlihat bahwa bibirnya bergetar. “Suster Park…” lirihnya. Luna menatap gadis cantik itu iba. Raut lelah bercampur pucat terlihat jelas dari sana. “Meski aku tak punya tempat untuk kembali, tapi… aku ingin pulang…”

Lisan itu sedang berkata jujur. Perasaan Luna semakin mengiba mendengarnya, apalagi ketika melihat tetes air mata menyusul membasahi pipi Krystal. Wanita itu lantas memeluk pasiennya dengan hangat. Ia berusaha menenangkannya walau ia tahu itu takkan membantu sama sekali.

Batinnya sakit…

***

Krystal meringis ketika jarum suntik kembali menusuk kulit dekat pergelangan tangan kanannya. Luna baru saja mengganti cairan infusnya yang telah habis.

“Apa terasa sakit?” tanya Luna khawatir. Krystal hanya menggeleng sekilas. Meski bibirnya ingin mengucap sepatah kata, ia masih mengurungkan niatnya.

“Nona, keadaan fisikmu sudah pulih dan hampir mendekati kondisi fit total. Ini bagus.” jelas Chanyeol yang tadinya sibuk berkutat dengan laporan yang dibawa Luna.

Usai lelaki jangkung itu berkata-kata, pintu ruang inap tiba-tiba bergeser menampilkan sesosok lelaki berperawakan ideal. Terlihat dewasa dengan setelan yang ia kenakan namun secara bersamaan terlihat kekanakan dengan senyuman di wajahnya. Byun Baekhyun.

Chanyeol menggerakkan bingkai kacamatanya pelan melihat sosok yang tentu saja tak asing baginya itu. “Baek?”

Baekhyun tersenyum. Ia mengangkat tangannya, namun tak mengucap kata apapun terhadap ujaran Chanyeol.

Melihat kondisi di mana ia tidak memiliki kewajiban untuk berada di ruangan tersebut terus-menerus, Luna bersegera untuk pergi dengan membawa infus kosong Krystal. Ia merendahkan pandangannya dengan sopan dari Baekhyun.

“Krystal-ssi.”

Kedua sorot mata yang lain menatap Baekhyun bersamaan. Yang satu dengan pandangan bingung, dan yang satu lagi berekspresi… agak kaget. Baekhyun sontak mengerutkan keningnya. “Apa yang salah?”

Chanyeol memicingkan matanya. “Kau memanggilnya… apa?”

“Krystal.” jawab pemuda bermata almond. “Apa nama pemberianku terdengar aneh?”

Pemuda lain yang lebih jangkung tersenyum memaksa. “Tidak.”

“Aku yang salah dengar atau memang kau berkata bahwa Krystal sudah pulih?”

“Tidak… aku memang baru saja mengatakannya.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan menepati janjiku.” tutup Baekhyun dengan senyum tipis. Sementara Krystal, gadis itu masing terlalu bingung untuk merespon perkataan Baekhyun. Terlalu banyak hal yang tak ia mengerti hingga ia merasa bertanyapun rasanya sia-sia.

***

Setelah melalui perdebatan cukup alot dengan sahabatnya sendiri一Chanyeol, Baekhyun akhirnya mampu membujuk Chanyeol untuk memberi izin padanya untuk membawa Krystal refreshing. Lelaki itu duduk di hamparan rumput luas yang posisinya tentu saja masih berada di kawasan rumah sakit. Di depannya terbentang anak sungai Han. Dan di sampingnya, Krystal duduk di atas kursi roda. Gadis itu masih bergelut dalam pikirannya. Pikiran yang bahkan Baekhyun-pun tak bisa menebak.

“Krystal-ssi, kau tidak apa-apa, kan?” tanya Baekhyun. Bukannya mendapat jawaban yang ia inginkan, Krystal malah mengutarakan pertanyaan lain pada lelaki di sampingnya.

“Kenapa kau melakukan ini semua?” tanyanya datar tanpa sudi untuk menyelami mata almond Baekhyun sekalipun. “Dokter Park mengatakan kau adalah CEO rumah sakit ini, kan? Tapi kenapa kau memerdulikanku? Seseorang yang mengingat jati dirinya saja tidak.”

Baekhyun tersenyum simpul, “Kau tahu? Sungai kecil yang berada di hadapan kita ini adalah anak sungai Han一”

“Aku bertanya padamu, Byun-sajangnim!” sentak Krystal. Wajahnya memerah menahan amarah, mungkin ini pertama kalinya bagi ia untuk marah setelah bangun dari koma. Mata kelam yang tadinya menolak untuk bertemu pandang kini balik menatap mata Baekhyun dengan sengit. Baekhyun tahu, Krystal sedang menuntutnya untuk berbicara jujur. Tapi, yang tak ia tahu adalah… ia tak tahu harus menjawab apa.

“Aku ingin membantumu.” ujar Baekhyun lembut.

“Aku tidak butuh empatimu!” seru Krystal kasar. “Aku tidak ingin hidup dalam belas kasihan orang lain.”

“Dengarkan aku dahulu…” pinta Baekhyun. Ia memegang kursi roda Krystal, sementara si pengguna memalingkan pandangan darinya. “Kau tahu apa yang terjadi sehingga kau harus terbaring di rumah sakit selama beberapa minggu?”

Baekhyun menghela nafas cukup panjang, hingga akhirnya ia melanjutkan. “Kau terlibat dalam kecelakaan maut. Berdasar laporan dari kepolisian, kepalamu membentur trotoar, karenanya kau amnesia hingga detik ini. Tapi, kau tahu? Bukan hanya kau korban dari kecelakaan ini. Seorang lelaki bernama Oh Sehun, direktur muda dari salah satu perusahaan penerbangan swasta Kota Seoul meninggal karena kecelakaan itu. Apa kau… mengenalnya?”

Oh Sehun…..

Oh Sehun….

Oh Sehun…

Oh Sehun..

Oh Sehun.

Oh Sehun?

Kenapa nama itu tak terdengar asing bagi Krystal? Krystal rasa ia tahu nama itu. Bukan, bukan hanya tahu… namun ia juga mengenali sang pemilik nama. Tapi kenapa sulit baginya untuk mengingat siapa Oh Sehun baginya?

“Soojung-ah… Soojungie?”

Krystal spontan mendelik ketika bola mata kelamnya melihat sosok seorang lelaki yang sedang tersenyum padanya samar. Terlihat maya bagai pantulan cahaya di lensa cekung. Ia bersinar, begitu memekakkan mata Krystal.

“Soojung-ah.” bibir lelaki itu bergerak mengucap nama seseorang.

Soojung?

Siapa Soojung?

Dan, siapa lelaki itu?

“Aku merindukanmu, Soojungie.”

“Sampai kapan akan memelukku?”

“Selamanya.”

“Dasar menyebalkan.”

“…”

“Soojungie.”

“Hm?”

“Ayo pergi kencan!”

“…”

“Kau menyukainya?”

“Terima kasih. Aku sangat menyukainya, Oh Sehunnie.”

Tiba-tiba kepingan masa lalu itu kembali mengisi ruang kosong yang pernah ditinggalkan. Krystal menjerit, ia tak mampu menahan dera sakit yang amat sangat, rasanya tempurung kepalanya hampir pecah karena berusaha mengingat nama yang sesungguhnya tak asing baginya itu.

“Krystal-ssi!” teriakan khawatir Baekhyun tak mampu didengar Krystal. Sakit kepalanya seolah mampu menyihir panca indera-nya sehingga tak mampu berfungsi lagi.

Di kala vertigo mulai menyergap kepalanya, sang gadis berambut brunette bisa melihat dengan jelas kenangan akhir kala ia dan Oh Sehun menikmati desir angin tepi Sungai Han. Semuanya begitu nyata… dan memusingkan. Hingga akhirnya, ia tak dapat menahannya dan jatuh pingsan. Pada lengan Baekhyun.

***

“Inilah alasan kenapa aku tadinya tak mengizinkanmu untuk melakukan ini semua, Baekhyun-ya.”

Park Chanyeol memindahkan posisi penyangga stetoskop pada daerah lehernya. Ia sekilas dapat melihat kilat penyesalan dalam mata Baekhyun. Lelaki yang kini sedang duduk dan memandangi gadis yang terbaring lemah di matras rumah sakit. “Masih riskan jika kau mengorek masa lalunya. Sengatan mental bisa berpengaruh pada kondisi fisiknya, seperti saat ini.” lanjut Chanyeol.

Baekhyun menghela nafas. Bagaimanapun, ia tetap merasa bahwa ini semua salahnya. Mungkin benar apa kata Chanyeol, niatnya memang baik untuk membantu Krystal namun sayangnya aksi yang ia ambil terlalu terburu-buru. “Maafkan aku.” ungkapnya. “Salahku karena tak mematangkan pikiranku. Aku terlalu pendek berpikir, bertindak seolah apa yang ku lakukan takkan berdampak negatif.”

It’s okay. Dia sudah berada dalam pengawasanku sekarang. Ia akan baik-baik saja, percayalah.” kata Chanyeol sembari menepuk pundak Baekhyun.

Baekhyun memutar posisi duduknya agar dapat melihat Chanyeol. “Kau tahu, Chanyeol-ya?”

Pemuda yang lebih jangkung mengernyitkan keningnya. “Apa?”

“Tadi, ia bersikeras tak mau dikasihani. Tak mau mendapat empati. Padahal, aku bisa menyelami matanya yang butuh pertolongan. Dia butuh tangan orang lain, namun harga dirinya begitu tinggi.”

Chanyeol tertawa. “Kadang aku tak mengerti kenapa takdir menjadikanmu sebagai CEO. Kau lebih pantas menjadi pujangga asal kau tahu. Atau… kau merayu para klien dengan buaian konyol seperti itu?”

Baekhyun hanya tersenyum tipis. Tidak membantah maupun mengiyakan. Ia berbalik melihat Krystal yang masih terlelap akibat pingsan. Perhatiannya tercuri ketika kedua mata Krystal terlihat berkedip, walau tak sampai terbuka, hanya bergerak sekilas. “Chanyeol-ya! Kemarilah!”

Tanpa banyak tanya, Chanyeol segera melihat keadaan Krystal. Dan tepat, setelah Chanyeol mendekat, Krystal telah sadar. Matanya membuka walau masih sedikit memburam. Kepalanya masih pening. Sekujur tubuhnya masih lemas.

Drrt Drrt

Belum sempat menyambut gadis di hadapannya, ponsel Baekhyun bergetar. “Maaf, aku harus ke luar sebentar.” pamitnya lantas berdiri dari posisi duduknya. “Senang melihat kau sudah sadar, Krystal-ssi.” ia kemudian hilang di balik pintu.

Gadis bermata kelam agak kecewa mendengar apa yang dikatakan oleh Baekhyun. Sejujurnya, ia tak mengerti pula kenapa harus ia kecewa.

Chanyeol satu-satunya lelaki yang masih tersisa di sana. Usai memeriksa kondisi sang gadis pasiennya dengan stetoskop, ia lantas tersenyum. “Sudah membaik.”

Ia tersenyum gamang. “Dokter Park…” lirihnya yang berhasil membuat Chanyeol memalingkan seluruh perhatian kepadanya. “Aku… aku… mengingat semuanya.”

Ekspresi datar Chanyeol bermetamorfosa menjadi raut terkejut dengan seketika. Hanya karena satu kalimat yang dilontarkan seorang di hadapannya.

***

Baekhyun hanya memandang kedua orang di hadapannya一dokter dan pasiennya一dengan pandangan tidak mengerti. Keduanya menatap pemuda bermarga Byun seolah ingin menjelaskan sesuatu yang begitu sulit untuk dijabarkan.

Yang Baekhyun ingat adalah ia keluar dari kamar rawat Krystal tidak lebih dari tiga menit untuk membaca pesan singkat dari sekretaris-nya. Dan boom, ada apa gerangan?

“Kenapa kalian memandangku begitu?” tanya Baekhyun tak paham. Ia mengurungkan niatnya untuk mendekat, ia menempelkan punggungnya pada pintu geser ruangan.

“Tidak.” dalih Chanyeol.

Walau masih menyimpan sejumlah kecurigaan, Baekhyun mengabaikannya. Ia lantas berjalan mendekat pada Krystal yang masih terkulai lemas di atas matras rumah sakit. “Krystal-ssi… aku mohon maaf. Karenaku kau seperti ini. Aku sungguh tidak bermaksud.” jelasnya. Agak kecewa ketika Krystal merapatkan selimutnya. “Ah. Chanyeol-ya… aku harus pergi. Akan ada rapat satu jam dari sekarang. Annyeong.”

Chanyeol mengangguk pelan, sementara Baekhyun dengan berat hati beringsut meninggalkan ruangan. Hingga tiba saatnya tangan halus seseorang menyentuh pergelangan tangannya, menahannya untuk pergi.

Baekhyun membalikkan badan. Itu tangan Krystal.

“Baekhyun-ssi… bisakah seusai rapat kau… ke sini?” tanya Krystal dengan suara menggigil.

Baekhyun hanya mengangguk meyakinkan. Ia mengelus tangan Krystal dan perlahan melepaskan tangan itu dari pergelangan tangannya. “Aku akan datang… aku janji.”

***

Harum ginkgo terasa begitu menyengat indera penciuman. Saat yang bersamaan, remah-remah daun dari sederet pohon ginkgo yang meranggas terbawa angin, menutupi permukaan aspal. Cukup tebal, membuat udara terasa cukup dingin.

Angin yang berperan dominan pada pepohonan ginkgo, nyatanya juga memberi efek serupa pada ia. Ia yang menangisi seseorang yang kini tak lagi berada di dunia. Seorang yang terbaring dengan damai di dalam tanah berhias batu marmer itu. Gadis itu tidak meraung, hanya saja pedih hatinya tetap tak mampu dibendung oleh air mata, larut dalam pahit-manis masa lalu yang ia jalani.

Semua itu merujuk padanya.

Ia yang kini sedang duduk di atas kursi roda tahu, jika Sehun tidak mengorbankan dirinya, ia takkan ada lagi di atas bumi. Umurnya akan berhenti di situ. Tapi, Tuhan memberinya kesempatan melalui Sehun.

Walau berada dalam dunia yang berbeda, ia tahu Oh Sehun akan tetap berada di sini… di dekatnya… di hatinya, sebagai ruh dan wujud cinta yang nyata.

Oh Sehun adalah malaikat pelindungnya. And, forever He will be.

“Oh Sehoon… Sehun-goon… thanks for everything you gave me. I’ll pay your sacrifice by living well. I promise, Sehunnie… I love you..”

***

“Terima kasih…” bisiknya lirih. Bahkan lebih lirih dibanding desir angin yang menyapu rambut brunette-nya. Rasa terima kasih memang layak untuk lelaki di sampingnya, tanpa Byun Baekhyun mungkin ia akan perlu waktu cukup lama untuk mengembalikan jati dirinya.

“Itu bukan apa-apa, Kry一ah, maksudku… Soojung.” ralat Baekhyun. Terdengar agak canggung, entah kenapa.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum indah. “Kau boleh memanggilku Krystal, atau apa saja yang membuatmu nyaman untuk memanggilku, Byun-sajangnim.” gelak Soojung. Kesedihan yang semula begitu dalam saat Baekhyun mengantarnya menuju peristirahatan terakhir Oh Sehun一kekasihnya dan selamanya akan tetap begitu一kini berkurang. Layaknya pelangi yang muncul usai badai, mungkin seperti itulah bila saat ini apa yang ia rasakan diibaratkan.

Baekhyun membetulkan kerah kemejanya sambil terkikik. “Kalau begitu, boleh aku memanggilmu Krystal jelek, kan?” tanyanya dengan seringai usil. Soojung spontan memukul pantat pemuda bermarga Byun agak keras.

“Dasar Baekhyun sipit!”

*** THE END ***

– EPILOG –

“Pesawat penerbangan dengan penerbangan JF528 tujuan Tokyo akan segera take-off. Dimohon penumpang segera memasuki boarding area. Terima kasih.”

Seorang wanita berpakaian tertutup layaknya biarawati mendorong trolley-nya pelan. Cukup berat rasanya. Ia berhenti sejenak dan melihat jam tangan yang ia kenakan.

Masih 15 menit lagi, ia membatin.

Hampir saja ia berjalan jika tangan mungil seorang bocah tak memeluk kakinya yang disembunyikan oleh rok kebiruan.

“Soojung-ahjumma…” panggilnya. Soojung tersenyum sekilas dan membalikkan tubuhnya.

“Collin?” Soojung menggendongnya dan menciumi pipi anak lelaki itu dengan gemas. “Di mana orangtuamu, hng?”

“Ehem!”

Soojung memperluas pandangannya hingga bertemu pandang dengan bola mata almond milik seorang pria. Masih sama, bahkan jika dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Tidak berubah.

“Byun-sajangnim?”

Baekhyun membalas senyum Soojung. Ia lantas berjalan mendekat sesuai irama sepatu yang ia kenakan. “Collin merindukanmu. Ia terlalu bersemangat, bahkan ia ikut dengan mobilku, bukan mobil orangtuanya.”

Pipi Soojung merona. Ia meluruskan matanya pada mata bulat Collin. “Benarkah itu, Collin-ya?” sementara bocah kecil itu mengangguk polos.

“Kau sudah memikirkan hal ini masak-masak, Krystal?” kali ini Baekhyun mengambil alih pembicaraan.

Soojung mengulas senyum tipis. “Kau sudah menanyakan hal itu lima kali sejak kemarin, Baekhyun-ya.” ujarnya. “Aku ingin menjadi pelayan Tuhan. Aku tidak ingin mengecewakan Suster Choi yang telah berjuang mati-matian untuk kepergianku ke Vatikan.”

Pemuda bermarga Byun agak kecewa. “Kau keras kepala.” katanya getir. “Jika kau tetap di Seoul, aku akan menikahimu. Kau tahu, bukanlah sebuah rahasia lagi bahwa aku menyukaimu.”

Soojung menggeleng lembut. Ia perlahan menurunkan Collin dari gendongannya. “Bukan itu. Bukan karena keras kepala. Ini sebuah tanggung jawab, aku yakin kau lebih paham akan hal itu dibanding aku sendiri. Maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu, Baekhyun-ssi. Terima kasih atas segala hal yang kau lakukan untukku. Tapi, aku tidak bisa.”

Baekhyun menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Sudah tiga kali kau menolak pernyataan cintaku. Aku pikir aku akan patah hati sekarang.” candanya. “Baiklah, itu pilihanmu. Jaga dirimu baik-baik, biarawati.”

Soojung tersenyum kala Baekhyun mengelus kepalanya yang tertutupi penutup rambut.

Biarawati mungkin memang terdengar gila. Tapi, seperti kata Byun Baekhyun, itu adalah suara yang ia pilih. Mendiang kekasihnya, Oh Sehoon menyadarkannya bahwa ia masih hidup hingga detik ini adalah karena berkat Tuhan. Waktu yang telah terputar kembali, semuanya karena Tuhan. Sudah selayaknya bagi ia untuk menyerahkan dirinya untuk melayani Tuhan, mencari ketenangan batin yang sesungguhnya.

Menjadi orang religius memang bukan keinginan awal baginya, tapi ini telah menjadi perwujudan akhir. Berdiam diri menjadi biarawati selama 4,5 tahun terakhir di gereja Kota Seoul telah merubah dirinya. Dan Soojung, ia tahu resikonya. Tidak menikah tidak apa-apa baginya, sebab semenjak Sehun pergi harapan itu pupus一walau Byun Baekhyun selalu ada di sampingnya ketika ia butuh atau sedang ada dalam masalah.

“Soojung!”

Soojung terenyuh kala melihat Luna dari jarak 10 meter meneriakkan namanya dan berlari membawanya dalam pelukan. “Luna-ya.”

Luna merenggangkan pelukannya. Ia kemudian mengelus pipi Soojung. “Kau kurusan.”

Soojung tertawa kecil. “Bukan apa-apa. Aku sibuk menghafalkan doa dan bahasa Italia.”

“Kau harus bahagia.” Luna menepuk pelan pundak Soojung, sementara ia hanya mengangguk.

Luna agak terkejut ketika Collin menarik-narik celananya. “Mum, di mana Dad?”

Dad sedang mengurus mobilnya. Dia selalu punya masalah di parkiran.” jawab Luna lalu membawa Collin, puteranya dalam gendongannya.

“Kebiasaan sejak muda Chanyeol rupanya belum berhenti.” Baekhyun geleng-geleng kepala.

“Hey!” sepersekian detik seorang lelaki jangkung melambaikan tangannya pada Soojung. Itu Park Chanyeol.

“Ya, kau terlambat, jerapah!” sindir Baekhyun yang berbuah jitakan dari Chanyeol. “Ish!”

“Soojung, jam berapa kau take-off?” tanya Chanyeol dengan nafas agak terengah.

“Pukul 10. Sebentar lagi.” jawab Soojung. “Terima kasih kalian telah repot-repot mengantarku. Aku berjanji akan mengirim surat untuk kalian一walau aku yakin tak mungkin sering kulakukan. Aku sayang kalian, kalian sahabat-sahabatku sejak lima tahun terakhir. Aku tak memiliki kerabat lain yang tersisa di Seoul, hanya kalian.”

“Berhenti membuatku menangis, Soojungie!” keluh Luna. Ia menghapus air mata yang turun berbalapan dari pelupuk matanya dengan telapak tangannya. Sementara Chanyeol, ia menepuk punggung istrinya, berusaha menenangkannya.

“Kalian harus hidup dengan baik.” pesan Soojung kemudian tersenyum simpul.

“Kau yang harusnya begitu.” balas Baekhyun dengan senyuman.

“Oke, aku janji akan pergi ke Vatikan jika tiba saatnya bersama Luna dan Collin一oke, Baekhyun juga. Jika saat itu tiba, kami akan pergi ke gereja tempat kau menjadi pelayan Tuhan.”

Soojung mengangguk menanggapi perkataan Chanyeol. Ia tahu Park Chanyeol adalah tipikal lelaki yang akan memenuhi janjinya, walau butuh waktu yang lama untuk itu.

Perhatian.. Pesawat dengan penerbangan nomor ER416 tujuan Roma akan segera Take-Off. Dimohon semua penumpang segera memasuki boarding area. Terima kasih.

“Baik, saatnya untuk berpisah. Arrivederci (selamat tinggal).” Soojung membungkukkan badannya, meninggalkan keempat orang yang memiliki arti banyak baginya. Ia mulai mendorong trolley-nya pelan. Perasaannya terlalu campur aduk untuk dijabarkan. Hanya setetes air mata yang mampu menjelaskannya, meski itu masih ambigu.

“Biarkan aku membantumu.” Baekhyun merebut trolley-nya. “Aku akan mengantarmu sampai boarding area.”

“Terima kasih.”

Mereka berdua hanya diam di antara banyak orang yang berlalu-lalang. Tak ada seorangpun yang membuka pembicaraan hingga akhirnya mereka tiba di boarding area. “Terima kasih, Byun-sajangnim.”

“Aku selalu benci ketika kau memanggilku begitu.” aku Baekhyun. “Well, have a safe flight!”

Sang biarawati mengangguk. Dan mulai meninggalkan Baekhyun selangkah demi selangkah.

“Krystal!”

Soojung menoleh kala Baekhyun memanggilnya dengan nama yang lelaki itu karangkan ketika ia amnesia. Kenangan itu kembali berulang, membuat matanya kembali sembab, tertutupi oleh air mata yang siap jatuh kapan saja.

Listen to me! Please use ‘Krystal’ if They ask your name. Get it?” teriak Baekhyun. Ia tak peduli meski logat Korea-nya terdengar begitu kental di telinga para turis yang berlalu lalang. Yang ia sadari adalah Krystal, gadis cemerlang itu tersenyum dengan air mata mengaliri tulang pipinya. Bibir tipisnya bergerak tanpa kata, dan Baekhyun tahu apa yang ia isyaratkan.

I will do it. I promise.”

THE END

P/S :

Huaaaa. Ini fanfik kenang-kenangan sekaligus pertanda kombek saya \m/

Apa menurut kalian plot di sini antiklimaks? Epilognya absurd?

Tolong kemukakan pendapatnya ya?🙂

Oh iya, soal epilog, aku rada gedeg juga sih sebenernya. Abisan tiba-tiba teringat sama Go Minam xD Dan yaa jadilah epilog absurd ala saya /ketawa garing/

Betewe, thanks for reading! Reviews are appreciated.

20 comments on “[Chapter 2] Back in Time

  1. First?😄
    Aku nunggu2 ff ini lhoooo! Setiap hari aku ngecek, dan untunglah hari ini sudah di update😄
    Well, ini melenceng dari perkiraanku ._____. Aku kira Krys sama Baek nantinya >____< ternyata dia milih jadi biarawati -___-" tapi keren sih ceritanya😄 sayang si Sehun cuma muncul sekilas. Dan kembalinya ingatan Krys itu cukup cepat ya .____. Padahal kan dia baru di sana. Tapi gapapa sih, suka2 kamu aja yg nulis cerita😄
    Oh ya, aku follow twitter kamu tadi, uname ku moryeong9, follow back ya😉

    • Makasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk komen🙂
      Aduh aku jadi terharu, makasih lho untuk dedikasinya T^T Maaf kalau jadinya mengecewakan, soalnya aku pengen banget bikin plot twist (and u know it’s failed -_-)
      Iya nih aku kurang memaksimalkan peran si Sehun, harusnya aku bisa lebih ‘maksa’ Sehun untuk keluar tapi ya ginilah bebalnya otak -_-‘
      Maaf, twitternya sudah saya folbek tapi telat ngasih taunya :v

  2. Kak ellaa😀 akhirnya bisa baca ini😄 hehe..
    pertama, apa cuman aku yaa yang ngerasa agak kurang dibagian endingnya? .__. agak kurang sinkron sama greget gitu lho kak TT terus pairingnya..
    err…kalau aku sih (maaf) suka sama chapter pertamanya malah.. rasa nggregetnya megang banget .__. ah tapi itu mungkin cuman perasaanku aja sih..

    dan aku ga bisa bayangin si Kle jadi biarawati ;AA; terus Baek akhirnya sama siapa? ngga mungkin sama Chanyeol kan? =.= ini udah cukup panjang sih kak, terus apdetnya juga cepet😄 Kak Ella tipe-tipe orang yang ngga bisa buat long chapter ya kak? ._.

    tapi aku suka sama gaya bahasanya kakak😀 keren, simple, berwarna, manis gitu :3 oh ya, aku belum menemukan antiklimaks deh kak…. aduh maafkan saya (/.\) tapi secara keseluruhan udah manis kok kak :3

    Sekian🙂 maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan u,u ditunggu fic selanjutnya ya kak😄

    • Halo, Zuky… aku baru bisa baca komenmu hari ini beh T^T
      No no, bukan hanya kamu saja yang berpikir demikian. I think so. Ini niatnya mau bikin plot twist tapi… (lanjutkan sendiri -_-)

      Baekhyun sama siapa, yak? Dia ngejomblo seumur hidup :B Hell yeah, u got it! Aku bukan tipikal orang yang bisa nulis panjang-panjang xD Dan kalo chaptered ya gini deh hasilnya T_T

      Makasih Zu :B Makasih ya udah bilang (gaya bahasa) aku simple, manis, berwarna :B /cubit pantat/

      It’s okay. Saya menghormati concrit kok. Makasih ya sudah ngomen😀

  3. Ahhh keren kok!!! tetap setia sama sehun sampai akhir :” terharu….
    good job!!!

  4. Aku kira endingnya Krystal bakalan sama Baekhyun🙂 Ternyata dia milih buat jadi biarawati ^_^

  5. Jjang!!!
    Ane kira krystal sama baekhyun..
    Rupanya enggak,,
    setia yaah ital eonnie sama hun oppa😀
    keep writing thor~^^

  6. kereen ffnya, aku suka gaya bahasa/kata-kata yang kakak pake~~ kirain endingnya bakal jadi baek-stal T^T jalan ceritanya menarik punya, dari yang seharusnya sehun yang ditinggal kle malah jadi sebaliknya. aku reader baru disini, blog walking nyari ff kle dan nemu blog ini:) /malah curhat/ aku tunggu ff-nya kakak yang selanjutnya!!

  7. aaaa, EONNI-YA! Udah lama aku nggak kesini, miss miss gimana gitu/? /ditampol xD peace eonni, dateng dateng jejeritan gajelas-_-v

    Eoh eonni, sebenernya aku udah baca ff ini tapi baru komen sekarang, mian ne eonni! Karena waktu itu aku sibuk dan ga sempet buka pc, lalu aku baca ff ini di handphone dan dengan jaringan yang, umm, eonni tahu sendirilah, jadi aku baru bisa komen sekarang, ahh mian ne eonni /bowing

    oke, stop OOT-nya, mari bahas ff ini:3 /apa
    Bener-bener nggak terduga Krystal bakal jadi biarawati, padahal aku sudah dengan PD-nya mengira ini bakalan jadi ff Baekstal-_-
    Walaupun sedikit kecewa, aku seneng juga Kle nggak sama Baekhyun, tapi aku agak kecewa juga eonni, di chapter pertama Sehun udah bisa Back In Time, tapi kenapa di chapter kedua Kle nggak sama Sehun tapi jadi biarawati? Jadi kupikir Back in time-nya sehun itu agak useless gitu, walaupun nggak useless juga:/ hmm ini opini ku aja eonni hehe^^
    Tapi bahasanya bagus, terharu deh, lalu endingnya juga nggak gampang ditebak, JJANG~ Keep going eonni, mian komen panjang-panjang-_- semoga nggak dipotong WordPress ehehe :3, Fighting!

    • Ah, makasih sudah kemari dengan komen yang panjaaaang /peluk/ Ternyata ada ya yg kangen aku? xD /pede/

      It’s okay dear, malah aku yang mohon maaf ke kamu karena aku baru bisa bales T_T Maaf ya T_T

      Hahaha plot twist berjalan dengan lancar~ berhasil ngibulin pembaca yeay😀
      Nah nah, itu yang aku bicarakan sebelumnya dengan kawan-kawan yang ada di atas kamu :3 Aku pikir aku kurang memaksimalkan peran Sehun disini dan terjadilah ‘useless’ seperti apa yang kamu katakan ini. Nggak papa kok, feel free untuk bcara jujur sama aku, toh nanti juga komentarmu bisa membantu aku untuk mengerti apa yang ‘kurang’ dari karyaku, kan? Aku malah berterima kasih sama teman-teman (termasuk kamu) yang sudah memberi aku concrit🙂

      Alhamdulillah nggak dipotong wp, makasih ya dear🙂

  8. Ah, part duanya.. Keren..
    Beneran, aku kira Krystal bakalan jadian sama Baekhyun. Terus collin itu anaknya Luna sama chanyeol, bukan? Ngehahaha, maaf thor, rada gak ngerti. Epilognya bagus. Krystal pergi ke Vatikan T.T
    Ingatan Krystal kembalinya cepat banget ya, thor?😄 Tapi, gpp. Ini asli keren! Aku suka!!!~

    Oiya Thor, di tunggu combacknya ya!? Jangan lama-lama combacknya ya, hehe😀
    Good Job Thor!!!!

    • Thanks.
      Ngahaha nggak kan ternyata? Plot twist! Yap, Collin itu anaknya Luna & Chanyeol🙂
      Nah itulah yang aku pikir plot hole dari fanfik ini harap dimaklumi ya T_T

      Oke, ditunggu saja, tapi sayang banget bulan ini hingga Juni author bakal sibuk banget… calon mahasiswi wkwk

  9. Kirain pertama endingnya gomana gitu/emangnya gimana?
    Tapi bahagia ngak sia-sia sehun meninggal tetapi tetap kasian same si baek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: