3 Komentar

[Ficlet] Special Milevatia’s Birthday :: Regret

 

Choi Jinyeong

Present

.

.

.

.

“Regret”

Summary :

Penyesalan Thunder karena membiarkan seorang yang ia cintai mengharapkan lelaki lain.

Disclaimer : Seunghyun (Thunder) belong to themselves and GOD! Haewoon belong to Vhatia-jumma. It’s her xD Still, Donghae & Sungmin are Mine, also this fanfiction~

Rating : T

Genre :

Angst | Friendship.

Pairing :

SeungWoon | JunWoon.

Lenght :

Oneshot.

A/N :

Saengil chukkahamnida, Vhatia-ahjumma (@milevatia) ~!! Ini FF khusus buat ultah sampeyan. Diharapkan puas. Kalo nggak puas, siiih… puas-puasin aja! #plak!

Soal Point of View, semuanya full punya Thunder.

Enjoy reading~!!

*****

Aku menjejakkan langkahku perlahan keluar dari pesawat terbang. Rasa jet-lag masih memusingkanku—apa iya aku jet-lagers?

Aku tersenyum tipis begitu mendapati tulisan ‘South Korea‘ tertulis jelas di baliho itu. Sudah tiga tahun aku berada di Madrid, Spanyol untuk melanjutkan studi. Jujur, awalnya memang sangat berat. Apalagi, disini aku merasa punya tanggungan. Menurutmu apa? Kekasih? Sayangnya dia bukan kekasihku, dia hanya… Orang yang aku sayangi.

Rasa tak sabar membuatku mengambil tiket pesawat tujuan Seoul dengan jam paling awal.

“Haewoonnie… Aku kembali…” Bisikku pada angin semilir yang menyapu tengkukku halus. Eh, kenapa mendadak aku merasa merinding, ya?

.

.

Ini Seoul, kan?

Mengapa terasa hampa? Kenapa tidak ada perasaan yang sama saat aku dulu pernah tinggal disini. Mengapa?

Ponselku bergetar menandakan ada panggilan masuk.

Dara-noonas calling

Segera saja aku angkat telpon dari noona-ku yang paling bawel itu.

Yoboseoyo?”

Nde, noona. Aku sudah tiba di Seoul.”

“Tidak! Aku menginap di apartemen-ku saja.”

“Ah, ya… Baiklah…”

“Annyeong.”

Aiish, benar juga apa kata Dara-noona. Harusnya aku pulang mengunjungi keluargaku dulu, kan? Bukannya malah heboh seperti ini. Tsk…

Tapi, aku merindukannya. Kenapa tak ada yang mengerti, sih?

“Putar balik, sir.” Gumamku datar. Sementara supir taksi itu mengangguk dan menyanggupi permintaanku.

.

.

“An一”

“CHEONDUNG!” Pekik seorang gadis一yang aku yakin pasti Dara-noona. Kenapa aku bisa tahu? Tentu saja naluri seorang adik一. Tiba-tiba aku merasakan kedua lengannya melingkar di perutku.

“Noona…” Ujarku sambil mempererat pelukan kami. Tak bisa kupungkiri, aku-pun juga rindu Dara-noona. Yah, walau dia itu cerewet, bising, dan kadang mati gaya sih.

Noona-ku itu melepas pelukannya selang beberapa detik. “Bagaimana kabarmu? Kau tampak kurusan…” Gumamnya sembari menepuk pipiku pelan.

“Aku tampak kurusan?” Tanyaku balik. “Tidak tidak tidak… Noona yang jadi lebih gemuk…” Sambungku kemudian menggembungkan pipiku mirip seperti ikan buntal. Sontak saja ia langsung menjewer telingaku hingga membuatku berteriak kesakitan.

“Dasar! Dari Madrid tetap saja jahil-nya!” Geramnya sebal. Aiiish, aku rindu hari-hari seperti ini dulu.

“Sudah, noona.” Pintaku memelas. “Eomma appa dimana?” Tanyaku, kemudian duduk di kursi balkon.

Dara-noona mengikutiku dengan duduk di sebelah kananku. Dengan raut wajah gelisah ia menjelaskannya, “Tadi saat aku menelponmu mereka masih di rumah. Aku sudah mengabari mereka bahwa hari ini kau akan pulang. Tapi, mereka hanya mengatakan untuk menitipkan salam untukmu. Appa harus ke Brasil, sedangkan Eomma harus ke St. Kitts & Nevis. Maafkan noona yang tak dapat mencegah mereka pergi,” Sesalnya dengan kedua mata berkaca-kaca.

“Selalu seperti itu…” Gumamku sedikit kecewa. Eomma dan appa memang orang tua karir, namun tak sepantasnya kan kalau mereka melupakan anak-anaknya?

Kusentuh pipi Dara-noona一mencoba menenangkannya一. Hangat pipinya masih sama seperti dahulu.

“Baiklah, aku mandi dulu, noona.” Kataku kemudian menyeret koperku ke dalam mension besar keluargaku ini. Syukur-syukur jika aku masih ingat jalan menuju kamar.

“Cheondung, sini biarkan noona yang membawa kopermu.” Dara-noona menyusulku lalu merebut koperku. Dia tersenyum sombong saat koperku berada di tangannya. “Mandilah, dan noona akan membersihkan kamarmu, dongsaeng.” Ujarnya kemudian pergi dari hadapanku.

‘Ini yang paling aku rindukan dari noona.’

.

.

“Cheondung mau kemana?”

Aku yang sejak tadi sibuk mengeringkan rambut dengan handuk, sedikit kaget mendengar pertanyaan Dara-noona.

“Noona mengagetkanku. Bisa tidak sebelum masuk ketuk pintu dulu?” Perintahku halus. Well, aku juga tidak akan mau melukai hati noona-ku satu-satunya ini.

“Ah, maaf. Karena ada Cheondung aku jadi terlalu semangat. Tapi kau mau kemana dongsaeng?” Dara-noona berjalan mendekat pada ranjang king size milikku sedangkan aku sibuk berkaca untuk merapikan helai rambutku.

“Err… aku mau ke luar, noona.” Gumamku sambil tersenyum pada pantulan bayanganku sendiri.

“Keluar kemana?” Dara-noona menatapku dengan tatapan curiga.

“Ke tempat seseorang yang spesial.” Jawabku lalu tersenyum pada noona. Ia mendengus seakan tidak senang, wah… sepertinya brother complex-nya kambuh.

“Jadi, sebelum ke Madrid kau sudah punya kekasih disini?” Tanyanya dengan nada mengintimidasi.

“Bukan.” Elakku sambil menggerak-gerakkan kedua telapak tanganku di depan wajah noona. “Dia hanya spesial itu saja.”

“Yah, kenapa kau tak bilang pada noona, bocah? Noona-kan bisa membantumu untuk menjadikan ‘orang spesial’ itu sebagai kekasihmu.” Dara-noona memutar bola matanya. Aigo~ andai dia bukan noona kandungku, pasti aku akan menjadikannya kekasihku.

“Yasudah noona, aku pergi.”

***

Aku tersenyum sumringah ketika melenggang di daerah pejalan kaki. Aku sangat merindukan saat-saat dimana aku menjejakkan kaki di trotoar Kota Seoul. Semuanya terasa seperti reuni dengan hal kecil yang kau rindukan.

Oh, iya… bagaimana bisa aku pergi ke rumah the special one tanpa apapun di tanganku?

Akhirnya, kuputuskan untuk masuk ke dalam toko bunga yang berada di tepi jalan. Aku tak ingat ada toko bunga disini, dulu…

“Selamat datang…” Seorang florist menyambutku dari balik pintu. Ia tersenyum manis. “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”

“Bisa tolong rekomendasikan bunga untuk seseorang yang sudah lama tidak kutemui?” Tanyaku iseng.

Gadis itu memasang pose berpikir. “Laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan.” Jawabku mantap.

“Bagi tuan dia seperti apa?” Tanyanya. Aku mengernyit mendengar pertanyaannya. “Maksud saya… apa arti dia bagi tuan? Bisa saja seperti sahabat, kekasih, mantan kekasih, atau hubungan yang lain.”

Aku mengangguk pertanda aku mengerti. “Dia…”

Apa arti Haewoon bagiku?

“Dia seseorang yang special.”

Florist bertag name ‘Jung Soojung’ itu tersenyum seakan tahu apa arti sebenarnya dari ucapanku barusan. “Hm… special? Saya rasa… bunga ini akan jadi jawaban yang bagus.” Ia mengambil sebuket bunga tulip berwarna biru dan memindah tangankan padaku. Aku memandang buket bunga di tanganku dengan heran. Tulip biru? “Tuan ingin tahu alasannya?”

Aku melirik florist tersebut. “Boleh saja.”

Gadis yang sepertinya lebih muda dariku itu tersenyum simpul. “Tulip biasanya berwarna merah, merah jambu, atau kuning. Dan tulip biru adalah hasil rekayasa genetika karena itulah tulip tersebut dianggap special. Biru untuk keteduhan hati, artinya tuan merasa nyaman dengan segala hal yang dimiliki si penerima. Intinya, tulip biru cocok diberikan pada orang tersayang yang tak mungkin kita miliki.”

Bunga yang cocok, pikirku. Sangat pantas jika aku memberikannya untuk Haewoon, seorang yang tak mungkin kumiliki, tapi sangat kusayangi.

Aku menghela nafas panjang. “Terima kasih, Nona Jung. Anda sangat membantu.” Ucapku. Gadis berwajah dewasa tersebut tertawa.

“Jangan sungkan, tuan. Jika sudah menetapkan pilihan, silahkan menuju ke kasir.” Sarannya. Kedua tangannya menunjukkan letak kasir yang dijaga oleh seorang pemuda yang cukup tinggi. Aku menggenggam buket tulip biru tersebut dan berjalan menuju kasir.

“Wah, tulip biru.” Penjaga kasir itu bersorak padaku. “Selera anda bagus, tuan.”

Aku tersenyum canggung. “Selera nona itu yang bagus.” Ujarku sambil melirik sang florist yang sedang menata tangkai demi tangkai bunga. Ia sepertinya tak sadar sedang kami bicarakan.

“Soojung? Ah, seleranya memang selalu bagus.” Sahut pemuda itu sambil menatap kagum pada Nona Jung. “Tapi dia bukan gadis gampangan.”

Aku mengernyit. “Maaf?”

“Ah tidak! 1000 won, tuan.” Elak pemuda itu sambil menggaruk belakang kepalanya. Pemuda bertag name Shin Soohyun itu terlihat awkward. Geez, jangan-jangan dia menyukai florist bernama Soojung tadi. Cinta memang lucu, ya?

Aku mengambil dua lembar uang 500 won dari dompet dan kuberikan padanya.

Lepas dari itu… aku harap Haewoon senang dengan tulip biru yang akan jadi special gift untuknya nanti.

***

1 tahun sudah berlalu, namun tidak ada yang berbeda dengan apartemen yang ditinggali Haewoon. Semuanya tetap sama, dan itu membuatku makin merindukannya.

Aku mengetuk pintu beberapa kali, berharap orang yang aku harapkan keluar dan berhambur memelukku. Harapan yang terlalu berlebihan. Karena aku tahu itu tidak akan pernah terjadi.

Aku cuma Park Cheondung. Pemuda yang terlalu berharap atas cinta sepihaknya pada Shin Haewoon. Aku tahu bukan namaku yang ada di hatinya, aku tahu itu Junsu. Kim Junsu, pemuda menyebalkan yang entah bagaimana caranya bisa merebut segala perhatian Haewoon padanya. Dan hanya sekali lihat, aku tahu perasaan Haewoon juga sepihak, Kim Junsu cuma menganggapnya sebagai sahabat.

Tidak. Tapi tidak untuk kali ini! Aku akan membiarkan egoku berdiri tegak, aku akan menyampaikan perasaanku pada Haewoon. Aku sudah cukup merasa sesak ketika aku kehilangan Haewoon karena terpisah jarak yang begitu jauh. Aku cukup tahu betapa besar ruang di hatiku untuk Haewoon. Setidaknya, aku akan merasa lega, bukan.

KREK.

Nuguseyo?” Nah, siapa gadis ini? Harusnya aku yang bertanya padanya.

“Maaf, ini apartemen nomor 2536 milik Shin Haewoon, bukan?” Tanyaku ragu. Gadis itu bukan Haewoon. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergap hatiku. Mana mungkin Haewoon pindah apartemen? Tidak mungkin.

“Err… maksud anda Shin Haewoon yang dari Mokpo itu?” Tanya gadis yang cukup tinggi tersebut. Aku hanya balas mengangguk. “Aku Hong Sungmi, aku yang meninggali apartemen ini sekarang. Maaf, bukannya Nona Shin Haewoon itu…”

***

“Brengsek!” Kutinjukan tangan kananku yang sejak tadi terkepal pada Junsu, tepat ketika orang itu keluar dari apartemennya. Nafasku menjadi tidak teratur, emosi dalam diriku sulit sekali untuk dinetralisir.

“Cheondung!”

BUGH!

Aku tak peduli lagi. Kutinju lagi hidungnya, hingga darah segar mengaliri hidungnya.

“Bajingan!” Umpatku.

“Hentikan! Ada apa sebenarnya?” Seorang gadis segera berdiri di antara aku dan Junsu saat aku hendak memukul Junsu. Cih, trouble maker.

“Jangan ikut-ikut kau bocah!” Marahku. Aku mendorong tubuh kecilnya itu hingga ia terperosok ke lantai. Dia harusnya sadar untuk tidak ikut campur dalam masalahku dan Junsu.

“Breng一”

“Pukul! Ayo pukul sampai kau puas! Bunuh saja aku kalau kau mau.” Cih. Junsu kau mau menantangku, ya?

“Kau pembunuh! Kau yang membunuh Shin Haewoon!” Teriakku. Aku tak peduli walaupun seisi apartemen mendengarnya. Toh, dia memang pembunuh!

Junsu dan gadis yang tadi kudorong terperangah. Mereka berdua diam sambil menundukkan kedua wajahnya.

“Karena mencintaimu Shin Haewoon mati. Karena kau, Junsu! Damn it!” Sial. Bahkan air mataku tak dapat dibendung lagi. Kutinjukan kepalan tangan kananku pada dinding. Bahkan meskipun dinding itu sedikit retak, rasa sakitnya tak sebanding dengan nyeri di hatiku.

“Maaf.”

Cuma maaf, eoh?

“Maafkan Junsu… sebenarnya aku juga salah atas kematian Shin Haewoon. Andai aku lenyap dari muka bumi, pasti dia akan hidup lebih panjang.” Gadis berambut blonde terlihat menyesal. Sebenarnya permainan apa ini? Aku bahkan tak kenal siapa dia.

“Taeyeon.”

“Andai aku tidak egois dan membiarkan Junsu bersenang-senang dengan Haewoon一”

“Taeyeon!” Junsu berteriak membuat gadis itu berhenti berbicara omong kosong. “Dia… tabrak lari. Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya untukmu, Cheondung. Aku gagal memenuhi janjimu. Kau pantas untuk membunuhku.”

Dasar bodoh. Dia tahu aku tak mungkin membunuhnya, kan?

“Kalian… bawa aku ke makamnya.”

***

Kedua lututku tergetar, aku jatuh teduduk begitu melihat persemayaman terakhirnya.

Ini semua terlalu cepat.

Pertahananku runtuh begitu gerimis membasahi seluruh tubuhku, membuatnya basah kuyup. Aku meletakkan tulip biru di samping nisannya ketika segala anganku melayang ke arah momen ketika kami bersama. Dulu. Itu dulu.

Andai saja aku mengungkapkan perasaanku lebih awal. Andai saja aku tidak membiarkannya berharap lebih pada Junsu. Andai aku tidak menghilang dari pandangannya. Andai aku一andai aku bisa merubah keadaan ini.

Aku menyesal. Haewoonnie…

** END **

Woaaah!! Thunder OOC sekali, ya? *garuk kepala*

Maaf karena sudah membuat Thunder kalian super freak seperti ini. Tapi, percayalah… FF ini cuma untuk senang-senang semata, kok. Special for our ‘umma’s birthday, Milevatia Jumma.

3 comments on “[Ficlet] Special Milevatia’s Birthday :: Regret

  1. annyeong~ iseng buka blog kamu ihihihi~

    aih aku suka ini cerita, nyentuh yah keren🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: