17 Komentar

[Vignette] Gomawo

 

Title : Gomawo

 

Author : Choi Jinyeong.

 

Main Casts :

  • Park Sunyoung [Luna] (f(x))
  • Nam Woohyun (INFINITE)

 

Minor Cast :

  • Jung Soojung [Krystal] (f(x))一just mention.

Pairing : Woohyun x Luna.

 

Rating : PG-15.

 

Genre : Romance一and (fail) Fluff maybe?

 

Length :

 Vignette

A/N :

Atas desakan dari Kak Dhea aku bikin fanfik ini (WooLun pertamaku, loh^^). Makasih ya udah banyak ngasih referensi dan membuat feeling WooLun-ku makin gede. Ahahaha. Credit poster belong to Jiell^^ Thanks! Last, Just check it out^^

oOo


Luna sejak tadi duduk di kursi taman dengan gugup. Ia meremas kedua tangannya, seakan khawatir akan suatu hal. Namun pada kenyataannya saat ini ia sedang menunggu seseorang, Nam Woohyun, lelaki yang telah ia kencani selama tiga tahun belakangan. Mereka sudah menempuh banyak hal baik dan buruk bersama, mengarungi luasnya samudra bernama kehidupan juga telah mereka lakukan bersama, namun dalam hati Luna menyayangkan sebab dalam tiga bulan terakhir ia dan Woohyun harus melangsungkan hubungan jarak jauh. Woohyun harus mengurus perusahaan ayahnya di Tokyo, begitu katanya.

Hubungan jarak jauh itulah yang sering membuat Luna mendesah kecewa. Luna butuh Woohyun untuk berada di sisinya, mendukungnya… seperti dulu. Akan tetapi ia berhasil menekankan pada dirinya sendiri untuk tidak egois, ia berhasil melepaskan Woohyun一walau ia harus mengorbankan sekotak tissue setelah itu.

Saat ini Luna benar-benar tak tahu harus bagaimana. Sebab, setelah beberapa hari sebelumnya ia dan pemuda bermarga Nam kehilangan contact, Woohyun tiba-tiba memberi kabar via message bahwa ia sudah berada di Seoul dan ia ingin menemuinya di taman ini pukul tiga sore.

Gadis mungil itu menengok jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sekilas.

Pukul enam sore. Sudah tiga jam berlalu dan Woohyun belum juga datang.

Dalam hati Luna menerka-nerka di mana keberadaan pemuda itu. Kenapa ia tak kunjung datang? Ia takut ada hal buruk yang menimpa Woohyun. Maksud hati ingin menelponnya, namun sayang sekali ia meninggalkan ponselnya di apartemen.

Ugh, Woohyun harusnya bersyukur memiliki kekasih sesetia dan sebaik Luna. Sebab Luna sama sekali tak berniat untuk pulang sebelum ia bisa melihat wajah Nam Woohyun, tak peduli seberapa lama ia menunggu, bahkan hingga akhir dunia. Hiperbolis sekali? Itulah cinta.

Menunggu, menunggu, dan menunggu. Menunggu mengingatkannya pada Krystal一teman berbagi kamarnya. Dulu, Krystal juga melakukan hal yang sama sepertinya… menunggu kekasihnya, menunggu dengan setia sekian lama, namun semuanya berakhir pahit ketika kekasih gadis bermarga Jung meminta putus.

Tapi, tidak!

Woohyun bukan orang seperti itu!

Dalam hati, Luna terus meyakinkan bahwa lelaki bermarga Nam bukanlah tipikal lelaki sebrengsek itu, yah… walau ia sedikit… ragu.

“Luna Park.”

Luna menoleh ketika suara berat khas seorang lelaki memanggil namanya, dan benar… ia mendapati lelaki yang paling ia tunggu-tunggu tengah keluar dari mobil miliknya. Woohyun. Nam Woohyun.

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Woohyun. Tersirat kekhawatiran dalam pertanyaannya.

Saat Luna menilik sepasang manik onyx itu… semuanya masih sama. Woohyun tetaplah seperti Woohyun-nya. Tetap tampan, walau bukan itu alasan ia mencintainya.

Luna tersenyum miring, “Tidak… baru saja.” lihat betapa ia mencintai Woohyun? Ia bahkan rela berbohong hanya demi membuat lelaki itu tak mengkhawatirkannya.

Woohyun menghela nafas lantas menyembunyikan telapak tangannya di balik saku coat-nya. “Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu.” ujarnya lantas duduk di sebelah Luna. Ia melirik Luna dengan mata kelamnya, “Luna… sudah berapa lama kita berhubung一”

“Tiga tahun. Oppa tidak mengingatnya?” Luna memotong perkataan Woohyun. “Mengecewakan sekali…”

Lelaki bermarga Nam tersenyum tidak nyaman. Ia menyentuh tengkuknya. “Maaf.” gumamnya kikuk. Sontak suasana itu membuat keduanya dikelilingi aura canggung luar biasa. Luna masih dengan perasaan kecewanya, sedangkan Woohyun masih dengan rasa bersalahnya. Berusaha menghancurkan ke-awkward-an itu, Woohyun kembali angkat bicara, “Sebenarnya… aku bosan.”

Luna spontan men-death glare Woohyun. Ia membelalakkan matanya yang sedikit membuat kekasihnya itu ketakutan.

“Bukan denganmu…” bantah Woohyun sembari melambaikan kedua tangannya ke depan wajah Luna. Luna sendiri tak mau angkat bicara, sudah terlanjur paranoid. “Ayolah… aku bosan dengan hubungan kita. Bagiku menjalani long distance relationship itu sulit. Bahkan, karena terlalu sibuk, aku tak pernah mengabarimu apapun selama tiga hari, kan? Aku rasa lebih baik kita一”

“Apa? Putus? Itu pilihan oppa?” tanya Luna ketus. Gadis itu terlalu sensitif, bahkan sepasang manik matanya telah berkaca-kaca. “Kenapa? Karena jarak memisahkan kita terlalu jauh? Karena kita telah putus kontak cukup lama? Atau karena oppa tertarik dengan wanita-wanita di Tokyo dan bosan denganku?” bisiknya penuh luka. Seakan Woohyun pasti akan menjawab pertanyaannya dengan satu dari beberapa alasan yang ia kemukakan.

“A一”

Oppa jahat! Jahat!” Luna berseru disertai memukul dada bidang Woohyun.

Lelaki bermarga Nam itu kelimpungan. Bukan karena pukulan Luna yang terasa sakit, namun karena gadis itu menangis keras. Ia takut apabila ada orang lain yang melihat adegan ala telenovela ini, mereka akan salah paham dan mengecapnya sebagai ‘lelaki brengsek’. “Hey, tunggu dulu.” gumamnya. Masih dengan ekspresi panik menghiasi wajah tampannya ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Luna agar gadis itu berhenti memukulnya. “Dengarkan aku dulu… jangan mengambil kesimpulan sendiri.” lanjutnya. Luna masih tergugu, gadis itu menolak kontak mata secara langsung dengan Woohyun, ia memilih untuk membuang muka.

Woohyun mendesah, bingung harus melakukan apa. Namun hanya satu opsi yang ia miliki, menjelaskan segala sesuatunya, dan hal ini akan selesai. “Aku tak bisa menjalani hubungan seperti ini, Luna Park. Aku takut kehilanganmu, aku takut ada suatu hal yang kelak membuat kita makin menjauh jika kita tetap mempertahankan hubungan seperti ini. Aku selalu merindukanmu di Tokyo, tapi kesibukan seakan tak mengizinkan kita untuk berkomunikasi.” Woohyun sekali lagi menghela nafas. Jemari kurusnya tergerak untuk menghapus jejak air mata di pipi Luna. Ia tersenyum ketika ia berhasil meluruskan pandangannya pada bola mata Luna, sepasang mata indah yang selalu ia rindukan. “Karena itu… lebih baik kita… aku dan kau… meneruskan hubungan ini ke jenjang yang lebih tinggi.”

“Maksud oppa?”

Woohyun menarik kedua ujung bibirnya lantas mengambil suatu benda dari dalam kantungnya. Sebuah kotak persegi berwarna putih yang hanya dengan Luna lihat sekilas saja dapat membuat gadis itu kembali menitikkan air mata… bukan kesedihan, kali ini air mata kebahagiaan.

“Jadilah tunanganku.” pinta Woohyun mantap. Ia membuka perlahan kubus tersebut, membuat sinar pantulan cincin cantik tersebut tak terelakkan dari mata Luna. Gadis itu menangis makin keras dengan telapak tangan kanan melingkupi wajahnya. Ia tak kuasa menahan kebahagiaannya lagi. Semuanya terlalu indah. “Jadilah tunanganku dan ikutlah denganku ke Tokyo…” ujar Woohyun sesaat ia menyentuh tangan kiri nan mulus milik Luna. Ia mengelusnya sekilas dan menggenggamnya lembut. “Aku tidak bisa jauh dari vitaminku, Luna Park. Kau mau hidup denganku, kan?”

Menghadapi tuntutan Woohyun agar ia angkat bicara, Luna mengusap air mata yang terurai di pipinya. Ia mencoba untuk tegar, walau sejujurnya ia adalah gadis cengeng. “Woohyun-oppa… aku… aku… tidak bisa.” jawabnya yang lantas membuat genggaman tangan Woohyun pada tangan kiri Luna merenggang.

Wae?”

“Aku tidak bisa untuk menolak. Aku tak bisa menolakmu, Woohyun-oppa.” jelasnya lantas berhambur untuk memeluk lelaki di hadapannya. Air muka Woohyun yang awalnya tegang kembali melunak. Ia membalas pelukan Luna, mengelus punggung gadis mungil itu dengan lembut. “Saranghaeyo.” lirihnya, namun Luna dengan pendengaran ultrasonik khas kelelawarnya jelas dapat mendengar frase indah yang lama ia rindukan dari bibir Woohyun itu.

Nado.” balas Luna. Ia merasa dadanya berdentum kencang sekarang, Woohyun-oppa-nya memang lelaki yang tak mudah ditebak. Mungkin hal itu jugalah yang membuatnya jatuh cinta pada lelaki itu.

Selang beberapa lama, pelukan penuh rasa kerinduan itu terlepas juga. Woohyun spontan menyentuh tangan kiri Luna sekali lagi, kali ini ia memasangkan cincin一hadiahnya一di jari manis Luna. Cincin dengan manik indah itu telah mempercantik punggung tangan Luna. Ukurannya pun pas, seolah cincin itu memang ditakdirkan untuk Luna. In fact, Woohyun tak tahu ukuran jari Luna… hanya feeling saja, dan ternyata pas sekali.

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama.” sesal Woohyun.

Luna menggeleng, “Gwaenchananan gwaenchana.” kata Luna tersedu. Gadis bermarga Park tersenyum dan memamerkan gummy smile khasnya. Gummy smile yang hanya dimiliki Luna.

Woohyun yang sudah terlanjur merindukan gummy smile itu sontak merengkuh pinggang kekasihnya dan menyandarkan kepala Luna di bahu kirinya. Ia sudah merindukan saat-saat ini terlalu lama.

Dan saat itu, Luna masih ingat… senyuman bulan sabit beserta ratusan ribu bintang di langit sana tengah menjadi saksi berakhirnya hubungan jarak jauh mereka. Sebuah persiapan menuju jenjang berikutnya, ke sebuah hubungan yang lebih dewasa yang kelak akan merubah marganya menjadi Nam… Luna Nam.

Gomawo, Woohyun-oppa.’

 

THE END

 

A/N :

So, here it is~ maaf ya kalo absurd gini, Kak D TT.TT

Inilah saya dan tulisan saya yang nista .__.

Harap puas (?)😄

Btw, ini saya kasih bonus WooLun moment di MuBank HK~^^

So. mind to RCL? :B /digatak

17 comments on “[Vignette] Gomawo

  1. sumpaaah eonn >,,< cweet bggtttt😄
    terus berkarya yaa eonn'-')b Semangaaat ^o^

  2. Bingung mau komen apa,aku terpaku dengan kalimat meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih tinggi.so sweet banget!
    Semangat terus chingu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: