12 Komentar

[3/3] Fate

Tittle : Fate

 

Author : Choi Jinyeong

Main Cast(s) :

+ Kim Myungsoo [L] (INFINITE)

+ Jung Soojung [Krystal] (F(x))

Cameo(s) :

– F(X)’s Member一minus Amber.

– INFINITE’s Member

Pairing(s) :

MyungStal | MyungEun | MinStal.

Genre :

Drama | Angst | Romance.

Rating :

PG-15.

Length :

Short Story (3 Chapters).

Warning :

Fail! | Pointless | Alur gajelas | Deskripsi hancur.

Summary :

INFINITE’s L dan f(x)’s Krystal dipertemukan kembali pada kehidupan selanjutnya. Dimana pada kehidupan sebelumnya mereka tidak bisa bersatu.

Part 1 | Part 2

oOo

Hujan.

Beberapa bulir air dari langit merayap pada atap rumah Soojung.

“Gentingnya bocor.” Gumamku. Soojung hanya diam tak merespon, pandangannya kosong. Dengan kerja kerasku, akhirnya aku bisa membawa Soojung kembali ke rumahnya. Dia sangat terpukul saat tahu Minho membunuh eonni-nya一setidaknya Minho yang mengatakan eonni-nya mati. “Soojung…”

“Maaf.” Lirihku bahkan hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri. Aku sungguh berdosa telah menghancurkan kehidupan gadis ini. Bahkan puncaknya hingga ia kehilangan Sooyeon.

“Aku… aku hidup dan bekerja keras cuma untuk eonni.” Gumamnya. “Dunia terasa berbeda ketika dia tak ada. Bahkan langit menangisi kepergiannya.”

Aku berjengit saat mendengar bunyi petir menggelegar. “Ikhlaskan dia pergi, Soojung.”

Soojung membelalakkan kedua bola mata hitamnya padaku, “Semudah itu? Kau bilang semudah itu? Tch, kau belum pernah kehilangan siapapun, kan? Berbeda denganku, Myungsoo-goon.”

Baiklah, mungkin aku salah untuk menyuruhnya meng-ikhlaskan eonni-nya.

“Dia alasanku hidup.” Gumam Soojung. Air matanya mengalir lagi dari pelupuk matanya.

Tanganku secara reflek bergerak untuk menghapus air mata di pipi mulusnya, “Kalau begitu… mulai sekarang, cobalah hidup untukku.”

***

Aku terbangun tanpa sebab. Kulihat cahaya menyeruak dari jendela satu-satunya di rumah Soojung. Menyilaukan.

Masih dengan kantuk aku berjalan menuju kamar Soojung. Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja.

“Soojung…” Panggilku sembari mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban. Aku tak tahu kenapa, tapi perasaanku jadi tidak enak. Mana mungkin dia pergi mencari kayu bakar dalam keadaan depresi seperti kemarin? Tidak mungkin.

Aku berlari ke luar rumahnya, namun tak ada seorangpun disana. Hanya pepohonan yang bersambut dengan kilauan cahaya matahari. Aku kembali ke dalam rumahnya, mencari Soojung sambil memanggil-manggil namanya berulang kali.

“Soojung.” Tidak ada. Gadis itu tidak ada disini, tapi dimana?

Aku berjalan ke satu ruangan dalam rumah kecil ini yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku rasa ini kamar mandi, dan… mencurigakan!

“Soojung…” Kuketuk-ketuk pintu toilet yang tertutup rapat dengan kesabaran yang kupunya. Tapi, sebanyak apapun rasa sabar itu, aku bukan lelaki yang sabar! Alhasil aku mendobrak pintu kamar mandi itu dan…

Kedua lututku bergetar hebat, dan membuat aku jatuh terduduk di lantai. Rasa kaget, ngeri, sedih, ketiganya bercampur dalam dadaku, membuatnya berkecambuk. Tanpa terasa air mataku mengalir setelah 20 tahun tidak menangis.

“Soo…” Lirihku kemudian mendekati gadis yang kedua matanya terkatup itu. “Soojung, bangun…”

Aku mengguncang-guncang wajahnya dengan kalap. Kucoba mencari detak jantungnya, namun naas…

Tidak terasa. Jantungnya tidak berdetak. Dia…

“ANDWAE!” Teriakku. Pandanganku memburam karena air mata sialan di pelupuk mata. Dengan hati-hati aku menyentuh pergelangan tangan kirinya yang tersayat一sepertinya一oleh cutter yang ia pegang di tangan kanannya yang telah mendingin.

Darah itu masih belum berhenti mengalir. Cairan merah itu mengotori lantai kamar mandi. Bau darah yang anyir menusuk hidungku.

Jangan mati!

Jangan mati, Soojung!

Aku mohon… kukepalkan tanganku, berdoa pada Tuhan agar dia mengabulkan permintaanku untuk saat ini.

Masih dengan keadaan terguncang, aku menggendongnya, membawanya keluar dari hutan ini. Aku kehilangan arah…

Saat tiba di pemukiman penduduk, samar-samar aku mendengar ucapan simpati orang-orang yang berada di sekelilingku. Entah mengasihani aku, Soojung, atau bahkan kami berdua. Aku berlari dengan panik hingga tiba di pelataran rumah sakit. Rumah sakit Hyemun.

“Tolong! Tolong aku!” Pintaku. Tenagaku telah terkuras akibat terus berlari dari hutan hingga tempat ini. Aku terlampau lelah, tapi ini demi Soojung.

“Tuan Kim!” Seorang suster berseru panik saat melihatku. Ia berlari mendekat dan menghampiriku.

“Tolong dia…” Lanjutku dengan nafas terengah-engah. Suster itu menoleh ke belakang dan menyuruh rekannya ke arah kami. Mereka berdua membantuku menggendong Soojung dan dengan cepat membawanya ke unit gawat darurat.

Payah, sekarang giliranku yang merasa pening. Dan tiba-tiba semuanya gelap.

“Kyaa! Tuan Kim Myungsoo pingsan!”

***

Kim Myungsoo.

 

Aku Soojung. Apa yang kau harapkan dari surat ini? Berjuta maaf untuk segala hal buruk yang pernah aku lakukan padamu. Aku juga minta maaf karena telah menyembunyikan banyak hal padamu. Aku sangat bersalah karena aku tak bisa mencoba hidup untukmu, aku tak tahan berada dalam tekanan besar ini terus-menerus.

 

Selama ini aku selalu hidup untuk Sooyeon-eonni. Bekerja dan melakukan segala hal untuk mengobati penyakit yang dia derita. Tapi si Brengsek itu datang dan menyekapnya entah dimana. Dia memperalatku untuk melakukan apa yang dia mau dengan iming-iming dibebaskannya Eonni-ku. Aku sudah menyerahkan segalanya padanya, bahkan tubuhku.

 

Aku merasa rendah di matamu ketika dia menyuruhku untuk menyatakan perasaanku padamu. Sebuah perjanjian dia buat secara sepihak, yaitu jika kau membalas perasaanku, maka Eonni-ku akan dia bunuh.

Tanpa aku kira kau membalas perasaanku. Di satu sisi aku bahagia, jujur aku juga mencintaimu, Myungsoo-goon. Walau aku berusaha mengingkari adanya perasaan itu, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri.

 

Di sisi lain, aku tahu ini adalah akhir dari riwayat Eonni-ku. Aku tidak bisa menggadaikan nyawanya dengan perasaan cinta ini.

 

Kau tahu bagaimana rasanya ketika kau kehilangan seseorang yang berharga? Rasanya seperti bulan yang kehilangan sinar mentari untuk dipantulkan. Maaf karena aku memutuskan untuk pergi, aku cuma seorang sampah yang mengganggumu. Aku tidak pantas berada di sisimu walau kita saling menyukai. Aku telah kehilangan harkatku sebagai wanita yang utuh. Aku kehilangan segalanya, Myungsoo-goon.

 

Maafkan aku. Aku memang egois telah memilih ‘bunuh diri’ sebagai jalan satu-satunya untuk berlari. Maaf untuk aku yang telah mengecewakanmu. Maaf untuk perasaan cintaku, maaf untuk membuatmu mencintaiku. Maaf untuk segalanya. Andai reinkarnasi itu benar adanya, aku ingin suatu hari aku bisa bersamamu. Menikah denganmu. Memiliki banyak anak bersamamu. Aku ingin bersamamu. Mungkin di kehidupan yang lain.

Aku merasa pipiku basah karena cairan yang mengalir dari kedua mataku. Sakit sekali rasanya. Aku baru saja kehilangan seseorang yang aku cintai, aku kehilanganmu, Soojung.

“Akulah bulan yang kehilangan sinar matahari itu.” Aku meremas kertas一surat dari Soojung. “Untuk apa lagi aku hidup?”

Kembali ke rumah? Tinggal menunggu hingga Appa menendangku untuk menjadi gelandangan.

Aku berdiri, menatap sendu aliran tenang Sungai Han. Awal kehancuran segala hal berawal dari sini, aku ingin mengakhirinya disini juga.

Aku seperti melihat bayangan Soojung yang sedang tersenyum simpul dari permukaan bening sungai tersebut. Dia seakaan mengajakku untuk kesana. Menemaninya.

“Selamat tinggal dunia.”

BYUR!!

Kututup kedua mataku membiarkan malaikat mencabut nyawaku perlahan-lahan. Aku kira kematian akan jadi hal paling menakutkan. Tapi tidak buruk, sosok Soojung dengan wajah sumringah dan pakaian serba putih datang menggenggam tanganku dan membawaku ke tempat dimana aku bisa beristirahat dengan tenang dan damai. Ya, untuk selamanya…

***

EPILOG

Seoul, 2011.

Aku mengutak-atik ipod di tanganku dengan cuek. Gila. Aku pikir aku harus me-refresh list lagu di ipod ini. Aku sudah bosan. Ck.

“L.”

Aku memandang datar Sungyeol yang berada di hadapanku.

“Apa?” Tanyaku. Mau tak mau aku harus melepas headset yang tadinya menyumbat kedua lubang telingaku.

“Sungkyu-hyung menyuruhmu untuk keluar. Kau tahu kan hari ini kita tidak pemotretan sendiri? Maksudku… ada bintang tamu lainnya.” Jelasnya. Bertele-tele sekali.

“Lalu?”

“Dasar tidak sopan. Kau harus keluar dan memberikan salam pada F(x). Menurutmu apa?” Tanyanya. Aigoo… ngotot sekali sih Sungyeol ini? “Ayo keluar dan beri salam pada mereka. Hanya kau yang belum melakukannya.”

Aku mendesah malas. “Kalian kan tidak memberitahuku sejak awal. Jangan salahkan aku.”

Sungyeol mendengus dan si jangkung itu menarik tanganku keluar dari dressing room. Di luar sana rekanku yang lain sedang asyik bercakap-cakap dengan beberapa wanita. Aku rasa mereka adalah member girlband F(x).

“Bersikaplah yang ramah.” Bisik Sungyeol padaku.

“Ah! Yoreobun, ini rekan kami. Dia habis dari kamar kecil sepertinya. Jadi, maaf kalau telat memperkenalkan diri.” Sungkyu-hyung berbohong tuh… padahal daritadi aku hanya memainkan ipod dengan bosan di dressing room.

“Tak apa, Sungkyu-ssi. Halo, aku Victoria.” Wanita chubby itu menyapaku. Aku hanya mengangguk sambil membisikkan namaku.

“Aku Luna Park.” Gadis berambut paling pendek diantara keempatnya membungkuk padaku. “Salam kenal L-oppa.”

Sejurus killer smile aku sodorkan padanya. Tebar pesona sah-sah saja, kan?

Annyeong haseyo, Choi Sulli imnida.” Gadis bertubuh di atas rata-rata turut menyapaku dengan senyum manisnya. Hm, aku rasa tidak ada salahnya bekerja sama dengan member girlgroup jika bisa cuci mata terus-menerus seperti ini.

“L, pengarah memanggilmu.” Woohyun menunjuk lokasi pengarah. Dimana ada seorang gadis berpakaian seragam sekolah berwarna pink yang sedang berdiri disana. Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah itu. “L?” Telapak tangan Woohyun melambai-lambai di depan mataku. Cih, mengganggu saja dia. Aku jadi tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu di mata member lain.

Wanita bernama Victoria mengikuti arah pandangku disertai senyum, “Dia Krystal Jung. Magnae kami. Dia yang akan dipasangkan denganmu untuk konsep iklan kali ini. Pergilah kesana…”

Alhasil aku berjalan meninggalkan kesembilan orang tersebut menuju ke sutradara.

“L!” Sutradara itu memekik tepat di telingaku. “Konsep baru saja aku jelaskan pada Krystal. Tanyalah pada Krystal, karena aku akan memberikan pengarahan pada rekanmu yang lain.” Dia menepuk pundakku dan berjalan meninggalkanku dengan gadis tak asing di hadapanku ini sendirian.

Aku mengamati gadis bernama Krystal yang sedang membaca script di tangannya. Gadis ini… aish! Aku tidak tahu kenapa, tapi aku seperti sangat merindukannya.

Krystal menghentikan aktivitas membacanya. Ia menatapku lurus. “Ehm. F(x)’s Krystal imnida.” Dia menjulurkan telapak tangannya padaku.

“INFINITE’s L imnida.” Balasku sekaligus menyalami tangan mulusnya. Tanpa perintah dari otak, kedua lenganku seakan bergerak reflek dan mendekap punggungnya. Membuatnya berada di pelukanku sekarang. Aduh! Apa sih sebenarnya yang aku pikirkan? Gawat sekali jika Krystal ini marah padaku. Tapi, naas. Aku tak bisa melepas posisi pelukan ini begitu saja. “Salam kenal Krystal-ssi.”

Punggungnya menegang. Namun ia tidak memberontak sama sekali. Apa mungkin dia merasa sama dengan yang aku rasakan? “Ya, L-oppa.” Ujarnya kemudian melepas pelukan kami. Ia tersenyum. Senyum wanita paling manis yang pernah aku lihat sebelumnya.

Apa Krystal tahu?

Bahkan walau ini mungkin pertemuan pertama kami. Aku merasa ada suatu ikatan antara kami berdua yang berasal dari masa lalu. Ish, kenapa aku jadi melankolis begini, sih?

“L-oppa. Pemotretan akan dimulai.” Kata gadis itu.

“Krystal-ssi.”

“Hm?”

“Apa aneh jika aku berkata bahwa aku menyukaimu meskipun aku baru saja mengenalmu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Krystal memiringkan kepalanya dengan lucu. “Karena… aku juga merasakan hal yang sama seperti oppa.”

Tolong katakan padaku bahwa ini bukan hanya mimpi.

***

Cinta tidak mutlak selalu kalah dengan hal bernama waktu. Walau di awal harus kalah bertaruh dengan waktu, jika memang orang itu adalah jodohmu seperti yang Tuhan tuliskan. Maka percayalah… di waktu lain kalian pasti akan dipersatukan. Itulah yang dinamakan takdir.

*** END ***

A/N :
Mianhaeyo kalo ada yang nggak puas ama ending-nya T^T
Yasudahlah… Pokoknya FF Myungstal ini udah selesai!! *highfive*😄
Dan sekarang saya mau ngelunasin utang-utang ff yang lain u_u
Bye^^

12 comments on “[3/3] Fate

  1. Horray! Woah ceritamu daebak, sungguh! Aku suka gaya menulis kamu, rapi dan mudah dimengerti. Cuma endingnya aja kurang puaaas kurang banyak lol
    aku nantikan ff myungstalmu yg lainnya xD

  2. Thor, gw komen langsung di part 3 gapapa kan? *puppy eyes*
    awalnya gw kira bakal berakhir ngenes, untungnya disambung ama pristiwa masa kini. Canon-nya berasa.

  3. keren aahhh~~~~ myungstal shipper bgt deh😉

  4. sempet menyayangkan kalo endingnya mereka berdua meninggalkan,eh pas baca epilog cukup puas deh. . .buat myungsoo-soojung lagi ya

  5. Waaah, bca FF ini berasa kyag nnton Drama, Daebaaakk thor😀
    MyungSoojung Shiper🙂

  6. Great!
    Kesetanan! Bagus, EYD, slow motion plot, mengocok perut!

    Lanjut, jjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: