23 Komentar

[Chapter 1] Back in Time

backintime-kakella

Title : Back in Time

Author : ellaverina96

                                                                                         

Main Casts :

  • Oh Sehoon [Sehun] (EXO-K)
  • Jung Soojung [Krystal] (f(x))
  • Byun Baekhyun (EXO-K)

Cameos :

  • Park Chanyeol (EXO-K)
  • Park Sunyoung [Luna] (f(x))

Pairing : Temukan sendiri :*

Rating : PG-15.

Genre : Hurt/Comfort | Romance.

Length : Double-shot/Two-shots [1/2]

Summary :

Kedua mata Sehun spontan terbelalak ketika melihat seorang yang ia rindukan telah berada di hadapannya. Dengan tenaga yang masih ia miliki, tangannya menjangkau kalender yang menempel di pintu kulkas. Ia terkejut bukan kepalang ketika penanggalan tersebut menunjukkan hari yang tak seharusnya. ‘Bagaimana mungkin… kenapa aku bisa kembali ke satu tahun yang lalu?’

A/N :

Special thanks untuk Szena yang udah meluangkan waktu untuk memberi pencerahan tentang cerita ini. Ini juga sebagai kado perpisahan kita😦 Semoga kamu mendapat kehidupan yang lebih baik di Hadramaut, Yaman. Keep smile, Szena-ya!^-^ Makasih juga buat Mizu yg udah nyempetin bikinin poster mumumu :*

oOo

“… kenapa kau tidak datang?”

“… kau akan pergi lagi?”

“… sebenarnya, bagimu aku ini apa?”

“… kau tidak mencintaiku? Kau lebih mencintai pekerjaanmu dibanding aku.”

“… aku benci kau, Oh Sehun! Aku benci mencintaimu.”

***

Bulir keringat membasahi kening pemuda itu kala mimpi buruk tersebut kembali datang. Bukan sekedar mimpi, namun juga serpihan kisah lalu yang hingga kini masih meninggalkan perih teramat sangat.

Kening Sehun bertaut, kedua matanya berkaca-kaca, namun ia tak lantas menangis. Oh, lihat! Bahkan air matanya sendiri tak sudi lagi untuk mengalir dan memberi perasaan lega padanya.

Ia masih bisa mengingatnya, mimpi itu.

Ia bertengkar hebat dengan gadis itu一gadis yang sesungguhnya amat ia cintai一dengan alasan tertolol yang pernah ia kemukakan, pekerjaan. Pekerjaan yang sebenarnya bisa saja ia tinggalkan andai saja ia berpikir jernih. Hanya saja, emosi dan ego terlanjur membuatnya berpikiran dangkal hingga tanpa sengaja menyakiti hati gadisnya… Soojung.

“… aku tidak perlu uangmu, Oh Sehun. Tidak juga jabatan yang kau duduki saat ini. Aku hanya butuh waktu. Waktu lebih berarti dari apapun, ketika ia bergulir semuanya tidak akan kembali. Jadi, apa aku salah jika aku menginginkan waktumu untukku? Apa tidak bisa meski sedikit saja?”

Ia merasa telah menjadi pendosa besar ketika saat itu ia malah pergi dari hadapan gadisnya yang tengah menangis. Hingga alam mimpi itu memburam dan memproyeksikan kecelakaan yang dialami Soojung. Kejadian yang akhirnya merenggut nyawa gadis itu.

Sehun meninjukan tangannya yang entah sejak kapan telah terkepal pada dinding. Sehun tahu itu bukan sekedar mimpi. Itu nyata. Sejak setahun yang lalu一hingga kini, Sehun benar-benar kehilangan Soojung untuk selamanya.

Soojung benar… ketika waktu telah bergulir ia takkan pernah berputar balik. Waktu tidak akan kembali meski ia bersimpuh dengan sungguh-sungguh di gereja bahkan walau ia menangis darah sekalipun. Semuanya sudah terlambat. Ketololannya menang.

Masih pantaskah ia untuk menyesal?

***

Sehun memandang datar meja kerjanya yang telah rapi. Mungkin Yoona一sekretarisnya一yang sudah membersihkannya. Sebab, seingat Sehun kemarin mejanya sangat kotor, dokumen berserakan dimana saja, tapi sekarang semuanya sudah kembali ke tempatnya.

Tanpa sengaja mata Sehun menangkap keberadaan kalender.

9 Desember 2012.

Air muka Sehun mengeras. Angannya kembali memutar bayang gadis itu, sekali lagi bagai kepingan kaset lama.

‘Kenapa kejadian setahun lalu selalu menghantuiku?’ batin Sehun sembari memijit keningnya sendiri. Semuanya terasa berat, ia seakan dipaksa untuk memikul beban sendiri. Tak ada tempat untuk bersandar.

Ia membuka laci meja dan meraih sebingkai foto, lantas memeluknya erat.

I miss you so bad, Soojungie.”

***

Sehun masih tertidur di balik selimut ketika bel apartemennya berbunyi. Intensitas bunyi yang begitu keras mau tak mau membuat lelaki itu bangun dengan sempoyongan.

“Sabar!” teriaknya, namun tak berguna, orang di luar sana malah menekan bel berkali-kali, membuat kebisingan di pagi tenang bagi Sehun. “Brengsek!” umpat Sehun lalu berlari secepat mungkin untuk membuka pintu.

KRIET!

Kedua mata Sehun spontan terbelalak ketika melihat seorang yang ia rindukan telah berada di hadapannya. Gadis itu berdiri di sana, dengan senyum merekah bagai bunga sakura.

“K-kau一” gumam Sehun terkejut. Ia bahkan tak bisa melanjutkan perkataannya lagi. Dengan tenaga yang masih ia miliki, tangannya menjangkau kalender yang menempel di pintu kulkas yang letaknya tak jauh dari pintu. Ia terkejut bukan kepalang ketika penanggalan tersebut menunjukkan hari yang tak seharusnya.

7 Desember 2011.

‘Bagaimana mungkin… kenapa aku bisa kembali ke satu tahun yang lalu?’ batinnya. Akal sehatnya masih belum bisa menerima hal yang terjadi di hadapannya. Ia tak mengerti.

Sehun memijit keningnya lamat-lamat, berharap ‘mimpi’-nya dapat berakhir. Andaikan ia wanita, ia pasti akan pingsan jika mendapati hal seperti ini terjadi. Karena… ini bukan negeri dongeng, ini dunia nyata.

“Sehun-goon… kau kenapa?”

Suara itu…

“Soojungie.” gumam Sehun. Lelaki itu menatap gadis di hadapannya dengan mata yang memburam. Ekspresi khawatir Soojung begitu nyata… bolehkah ia menyimpulkan bahwa ini realita?

Gadis itu berjalan mendekati Sehun, “Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya ramah.

Sehun tak lagi dapat menahan kerinduan mendalamnya, ia lantas memeluk gadis itu erat. Sangat erat. Bahkan ia menitikkan air mata karenanya, air mata kebahagiaan.

Ini Soojung. Ini benar-benar Jung Soojung. Bukan ilusi.

“Aku merindukanmu, Soojungie.” bisik Sehun penuh emosi.

Air wajah Soojung yang sebelumnya tak mengerti, kini melembut. Ia mengelus punggung Sehun sambil menepuk-nepuknya pelan. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, setidaknya ia merasa tersanjung telah dicintai Sehun. Pelukan erat itu yang membuktikannya. “Sampai kapan akan memelukku?”

“Selamanya.”

“Dasar menyebalkan.” Soojung tertawa kecil, namun tak melawan. Ia membiarkan Sehun memeluknya… bahkan meski untuk selamanya ia tak apa.

Sederhana, karena Soojung mencintainya.

***

“Aku membawakanmu setoples cookies.”

Sehun menatap setoples kue coklat yang disodorkan oleh Soojung. Ia mengambilnya dan memeluknya seperti anak kecil yang tak ingin kehilangan mainan miliknya. “Aku akan menghabiskannya, kau bisa memastikannya.”

Soojung tersenyum, “Kenapa hari ini kau begitu aneh?” tanyanya sedikit penasaran.

Sehun terdiam. Ia kembali terpikir oleh kekuatan magis apa yang membuat waktu bisa mengembalikan Soojung ke sisinya.

“Sehunnie?”

Terkejut dari lamunannya, Sehun menatap Soojung dengan kening bertaut, “Hari ini… tanggal berapa?”

Soojung balik mengernyit, ia meluruskan pandangannya pada Sehun hingga ujung hidung kedua pasangan itu bersentuhan. “Sejak kapan perfeksionis sepertimu melupakan waktu? Hari ini… 7 Desember 2011.”

Sedikit menyembunyikan rasa terkejutnya, Sehun menutup sepasang matanya, “Aku tahu ini 7 Desember. Aku hanya mengetes nona ceroboh sepertimu ini, saja.” ejeknya yang tentu saja membuat Soojung menarik wajahnya, membuat kedua hidung itu tak lagi bersentuhan.

“Yah! Sehun babo!”

Segaris senyuman terulas di bibir Sehun. Pemuda itu lalu menggenggam erat tangan kanan Soojung, “Soojungie.”

“Hm?”

“Ayo pergi kencan!”

Benar. Karena waktu memang telah berulang. Ini adalah kesempatan bagi Sehun untuk memperbaiki segalanya. Ia tak ingin kehilangan Soojung untuk yang kedua kalinya… tidak lagi.

***

Seorang gadis menyandarkan punggungnya pada dinding pembatas Sungai Han. Sesekali ia menendang pedal sepedanya一yang berada di sebelahnya一sembari merutuk kesal.

“Cih, si bodoh itu kenapa selalu terlambat, sih? Menyebalkan.” umpatnya. Namun ia tak lantas berhenti menunggu. Sekesal apapun dia kepadanya, ia tetap tak bisa meninggalkannya.

“Soojungie!”

Ia spontan menoleh ke sumber suara begitu mendengar suara tenor lelaki memanggil namanya. “Yah, Oh Sehun! Apa-apaan itu?” teriaknya yang tentu saja membuat Sehun berlari ke arahnya sambil menuntun sepedanya.

“Hey, kau kenapa?” tanya Sehun khawatir. Ia menepuk bahu Soojung yang sedang palmface. “Soojungie?”

“Kau menyebalkan! Aku menunggumu lama dan sekarang kau baru datang!” pekik Soojung sementara kedua tangannya terkepal dan ia hantamkan berkali-kali pada dada bidang Sehun. Sehun? Hm, tentu saja tidak dapat melakukan apa-apa一kecuali memasang tampang bingung tentunya. “Dan apa pula itu?”

“Apa?”

Soojung menyikut Sehun, “KENAPA KAU MENGGUNAKAN BAJU HITAM? BUKANNYA AKU MENYURUHMU MEMAKAI BAJU PUTIH?”

Tidak kata yang keluar dari bibir Sehun kecuali ‘maaf’ tentu saja.

***

Soojung kembali menunggu. Tak lagi di tepian Sungai Han, kali ini di sebuah restoran bergaya eropa klasik. Gadis itu duduk dengan gelisah, sepertinya ia mulai berani memberi cap jam karet pada nama Sehun. Dress hitam yang ia kenakan senada dengan suasana restoran yang sendu一ada sentuhan warna hitam dengan sinar lampu temaram yang tak terlalu mencolok mata.

“Soojungie, maaf aku terlambat.” sepatah kalimat terdengar begitu Soojung merasa seseorang menepuk pundaknya.

Soojung tidak tersenyum, tidak juga merengut, hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi一dan sepasang mata menusuk tentu saja. Tapi Sehun tahu, itu adalah salah satu pertanda bahwa Soojung sedang kesal. Padanya tentu saja.

“Kau kesal padaku?” tanya Sehun yang kemudian duduk pada kursi yang berhadapan langsung dengan Soojung. Gadis dengan rambut kecokelatan itu membuang muka, tak mengindahkan pertanyaan Sehun sama sekali. “Baik. Aku tahu aku memang salah. Aku terlambat karena meeting, dan ini salah. Karenanya, aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, sayang.” Sehun tersenyum penuh percaya diri lantas menjentikkan jemarinya.

Soojung awalnya tak peduli, namun ia tahu ia telah menjilat ludahnya sendiri ketika sentuhan merdu biola, flute, dan cello menyapu pendengarannya. Indah. Ia mencuri pandang pada Sehun, lelaki itu telah larut dalam melodi ternyata. Soojung takjub, sejujurnya ia tak pernah mendengar paduan musik berkelas seperti ini… dan Sehun… ah, ia terlalu malu untuk mengakui bahwa Sehun-nya telah memperlakukannya dengan romantis akhir-akhir ini.

“Kau menyukainya?” bisik Sehun yang mampu ia dengar. Spontan Soojung mengangguk dan tersenyum semanis mungkin.

Sehun menghela nafas dengan lega. Bukan semata-mata karena Soojung tidak marah karenanya, namun juga karena ia telah menghindari kejadian terburuk malam ini. Sebelum waktu kembali berputar ke masa lalu, seharusnya malam ini adalah malam di mana ia meninggalkan Soojung, pergi, dan memutuskan segala hubungan antara keduanya. Ia bersyukur takdir itu bisa dirubah.

“Terima kasih. Aku sangat menyukainya, Oh Sehunnie.” Soojung tersenyum simpul yang berhasil membuat Sehun melakukan hal yang sama. Keduanya tersenyum satu sama lain, hingga alunan musik itu terhenti.

***

Sehun menatap layar ponselnya dengan gelisah. Bukan tanpa sebab, hari ini 9 Desember 2011, kecelakaan itu akan tiba hari ini… menimpa Soojung-nya.

Lelaki itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia ragu. Hari ini meeting besar dengan klien dari Tokyo-pun menunggunya. Karir dan percintaan, Sehun bingung harus memprioritaskan hal mana dahulu.

Suasana di hall benar-benar riuh, Sehun berani bertaruh kalau ini terjadi karena meeting akan segera dimulai. Tanpa pikir panjang Sehun segera mengambil ponsel yang semula ia letakkan di mejanya, lantas menelpon Soojung.

“Aku mohon angkat teleponku, Soojungie.” bisiknya dengan nafas memburu sampai-sampai ia sukses melupakan materi untuk presentasinya hari ini.

“Maaf, nomor yang anda tuju tidak dapat一”

Sial! Sehun mengumpat dalam hati ketika perasaan risau menghampirinya. Ia takut akan kehilangan Soojung lagi.

Tidak. Tidak bisa. Ia tak ingin kehilangan Soojung lagi. Ia tak bisa membiarkan ini semua terulang untuk kedua kalinya.

Sehun mengepalkan tangan dan tanpa pikir panjang segera berlari dari ruang meeting. Persetan dengan siapapun yang memanggil namanya ataupun memintanya untuk berhenti. Namun, keputusan ini sudah ia ambil. Ia takkan membiarkan 9 Desember ini kembali kelabu dengan kematian Soojung, kecelakaan itu sekalipun.

***

Seorang gadis dengan plastik belanjaan di kedua tangannya sedang berdiri di tepi jalan raya. Sesekali bibirnya menyanyikan lirik lagu yang yang ia dengarkan lewat headphone-nya tanpa suara.

“Oh, tunggu sebentar. Aku letakkan di mana ponselku?” rupanya ia bertanya pada dirinya sendiri. Kantung plastik yang ternyata berisi bahan membuat cookies ia letakkan di trotoar sementara ia mencoba mencari keberadaan ponselnya pada tas putih yang ia slempangkan di bahu kirinya. “Ah, kenapa tidak ada?” ia berpikir, mencoba mengingat-ingat kembali di mana ia menggunakan ponsel terakhir kali. “Mungkinkah… tertinggal di rumah Sehun-goon?”

***

Sehun melihatnya. Gadis itu一Soojung-nya一berada di tepi jalan yang bersebrangan dari posisinya saat ini. Gadis itu berdiri beberapa langkah di sebelah traffic lights, zebra cross terbentang luas di hadapannya.

Sehun berhenti berlari. Tanpa sadar senyuman lega terulas di bibirnya. Hal yang baru ia sadari adalah naluri memang tidak pernah salah. Ia berani bertaruh bahwa kantung plastik yang dibawa Soojung berisi bahan-bahan untuk membuat biskuit, mengingat Soojung sangat suka memberikannya biskuit hasil eksperimennya. Dan rasanya, tentu saja enak.

“Yah, kembalikan tasku! Tolong! Tolong aku! Ish!”

Nafas Sehun tercekat ketika ia dengan mata telanjangnya melihat seorang pria berlari menyebrangi jalan begitu mudah dengan tas milik Soojung di tangannya. Lehernya seakan tercekik ketika melihat Soojung yang tadinya berusaha mengejar sang penjambret saat ini terjebak di roadway saat lampu hijau masih terpampang pada traffic lights. Pada saat yang bersamaan sebuah mobil berwarna putih dari arah kiri melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Soojung berada dalam bahaya.

Tidak. Kecelakaan ini akan terjadi lagi.

Sehun, lelaki itu tak peduli walau nafasnya terengah-engah, ia tak lagi peduli meski tubuhnya-pun mulai mencapai batas, Sehun kembali berlari secepat yang ia bisa. Dia hampir saja melemparkan diri ke jalan raya andai saja mobil putih itu tidak gesit menghindari tubuh kekasihnya.

Sebuah keberuntungan. Sehun menghela nafas lega untuk kesekian kalinya. Namun Sehun tak tahu bahwa sesungguhnya mobil lain yang berwarna kontras dengan mobil sebelumnya telah siap menabrak kekasihnya.

Soojung. Gadis itu terlalu takut hingga tubuhnya membeku di tengah jalan. Ia tak bisa berlari untuk menghindar, satu langkah sekalipun. Mobil hitam itu akan menabraknya.

‘Aku akan mati.’ batin Soojung. Ia menutup kedua mata yang sebelumnya membulat sempurna dengan lemah seiring dengan sebulir air mata yang mengaliri pipi porselennya.

“SOOJUNG-AH!”

Suara itu…

Seakan tak ingin membiarkan Soojung berpikir terlalu jauh, sepasang lengan telah memeluknya erat. Soojung dapat melihat wajahnya… itu Sehun.

BRAK!

Debuman keras tak terelakkan menghantam tubuh keduanya. Rasa sakit tak terperi terasa sangat menusuk tubuh Soojung, seluruh tubuhnya. Namun, segalanya perlahan pudar setelah tubuhnya terpelanting dan kepalanya terbentur aspal tanpa pelindung apapun.

Semuanya memudar.

Makin pudar.

Hingga akhirnya gelap sepenuhnya.

***

Soojung tersenyum, gadis bergaun putih itu melihat ke sekelilingnya, hanya padang ilalang tinggi yang ia dapat sepanjang matanya berkeliling. Ia berjalan dengan perasaan tak menentu, tidak senang ataupun sedih. Semuanya hambar, dan ia tak tahu kenapa perasaan inilah yang melingkupi dadanya.

Soojung memandang gaunnya yang sedikit tertiup angin, rambut coklatnyapun demikian, tapi kenapa ia tak bisa merasakan desah angin itu?

Soojung merasa ia telah mati. Tidak bisa merasakan raganya sendiri, bukankah itu sama dengan mati?

“Kenapa aku tak bisa merasakan apapun?” Soojung meracau. Sedikit frustasi.

“Kau ingin tahu kenapa?” Soojung sedikit terkejut ketika tiba-tiba seorang lelaki yang cukup tinggi telah berada di hadapannya.

“Sehun?” nama lelaki itu tiba-tiba meluncur dengan mulus dari bibir lemahnya.

“Kau sedang koma.” ujar Sehun spontan yang tentu saja membuat Soojung membelalakkan kedua matanya. “Ini semua hanya hasil cipta dari alam bawah sadarmu. Sebuah alasan kenapa kau tidak bisa merasakan desah angin menyapu kulitmu… itu karena kau koma.”

“Apa yang kau一”

“Kau ingin bisa merasakan ragamu lagi?” potong Sehun dengan seulas senyuman.

Soojung mendadak gelisah, ia menggigit bibir bawahnya sendiri. “Aku… tentu saja aku mau.”

Selanjutnya, yang Soojung ingat hanyalah ketika Sehun menggamit kedua tangannya, menyatukannya dengan tangan Sehun yang lebih besar. Tiba-tiba secercah cahaya dengan terangnya melingkupi seluruh tubuh Sehun, membuatnya hilang tertelan. Lantas, semuanya kembali gelap, tak tersisa satu apapun, bahkan tanpa ada tempat sekedar untuk nama Sehun sekalipun.

***

Dalam sebuah ruangan yang tak terlalu luas seorang lelaki sedang berkutat dengan buku di tangannya. Sorot matanya terlihat serius, seakan apapun tak boleh mengganggu aktivitasnya. Sesekali ia merapal beberapa kata一yang ia anggap一penting agar dapat ia ingat. Sekilas, dapat terlihat sangat sibuk.

Hm, mungkin… hingga ketukan beberapa kali terdengar dari luar ruangannya. Ia hafal siapa pemilik kebiasaan itu, tentu saja.

“Masuklah.” titahnya. Benar saja, gagang pintu bergerak hingga akhirnya pintu terbuka dan menunjukkan keberadaan seseorang dengan setelan rapi. Tampan, tapi sejujurnya jas dan pakaian necis itu tidak cocok dengan wajahnya yang ‘terlihat’ kekanakan. “Ada apa, Byun Baekhyun?” tanyanya tanpa berpindah fokus pada buku di tangannya.

Tanpa dipersilahkan, Baekhyun duduk berhadapan dengan lelaki itu. Ia mendengus, “Ya, ya, ya… aku tahu. Dokter forensik memang selalu sibuk. Selalu, hingga akhirnya ia meninggalkan temannya sendiri.” cibirnya.

“Bukannya CEO-pun demikian?”

Baekhyun menggeleng, wajahnya menunjukkan ekspresi kekanakan (lagi), “Aku? Tidak. Buktinya aku selalu mampir ke sini meskipun ya… selalu berakhir dengan hal yang sama setiap harinya一aku berbicara tentang sifat ‘sok’ sibukmu itu. Harusnya kau mentraktirku secangkir cappucino karena aku selalu di sampingmu meskipun orang lain meninggalkanmu. Aku setia, kan?”

Sang lelaki begidik mendengar perkataan Baekhyun. “Yah, itu menjijikkan. Kenapa kau berkata seolah-olah kau satu-satunya yang mau menerimaku?”

“Bukannya memang begitu?” timpal Baekhyun.

Si pemuda berjas dokter tiba-tiba tak menemukan selera untuk melanjutkan aktivitas membaca lembar buku di hadapannya. “Baekhyun-ya.” panggilnya lantas menutup buku di tangannya. “Jangan seperti ini… aku… aku sudah punya pacar. Aku menyukai wanita… normal.”

Butuh beberapa detik bagi Baekhyun untuk mencerna perkataan si dokter forensik hingga akhirnya ia berteriak, “Ya, Park Chanyeol!” pekiknya. Spontan ia meninju lengan kiri Chanyeol yang tentu saja membuat Chanyeol mengaduh. “Ish. Apa-apaan itu? Kau pikir aku gay? Kenapa pikiranmu semenjijikkan itu, sih?” tanya Baekhyun sambil begidik. Tentu saja, ini menjijikkan baginya. “Aku masih suka wanita, bodoh! Kau… ish, benar-benar absurd.” omelnya. Sementara Chanyeol hanya tersenyum dengan tangan kiri membentuk huruf V.

“Kau harus mentraktirku cappucino hari ini. Kau benar-benar membuatku marah.” Baekhyun masih terus berdumel.

Chanyeol melepas jas dokternya, memperlihatkan kemeja putih bergaris hitam yang berada di baliknya. “Baiklah. Ayo pergi. Tiba-tiba aku juga jadi ingin cappucino karenamu.” katanya sambil mengusap-usap perut kurusnya. Baekhyun tak pelak segera bangkit dari posisi duduknya dengan semangat.

Kedua pria itu hampir saja keluar dari ruangan jika saja seorang suster tidak mengetuk pintu dan masuk dengan tiba-tiba ke dalam ruangan Chanyeol.

Chanyeol mengangkat alisnya melihat keberadaan Luna. “Luna? Ada apa?”

“Dokter Park. Korban kecelakaan minggu lalu bangun dari keadaan komanya.”

“A-Apa?”

***

Chanyeol menghela nafas lega lantas menatap pasien wanita di hadapannya dengan was-was. Sejujurnya, ia senang pasiennya bisa bangkit dari keadaan komanya, namun lain ceritanya jika setelah bangun gadis itu tak mau berbicara. Ia menolak. Saat Chanyeol menanyakan bagaimana keadaannyapun gadis itu hanya menjawab dengan isyarat. Mungkin ia trauma.

Dan lagi, Chanyeol tidak tahu siapa namanya. Sesaat setelah tabrakan maut itu, polisi mengungkapkan bahwa tidak ada tanda pengenal untuk gadis ini. Tas kulit yang diduga miliknyapun hanya berisi resep makanan. Tidak ada hal lain.

“Nona kau tidak apa-apa?” tanya Chanyeol. Mencoba memastikan keadaan gadis itu tentu saja.

Gadis dengan perban di sekitar kepalanya hanya menggeleng lemah. Ia terlihat tak memiliki tenaga seusai bangun dari keadaan kritisnya.

“Tidak bisakah kau bicara sedikit tentang dirimu?” pancing Chanyeol, namun lagi-lagi gadis itu menggeleng. Ini adalah hal tersulit bagi seorang dokter ketika menemukan pasiennya trauma. “Baik. Kau tidak mau bicara sekarangpun tidak apa-apa. Istirahatlah.” gumam Chanyeol lantas mengukir senyum tulusnya.

Lelaki itu hampir saja hilang ditelan pintu andai saja suara lirih seorang gadis tidak menahannya.

“Dokter… aku tidak bisa mengingat apapun.”

***

Baekhyun melambaikan tangannya kala melihat Chanyeol yang baru saja masuk ke dalam coffeeshop. Wajahnya muram, terlihat jelas raut kelelahan pada dahinya. Pasti ada masalah tebak Baekhyun. Namun demikian, Baekhyun lebih memilih diam.

“Maaf aku terlambat. Ada sedikit masalah dengan pasien yang tadi kutangani.” jelas Chanyeol selepas duduk berhadapan dengan Baekhyun. Lelaki itu mengurut keningnya sendiri.

Bingo! Tebakan Baekhyun benar, sudah ia duga sebab pemuda bermarga Byun sendiri bergelar ‘penebak ulung’, ia selalu menang dalam taruhan, apapun jenisnya一walau ia hanya melakukannya sesekali.

Baekhyun tidak menanggapi penjelasan Chanyeol, pemuda itu memilih untuk mengisyaratkan pelayan agar menghampiri meja yang diduduki oleh keduanya. “Cappuchino.” ucapnya lantas melirik Chanyeol.

Pemuda bermarga Park awalnya agak bingung namun akhirnya mengucapkan jenis kopi yang sangat ia sukai, “Moccachino.”

Selepas pelayan wanita itu undur diri dari hadapan keduanya, Baekhyun angkat bicara. “Apa yang kau maksud itu… gadis yang terlibat kecelakaan maut seminggu yang lalu?”

“Tepat. Dia wanita tak beridentitas. Polisi jauh-jauh hari mengonfirmasi bahwa tidak ada kartu identitas yang ditemukan di TKP. Ini diperparah pada kenyataan bahwa dia kehilangan ingatannya.” jelas Chanyeol panjang lebar.

Kedua mata Baekhyun melebar. “Amnesia?” tanyanya yang langsung berbuah anggukan dari Chanyeol.

Mereka berdua menghentikan pembicaraan sementara ketika seorang pelayan wanita menyajikan dua cangkir kopi dengan cita rasa berbeda pada keduanya.

“Mengingat namanya sendiri saja dia tak mampu, apalagi menceritakan apa yang telah terjadi seminggu yang lalu.” sahut Chanyeol setelah menyeruput moccachino-nya.

Baekhyun mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya pada meja, lelaki itu sedang berpikir. Sebuah kebiasaan yang telah mendarah-daging baginya. “Chanyeol, bukannya lokasi kecelakaan terjadi itu dekat dengan pusat perbelanjaan? Asumsikan saja gadis itu pergi belanja di sana. Ini agak aneh jika dia tidak membawa tas bersamanya.” duga Baekhyun yang terdengar cukup masuk akal bagi Chanyeol. Sebenarnya, Chanyeol-pun merasa agak janggal ketika mendapat keterangan dari polisi, namun dengan terpaksa ia harus menelan informasi itu mentah-mentah. “Dan lagi, di tempat kejadian perkara ada korban lelaki muda yang tewas. Aku pikir lelaki itu ada hubungannya dengan gadis itu.”

Chanyeol mengangguk. “Ya. Berdasar keterangan polisi, namanya Oh Sehun.” pemuda bermarga Park menjeda ucapannya. Ia melirik Baekhyun sekilas, “Aku juga berpendapat sama, aku pikir Oh Sehun ada hubungannya dengan wanita itu.”

Kini giliran Baekhyun yang menyesap cappuchino miliknya. “So, kenapa tidak membicarakan nama Oh Sehun pada gadis itu?”

Lelaki di hadapannya mengacak rambutnya frustasi. “Gadis itu sudah sangat terguncang atas kenyataan ia kehilangan ingatannya. Dan sekarang kau menyuruhku untuk memaksanya mengingat siapa Oh Sehun? Ini tidak baik untuk kesehatannya, lebih-lebih kondisi psikisnya saat ini.”

Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya. Jujur saja, ia tahu saran yang baru saja ia kemukakan tidaklah bijak.

“Ngomong-ngomong, jam makan siang sudah selesai. Aku harus kembali ke rumah sakit.”

*** To be Continued ***

A/N :

Fanfic ini sebenar-benarnya terinspirasi oleh In Heaven-nya JYJ. Cassiopeia pasti sudah bisa menebak dari awal, hng? Tapi aku pikir hanya plot awalnya aja, karena makin ke belakang makin berbeda hehehe. Chapter akhir aku ga bisa janji mau publish kapan karena modemku sendiri rusak dan… ada rencana liburan so that aku ga bisa janji /bow/

Tapi ya pasti dipublish kok xDD

At last, reviews are appreciated^-^

23 comments on “[Chapter 1] Back in Time

  1. aduh kak ini bagus banget lah ;__; AKHIRNYAA KAKAK COMEEBAAACCCKK!!! aku seneng banget lah udah lama aku ga baca tulisannya kakak, uh aku kangen😀 tulisannya bener-bener gaya kakak deh :3

    awal-awal kayaknya lebih ke MV Severely deh🙄 iya soal yang udah mati, tapi bisa kembali ke waktu sebelumnya, terus si cowo gantiin si cewe meninggalnya ;__; eh bener ngga sih?🙄
    aduh Sehun dapet peran yang menyebalkan yah kak disini? padahal dia sebenarnya suka sama Krys, tapi gara-gara ego yah dia kaya gitu -___- tapi penyesalan selalu terlambat sih datangnya..
    terus apa Sehun meninggal? kayaknya sih iya, untung si Krys selamat :)) /JADISEHUNNGGAPENTINGGITU?!/
    aduh cerita ini soo complicated banget lah kak ;__;

    …) ….Baekhyun-ya.” panggilnya lantas menutup buku di tangannya. “Jangan seperti ini… aku… aku sudah punya pacar. Aku menyukai wanita… normal.”
    WAHAHAHA.. aduh dialognya, bikin ngakak kak😆 tapi aku pikir pas narasi “orang yang berjas putih” itu si Krys lho🙄 habis baru diterangkan kalau si “orang berjas putih” itu laki-laki setelah si Baek negur Chanyeol gitu🙄

    dan trolololnya si BaekYeol dapet bangetlah disini😄 muahahaha😆
    aduh, chapter duanya bakal lama ya kak? aku tunggulah pasti :33

    • Wakaka makasih loh udah nungguin, Zuky *kirim Baekhyun lewat internet*
      Hm… gimana yaa??? Tebak aja nanti /gusurrr/
      Hahaha chapter 2 akan meluncur besok kalo ga besok lusa ditunggu aja okeh?? *winked

  2. Aa~
    SeStal \^o^/
    baguuuuuusss bgt❤

    “Selamanya.”

    “Dasar menyebalkan.”

    ^
    suka bgt yg itu astaga T__T

    “Aku membawakanmu
    setoples cookies.”

    Sehun menatap setoples kue coklat yang disodorkan oleh Soojung. Ia mengambilnya dan memeluknya seperti anak kecil yang tak ingin kehilangan mainan miliknya.
    “Aku akan menghabiskannya, kau bisa memastikannya.”

    ^
    yg itu jugaa~
    sehun bgt! childish-_- gk sesuai wajah❤

    beneran! asdfhjkl ini awesome! pairing kesayangan juga, hehe

    terus ngenes liat mreka pisah u,u

    chapter 2 asap ya kak ell~
    bikin lagi sestal-nya🙂

  3. Ah, jadi gitu ya? Ini emang mirip sama ceritanya di mv JYJ kekeke~ cuma yg ini lebih disingkat ceritanya :3 aku suka thor, jarang ada orang yang bikin fanfict kaya gini, kan paling2 tamat setelah pairingnya itu ada di sebuah taman. Next part ditunggu🙂

  4. eh?! Sehun!
    Aku kok jdi inget mv nya JYJ yg in heaven ..hehehe
    FF-nya bagus aku suka^^
    oh, iya, cepetan next chapter-nya, author-nim^^
    I’m waiting^^

  5. Annyeong!!! Ayu imnidha!! Readers baru di sini ^_^
    Dari awal baca ffnya udah berasa banget alur MV JYJ,,,,
    FFnya keren!!! Saya suka gaya bahasanya🙂

  6. omo… fanfictnya tragis bgt.. aku malah mikirnya mirip sama mvnya FT Island yang judulnya Severely. lanjut ke chapt 2 dulu~

  7. Aaaa~
    Keren thor! Baekhyun sama Chanyeol di sini perannya konyol, haha😀
    Dohh, kasian Sehun masa T.T jadi ceritanya Sehun mati? Di chapter 2-nya gak ada Sehun ya? Dan juga… Krystal pake acara amnesia lagi-___-
    Good Job thor~ Aku suka cerita ini!!

  8. Wah, ternyata emang bener ya. Aku sih udah mikir dari awal author keren banget tapi jadi sehunnya yang meninggal hikshikshiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: