6 Komentar

[Ficlet] Our Friendship Just Like an Egg

Our Friendship Just Like an Egg

Main Characters :

+ Jung Soojung [Krystal] (F(X))

+ Lee Jiyeon [Lina] (CSJH The Grace]

Caemos :

+ Zhang Li Yin [Jang Riin]

+ Jang Dongwoo (INFINITE)

+ Mrs. Jung

Genre :

Friendship.

Rating :

All Ages.

Length :

Oneshot.

A/N :

Ini awalnya tugas untuk cerpen akhir saya. Cerpen buruk emang, tapi rasanya menyenangkan kalau saya ganti tokohnya dengan Krystal-eonni. So, it is purely MINE. Anggep aja Krystal-eonni anak sulung, ya? And the last, ini P.O.V semua punya Krystal. :3 Get it? No bashing then.

***

Mentari malu-malu menyembunyikan wujudnya dari ufuk barat. Meninggalkan rona berwarna oranye di permukaan atmosfer. Angin semilir membelai helai rambutku tepat ketika seorang perempuan keturunan Japanese-Korean menghampiriku.

“Namamu siapa adik manis?” Perempuan kecil yang kelihatannya lebih tua dariku itu memandangku antusias. Entah, aku tak mengerti apa yang sebenarnya ia lihat dariku.

“Jung Soojung.” Jawabku canggung.

“Oh…” Dia membeo lalu tersenyum manis, membuat kedua mata sipitnya hilang tak terlihat. “Salam kenal ya, Soojung? Panggil aja aku Jiyeon-eonni.”

Aku masih ingat benar kejadian 11 tahun yang lalu itu. Awal dimana aku memiliki teman pertamaku, Jiyeon-eonni.

 

***

Senja hampir menyelimuti dunia, namun aku masih asyik memandangi lintasan kelereng tak jauh dari rumah. Aku sangat tertarik pada lintasan yang dibangun memanjang dan megah oleh tetangga sekaligus teman sekelasku, si sombong Dongwoo. Tanpa sengaja jemariku menyentuh kayu lintasan.

“Ngapain kamu pegang-pegang lintasanku?” Nah, lihat. Kakaknya si sombong yang sama sombongnya, Jang Riin. Dia memelototiku dengan mata bundarnya, aku makin takut lagi dengan pakaian kedodoran yang membuatnya tampak seperti jemuran.

“Memang kenapa?” Tanyaku tanpa takut.

“Jelas ini kan punyaku. Kamu nggak boleh pegang. Ngerti?” Teriaknya tepat di depan wajahku. Baru punya benda tak berguna seperti ini saja sombongnya keterlaluan. Apalagi kalau punya dunia? “Tak kasih tau ke Dongwoo nanti, ya? Tak suruh biar dia mukul kamu ntar!” Ancamnya.

“Nggak takut.” Gumamku dengan nada mengejek.

Amarah Riin-eonni tampaknya sudah sampai ubun-ubun. Dia menghentakkan kakinya ke tanah dan memanggil nama Dongwoo hingga laki-laki yang sepantaran denganku itu menghentikan permainan kelerengnya dan berjalan gontai ke arah Riin-eonni.

“Apaan sih, noona? Ganggu aja.” Keluhnya sambil menautkan alis. Seolah tak peduli, Riin-eonni berbisik di telinga Dongwoo, sementara Dongwoo hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mereka berdua ini kenapa, sih?

“Oh itu sih gampang. Nggak usah ngotori tangan, langsung aja nih.” Dongwoo menyeringai dan melempar kelereng di tangannya. Naas sekali, kelereng itu terkena tepat di mata kananku. Alhasil aku hanya bisa menjerit dan menangis kesakitan. Lebih-lebih, aku bahkan jatuh terduduk di tanah berdebu yang mengotori kaos berwarna putih yang kukenakan.

“Sial! Sialan kalian!” Umpatku. Air mata terus mengalir dari pelupuk mata, meskipun ego sempat menahanku untuk berhenti mempermalukan diri dengan tangisan. Mereka berdua hanya menertawakanku dengan tawa nista mereka yang dibuat-buat.

Karena tidak ada seorangpun selain kami disana, aku pikir tidak akan ada yang menolongku. Namun ternyata tidak, lengan seorang perempuan membantuku untuk bangkit dan ia mengalungkan lenganku pada bahunya.

“Kalian itu nggak punya otak. Percuma ya ngomong sama orang yang nggak punya otak. Nggak ada gunanya.” Ujar perempuan yang tadi menolongku.

“Jiyeon-eonni.” Lirihku. Untunglah ada dia.

Jiyeon-eonni menoleh padaku dan tersenyum seolah menguatkanku.

“Lempar dia Dongwoo, lempar.” Desak Riin-eonni sambil menyikut lengan Dongwoo.

“Apa? Mau ngelempar?” Tantang Jiyeon-eonni dengan berani. Dia membungkukkan badannya dan meraup batu dan pasir dalam genggamannya. “Lempar aja sini! Tapi kalau tak lempar balik jangan nyalahin aku.”

Dongwoo. Si cowok banci yang beraninya cuma sama perempuan itu terlihat ketakutan. Mungkin dia teringat kejadian tempo hari saat dia dipukul membabi-buta oleh Jiyeon-eonni hingga babak belur. “Udah ah, noona. Mendingan pulang aja. Sudah mau malam, nih.”

Riin-eonni mendesah kecewa. “Jiyeon, jangan dipikir aku takut sama kamu, ya?” Mereka berdua kemudian berlalu dari hadapan kami. Dasar… Bilang takut saja gengsinya setengah mati.

“Hey, matamu merah.” Jiyeon-eonni mengamati mata kananku yang tadinya terkena lemparan kelereng dari Dongwoo. “Ayo, biar eonni antar pulang.”

 

***

“Kenapa nggak bilang kalau nggak ada orang di rumah, sih?” Keluh Jiyeon-eonni. Ia berjalan mendekati kotak obat yang menempel di dinding rumahku, tepatnya di dinding ruang keluarga.

“Mana aku tahu, kan aku lupa.” Cerocosku. Jiyeon-eonni berjalan mendekatiku dengan obat mata di tangannya. Dengan tangan ia mengisyaratkanku untuk berbaring di sofa yang tentu saja aku patuhi. “Ish, perih rasanya.” Keluhku ketika Jiyeon-eonni meneteskan beberapa butir obat mata pada mata kananku. “Aku pasti bakal ngebales si Dongwoo.”

Jiyeon-eonni menggelengkan kepalanya dengan senyum datar. “Kamu itu ya… berani cuma di mulut doang. Coba si Dongwoo ada di depanmu sekarang, pasti kamu nggak bakal berani nyentuh dia seujung rambutpun, kan?” Tanyanya diiringi tawa pelan. Sialnya aku yang menjadi bahan tertawaannya. “Kamu mesti begini. Suka bikin masalah, but see… akhirnya malah kalah. Ujung-ujungnya aku yang selalu bantuin kamu.”

“Cih. Bilang saja nggak ikhlas.” Cibirku. Dia hanya tergelak dan memukul bahuku.

“Bukan begitu. Maksudku itu, kok rasanya mustahil aku ngebantuin kamu cuma karena kebetulan. Coba kamu hitung berapa kali aku bantuin kamu. Nih, ya… pas kamu dijauhin si Taeyeon gara-gara nggak mau ngasih dia contekan, kasus pas kamu matahin tali jam tangannya Sunyeong-eonni sampai dia marah besar, terus pas kamu kelaparan gara-gara nggak dibolehin makan sama mom and dad-mu, dan juga一”

Stop!” Seruku. Kalau tidak direm, bisa-bisa seluruh aibku dibongkar oleh Jiyeon-eonni. Kuat-kuat begitu sebenarnya dia juga ember bocor. “Ini nggak lagi nyebutin daftar kasus kriminalitas, kan? Kaya polisi aja.”

“Oke oke. Kesimpulannya, kayanya Tuhan benar-benar menakdirkan kita berjodoh, deh.” Tuturnya tanpa dosa.

Berjodoh?

“Kita berjodoh? Sorry eonni, aku masih waras. Sama cowok aja mikir dua kali… apalagi sama cewek.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sok dramatis. “Eonni itu jodohnya sama Boy. Monyet piaraan si Dongwoo itu hahaha.”

Wajah Jiyeon-eonni memerah, warna kulitnya yang kuning langsat membuatnya terlihat jelas. Wah, bisa murka orang ini. “Jung Soojung! Nappeun neo!” Amuknya lalu menjitak pucuk kepalaku.

Aku hanya tertawa kecil menanggapinya. Faktanya, Jiyeon-eonni adalah sosok kakak yang baik.

 

***

Aku dan Jiyeon-eonni sekarang sedang berada di basecamp. Basecamp adalah sebutan untuk bangunan utuh namun tak lagi dipakai milik keluarga Lee yang digunakan kami berdua untuk berkumpul bahkan makan-makan sekalipun.

“Eh, ini nggak papa dihabisin?” Tanya Jiyeon-eonni sambil menyicipi kue putri salju milikku. Aku memang sengaja membawa setoples kue kecil berhias gula halus tersebut ke basecamp.

“Nggak papa. Toh di rumah juga masih ada kue kacang.” Responku. Jiyeon-eonni membeo kemudian melahap putri salju itu lagi.

“Eh, persahabatan kita ini seperti telur, ya?” Dia tersenyum idiot, sementara aku mengernyit tak mengerti.

“Kok telur?” Tanyanku.

“Iya. Kulit telur kan melindungi isi telur dari luar. Kalau diibaratkan, aku kulit telurnya, terus kamu isi telurnya. Kan kamu mesti minta perlindungan.” Jelasnya sambil tertawa.

“Benar juga.” Gumamku tak penting.

“Yup. Watashi wa tamago no karada to, anata wa ran’ō to narimasu. (Aku kulit telur, dan kamu yang akan jadi kuning telur-nya)” Katanya dengan bahasa planet.

‘Ngomong apa, sih?’ Batinku dalam hati.

Tapi, Jiyeon-eonni benar. Persahabatan kami memang seperti telur.

 

***

“Mom bilang aku akan pindah.” Ujarku sembari menerawang langit-langit basecamp. Masalah ini benar-benar membebani pikiranku akhir-akhir ini.

“Kemana?” Tanya Jiyeon-eonni hati-hati. Raut wajahnya yang tadi ceria telah menguap entah kemana, berganti dengan ekspresi sedih seakan takut kehilangan sesuatu.

Kutopang daguku. “Nagasaki.”

Dagu Kak Kiki mengeras. “Kenapa? Kamu bosan ya disini? Atau bosan denganku?” Tanyanya sedikit menaikkan intonasi suara miliknya.

Aku menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk mata agar tak jatuh sia-sia. “Nggak! Aku nggak pernah bosan disini asal eonni tahu. Aku suka disini.” Bantahku. Tanpa terasa lelehan air mata membasahi kedua pipiku. Aku sedih sekali karena tidak bisa meyakinkan Jiyeon-eonni. Bagaimanapun dia sahabatku yang paling berharga. “Tapi mom bilang, dad ditawari job besar di Nagasaki, dimana ia tidak bisa mengelak. Jadi, karena itulah aku harus pindah ke Jepang.”

“Kapan?” Tanyanya datar. Bahkan tangannya tak terulur sekalipun untuk menenangkan aku yang tengah menangis.

“Minggu depan.”

 

***

Aku melangkah gontai dengan ransel menempel di punggungku. Mom and dad, keduanya sibuk membersihkan pakaian dan beberapa peralatan rumah tangga yang diperlukan. Jujur, rasanya berat sekali untuk pergi dari Korea. Disini tempat aku tumbuh. Korea juga tempat dimana aku memiliki sahabat baik seperti Jiyeon-eonni.

Tapi buruk sekali. Aku rasa hubungan persahabatan kami berdua akan putus di tengah jalan. Sejak aku jujur padanya soal kepindahanku hari ini, dia benar-benar tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Padahal jarak rumah kami hanya lima meter, mustahil memang jika dia tidak terlihat oleh mataku. Dan benar saja, ketika aku bertanya pada eomma-nya, Lee-ahjumma berkata bahwa Jiyeon-eonni berada di Mokpo, di rumah appa-nya. Yang aku tahu Jiyeon-eonni memiliki orang tua yang bercerai, singkat kata dia anak broken home.

Mungkin aku terlalu bergantung dengannya sampai-sampai aku merasa sulit ketika tidak bertemu dengannya. Dan ketergantungan ini akan berhenti. Ya, sebentar lagi ketika aku menetap di Nagasaki.

“Soojung, Jiyeon di depan tuh. Temui sana.” Suruh mom yang sedang menggotong kardus dari dalam kamar.

Lantas aku berlari menghampirinya yang berdiri di balik pintu rumahku.

“Eonni.” Lirihku. Dia tersenyum, tapi aku malah menangis. Pasti wajahku terlihat konyol sekarang.

“Jangan nangis.” Gumam Jiyeon-eonni. Ia menghapus air mataku dengan telapak tangannya. Ia lalu memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. “Kalau pindah nggak boleh nangis.”

Mana bisa aku nggak nangis? Rasanya ingin sekali berteriak, tapi sayang sekali gengsi melarangnya.

“Aku pikir eonni marah sampai minggat ke Mokpo. Untung hari ini eonni datang.” Jelasku sambil sesenggukan.

Jiyeon-eonni tertawa pelan. “Ngapain eonni marah?” Dia melepas pelukannya lalu menggenggam tangan kananku. “Denger ya, kalau nanti kamu pindah jangan ngelupain eonni, lho. Terus belajar, banggain orangtuamu. Jangan pernah kalah kalau di-bully orang lain. Ngerti?” Aku hanya bisa mengangguk sembari menghapus air mataku sendiri. “Nggak boleh cengeng juga. Terakhir, belajar bahasa jepang yang bener, ya? Eonni pengen nanti kalau kita ketemu kita bisa komunikasi pake bahasa jepang.” Aku mengangguk lagi. Jiyeon-eonni adalah gadis keturunan jepang sehingga aku paham jika lumayan fasih berbahasa jepang, mungkin karena itulah dia menuntutku untuk bisa berbahasa jepang sepertinya. “Ini kenang-kenangan dari eonni. Pake kulit telur biar kamu inget sama eonni-mu yang paling cantik ini. Membuat ini saja eonni harus lari ke Mokpo.” Aku terkekeh mendengar gurauannya, sementara tanganku menerima bingkai foto cantik berhias kulit telur darinya.

“Makasih.” Kataku lalu memeluk bingkai foto tersebut erat.

Jiyeon-eonni mengacak rambutku. “Eonni senang punya dongsaeng seperti kamu.”

“Aku juga.” Jawabku lirih.

“Sana pergi. Mom-mu sudah nyuruh naik taksi tuh.” Ujarnya sambil menunjuk mama yang duduk di sebelah sopir. Aku mengangguk lantas pergi dari hadapan Jiyeon-eonni dengan membawa bingkai foto kenang-kenangannya. Jiyeon-eonni memang sok tegar, buktinya dia menangis ketika aku berlari menuju mom. Dasar.

Tapi aku bahagia memiliki kakak sebaik Jiyeon-eonni. Aku berdoa pada Tuhan agar suatu hari kami bisa bertemu lagi. Ya, di lain waktu.

Jaljayo, Jiyeon-eonni.

*** THE END ***

Huaaah… pasti freak overload T.T

Ga berharap deh untuk dapet nilai bagus kalo pake nih cerpen. At least aku sudah berusaha^^

Actually, i miss my old friend. Guys, i miss you! *kecup atu-atu*

6 comments on “[Ficlet] Our Friendship Just Like an Egg

  1. Senangnya baca fic tentang persahabatan!!!bagus chingu!
    Cuma tadi masih ada nama “ka kiki” di tengah-tengah cerita but overall bagus!

  2. Aku new reader!! Hehehe
    Itu perlu sequel thor u,u
    tapi suka banget sama ceritanya!
    Daebak /y

  3. Annyeong, aku mampir lagi~
    Bagus thor. Jarang-jarang buat yang kaya begini😄
    Bahasanya ringan banget.. Suka sih, cuma “Kak kiki” itu siapa?😄
    Ngehaha, good job thor~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: