6 Komentar

[2/3] Fate

Tittle : Fate

Author : Choi Jinyeong

Main Cast(s) :

+ Kim Myungsoo [L] (INFINITE)

+ Jung Soojung [Krystal] (F(x))

Cameo(s) :

– Choi Minho (SHINEE)

– Son Naeun (A-PINK)

– Jin Bora [Sunday] (CSJH THE GRACE)

– Kim Jaejoong [Hero] (DBSK/JYJ)

– Hwang Miyoung [Tiffany] (GIRLS’ GENERATION)

– F(X)’s Member一minus Amber.

– INFINITE’s Member

Pairing(s) :

MyungStal | MyungEun | MinStal.

Genre :

Drama | Angst | Romance.

Rating :

PG-15.

Length :

Double shot/Two shots.

Warning :

Fail! | Pointless | Alur gajelas | Deskripsi hancur.

Summary :

INFINITE’s L dan f(x)’s Krystal dipertemukan kembali pada kehidupan selanjutnya. Dimana pada kehidupan sebelumnya mereka tidak bisa bersatu.

Part 1

***

Malam ini appa dan eomma sedang pergi ke Seoul kembali. Mereka berkunjung ke kediaman bangsawan Son一dan katanya一untuk membahas rencana pernikahan aku dan Naeun. Aku tidak merasa akan secepat ini aku menikah.

Kuambil mantel tebal untuk menutupi kaos tipisku. Malam ini, kuputuskan lagi untuk pergi ke hutan itu, menghampiri Soojung. Gadis itu telah menangkap semua perhatianku, jauh dengan Naeun. Mungkin aku masih merasa ia, eonni, dan kehidupannya misterius.

Setelah berjalan begitu jauh dan melewati rerimbunan pohon jati yang berjejer dan sangat banyak, aku berhasil menemukan gubuk tempat tinggal Soojung. Tapi, bukan itu yang menarik perhatianku…

“Lepaskan, oppa!”

“Aku tidak mau, Soojung! Kau harus mengikutiku dan aku akan membuat orangtuaku merestui hubungan kita.”

“Tidak mungkin, Minho-oppa! Kau tidak sadar dengan apa yang kau katakan? Bangsawan Choi jelas tidak akan menerima aku, rakyat jelata untuk menjadi menantu dari putra bungsu mereka.”

“Soojung! Aku tidak peduli!”

“Tapi, aku peduli. Eonni lebih membutuhkanku daripada kau.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku tidak mencintaimu!”

“Pembohong!”

Rahangku mengeras begitu melihat konflik antara Minho dan Soojung. Tangan kekar pemuda itu menyeret dan menggenggam lengan Soojung dengan kasar, membuat si gadis merintih kesakitan. Sebelum Minho bertindak terlalu jauh dan kasar, aku keluar dari balik pepohonan dan membuat Minho melepas genggamannya. Soojung langsung berinisiatif untuk bersembunyi di balik punggungku.

“Kau mau jadi sok pahlawan?” Tanya Minho lalu tertawa sarkastik. Aku hanya diam dan melihat apa reaksinya. “Kim Myungsoo, kau sudah memiliki Son Naeun, kan? Lalu untuk apa kau mengganggu kami berdua? Kau selingkuhannya?”

Aku benar-benar tak tahu mana yang salah, ataupun yang benar sekalipun. “Aku rasa Soojung pernah berkata bahwa kau bukan kekasihnya, jadi kalian tidak ada hubungan apapun, bukan?”

Minho melebarkan kedua matanya yang telah lebar pertanda ia akan sangat marah kali ini. “Sial kau Kim Myungsoo!” Ia melayangkan tinjunya pada wajahku, namun reflekku masih bagus, sehingga aku bisa menangkap bogem mentahnya.

“Kau tahu aku tidak suka berkelahi. Jika ingin mendapatkan hati wanita, kau bisa mendapatkannya dengan cara yang adil, kan? Mereka tidak suka dipaksa. Dan… Jangan lupa kejadian kemarin, kau sudah mempermalukan dirimu dan kau ingin melakukannya lagi?” Sindirku yang membuat ia mendelik kepadaku.

Tiba-tiba, Minho menutup matanya kemudian menyeringai, “Baiklah. Jika kau menginginkannya, mari kita lihat apa yang akan terjadi…” Pemuda itu kemudian pergi dari hadapan kami berdua. Dasar pengecut.

“Soojung, kau tidak apa?” Tanyaku yang merasakan tubuhnya menggigil di belakangku.

Gwaenchana.” Lirihnya. “Tapi, aku takut. Minho-oppa pasti serius dengan perkataannya.”

Aku memutar tubuhku hingga kini sosoknya berada di depan mataku. “Jangan khawatir, aku akan melindungimu.”

Soojung mendongakkan wajahnya yang membuatku leluasa untuk memandang wajah cantiknya. “Jujur, aku tidak menyangka kau adalah Myungsoo. Tunangan nona Naeun.”

Aku memang tunangan Naeun, tapi entah kenapa rasanya sakit ketika Soojung mengatakan line-nya tadi.

***

Malam ini aku datang kembali ke gubuk Soojung dan eonni-nya. Dia sengaja menyuruhku untuk datang atas nama terima kasih.

“Hey.” Sapa Soojung sambil tersenyum canggung. Aku rasa ia telah menyelesaikan pekerjaannya sebagai pencari kayu bakar. Ia terlihat cantik malam ini. “Masuklah, Myungsoo-ssi. Kebetulan aku sudah membuat jagung bakar untuk kita bertiga.”

Aku memandangnya penuh tanya, “Kita?”

“Ah, iya. Maksudku aku, Kim Myungsoo, dan eonni-ku.” Ujarnya. Ia menggiringku menuju gubuknya. Mungkin dari luar tampak seperti gubuk, tapi aku bersumpah detil di dalamnya cukup indah dan rapi. Soojung mengisyaratkanku untuk duduk di sebuah kursi kayu setengah lapuk yang berada tak jauh dari pintu masuk. “Rumahku terlalu jelek dan… berbeda dengan milikmu.”

“Tidak. Menurutku ini biasa saja.” Responku, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling gubuk yang hanya terbelah menjadi dua bilah ruangan tersebut.

“Tunggu sebentar. Aku akan memanggil Sooyeon-eonni kemari.” Ijinnya padaku yang hanya bisa kubalas dengan anggukan ringan.

Setelah menunggu dalam keheningan beberapa saat, Soojung keluar dari ruangan yang aku duga merupakan kamar Sooyeon一eonni-nya一dengan wajah gelisah. “Maafkan aku, Sooyeon-eonni tertidur. Mungkin ia kelelahan dan masalahnya adalah aku tidak tega membangunkannya. Jadi, kita makan jagung bakar ini berdua saja, tak apa, kan Myungsoo-ssi?” Tanyanya sambil menunjukkan bakul berisi jagung bakar di dalamnya.

Tanpa merespon aku bangkit dan merebut bakul anyaman bambu itu dari tangan Soojung, membawanya, dan meletakkannya di atas meja.

“Terima kasih, Myungsoo-ssi.” Ujarnya dengan raut malu-malu.

“Ngomong-ngomong, jangan terus memanggilku dengan suffix -ssi.” Protesku yang membuatnya menatapku dengan wajah polos.

Soojung terkekeh ringan, “Lantas aku harus memanggilmu bagaimana? Myungsoo-sajangnim? Myungsoo-sunbaenim? Myungsoo-songsaengnim? Myungsoo-oppa? Myungsoo-goon?”

Gadis ini menarik sekali. “Panggil aku Myungsoo-goon saja bagaimana?”

Ia berjengit, “Kenapa harus Myungsoo-goon? Kita belum kenal sampai sedekat itu, kan?”

“Dasar cerewet!” Sindirku dengan nada datar yang tentu saja membuat amarahnya naik. Andai kau tahu jawabannya, Soojung…

Aku ingin kau memandangku spesial. Suffix oppa telah umum, dan yang lebih menyebalkan lagi, kau telah memakai suffix manis itu pada Minho. Ah, kenapa aku jadi konyol seperti ini, sih?

“Siapa yang kau katakan cerewet? Aku tidak cerewet, bodoh! Aku hanya ber一UHUK!”

Belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya, aku segera menjejalkan jagung bakar di tanganku pada mulutnya. Tentu saja ia terbatuk-batuk dan mengumpat-umpat di hadapanku. Tapi, biarlah… aku tak tahu kenapa, tapi aku suka menjahili gadis cantik ini.

“KIM MYUNGSOO!” Teriak Soojung kalap. Aku hanya terkekeh di sela-sela makanku. Well, ternyata jagung bakar tidak buruk juga. Makanan sederhana ini enak juga rupanya.

Ini adalah makan malam paling berkesan yang pernah aku rasakan.

***

Hari telah berganti, fajar menyongsong dari ufuk timur membuatku sadar bahwa aku telah terbangun dari tidur. Aku tercenung, semalam aku bermimpi tentang Soojung, gadis itu lagi. Gadis yang menarik kedua mataku untuk selalu memandangnya dengan tatapan hangat. Aku bahkan tidak pernah memimpikan Naeun sebelumnya, padahal ia adalah tunanganku.

Aku berdiri dari ranjang dan berjalan membuka jendela kamar. Harum embun dan udara segar pagi hari sontak memanjakan hidungku.

Soojung…

Kenapa aku terus memikirkannya, ya?

Aku mungkin merasa kasihan padanya. Maksudku, ayolah… siapa yang tidak iba melihat seorang gadis hidup sendiri di tengah hutan untuk menghidupi eonni-nya yang tengah sakit? Dan siapa yang tidak merasa sikap Tuan dan Nyonya Choi di pesta pertunanganku itu keterlaluan?

Namun, setelah kupikir-pikir tidak mungkin rasa kasihan memiliki ‘efek samping’ yang begini besar.

Aku ingin hal yang berbeda darinya, bukan hanya sekedar status layaknya yang dilakukan Naeun. Aku tidak sadar aku selalu tersenyum saat melihat ekspresi lucunya yang menurutku manis. Dan saat melihat Soojung dengan Minho, aku… aku cemburu.

Apa perasaan ini adalah ‘suka’? Atau mungkin ‘cinta’?

 

***

Segala emosiku seakan menguap dan akhirnya menghilang ketika kesepuluh jemariku memainkan tuts piano klasik kesayanganku.

Moderato. Harmoni yang indah. Saat memainkannya aku merasa senang, bahagia tak terkira seperti berada di alam bawah sadar. Aku sangat mencintai musik, mereka adalah penghilang depresiku kala segala hal tak berjalan sesuai perkiraanku.

Aku menghentikan segala kegiatanku ketika pintu kamarku diketok-ketok oleh orang di luar sana.

“Tuan Myungsoo-ssi.” Panggil seseorang di luar sana. Suara wanita, pasti itu Hwang Miyoung. “Tolong buka pintunya.”

Aku mendengus. Aku benci ketika orang lain menginterupsi aktivitas yang kulakukan.

“Tunggulah sebentar.” Lirihku yang dengan malas bangkit dari kursi dan membukakan pintu untuk Miyoung. Miyoung adalah salah satu pelayan keluarga kami. “Ada apa?”

Miyoung mengambil sesuatu dari hanbok merah muda-nya. Aku mengernyit heran ketika melihat dua amplop surat telah berada di tangan kanannya saat ini.

“Dua surat untuk Tuan Myungsoo-ssi. Satu dari Nona Son dan mohon maaf untuk surat yang satunya, karena saya tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Surat itu tergeletak begitu saja di depan pintu rumah ini.” Jelas Miyoung sembari menundukkan kepalanya. Aku memandangi kedua amplop di tanganku. Yang berwarna merah jambu dari Naeun, sedangkan yang berwarna putih bersih, tidak bernama. Ini mungkin surat kaleng, batinku.

“Terima kasih, Miyoung.” Lirihku kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Aku mengunci kamar milikku rapat-rapat, kemudian mendudukkan diriku di atas kursi yang berhadapan langsung dengan piano klasik yang tadi kumainkan.

Pertama, aku akan membuka yang berwarna merah jambu.

“Huh?” Decakku saat melihat undangan resital piano di balik amplop tersebut.

Myungie-oppa. Aku harap kau mau pergi bersamaku ke resital piano nanti pukul 8 malam ini. Aku akan menunggumu di rumah.一Son Naeun.

Aku meletakkan undangan resital piano itu ke dalam amplopnya dan mengambil surat lain yang beramplop putih.

Myungsoo-ssi, aku ingin bertemu denganmu karena ada hal yang ingin kubicarakan. Jika kau berkenan, aku menunggumu di tepi sungai Han saat ini.一Soojung.

Soojung? Hal penting? Kenapa dia tidak memintaku untuk menemuinya di gubuknya saja? Kenapa harus sejauh itu? Beribu pertanyaan berputar-putar di kepalaku, membuatku pening.

Aku tak tahu sejak kapan aku melupakan Naeun. Yang aku tahu, saat ini aku berlari… menuju gadis itu. Soojung!

 

***

Aku bersandar pada pohon ginkgo yang rindang dengan nafas memburu. Kau tahu, jarak dari rumah ke Sungai Han tidaklah sedekat itu. Bola mata onyx-ku berusaha mencari keberadaan Soojung, hingga akhirnya aku menemukan seorang gadis ber-hanbok putih tulang perpaduan krem sedang berdiri menatap aliran tenang air sungai Han.

Aku berjalan mendekatinya, setapak demi setapak, “Soojung.” Panggilku hati-hati.

Gadis itu menolehkan wajahnya lalu tersenyum hambar, “Myungsoo-ssi, ah… Myungsoo-goon.”

Aku tersenyum. Soojung terlihat sangat menawan saat ini, namun aneh… kilatan matanya berbeda, tidak hangat seperti biasanya.

“Ada apa?” Tanyaku. Gadis itu membalikkan kepalanya, membuatnya kini berdiri membelakangiku.

“Aku mencintaimu.”

“Kau sedang bercanda?”

“Aku mencintaimu, Myungsoo-goon.” Lirih Soojung dengan nada rendah. Aku hampir tak bisa mempercayai apa yang ia katakan. Ini bukan halusinasi, kan? “Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku tahu kita berbeda. Dan aku cuma punya cinta sepihak.” Punggungnya bergetar, yang membuatku merasa lemah. Aku lemah padanya… “Kau seorang putra bangsawan yang disegani oleh masyarakat di Korea, sedangkan aku? Aku cuma sampah. Kau telah memiliki tunangan, Nona Son. Karena itu aku berkesimpulan, aku mencintai seseorang yang salah.”

Dadaku terasa sesak. Sebanyak apapun aku mencoba untuk menarik nafas, rasanya udara itu tidak pergi ke paru-paru dengan semestinya. Kalimat yang Soojung lontarkan benar-benar menyakitkan. Aku bahkan tak tahu harus menyalahkan siapa.

Aku juga mencintai Soojung. Satu hal yang tidak bisa aku bohongi walaupun statusku adalah tunangan Naeun.

Soojung berbalik. Kelopak matanya sembab, pipi ranumnya bersimbah air mata. Ia mengelus pipi kananku dengan lembut. Ia tersenyum, senyuman palsu. “Tenanglah, aku tidak menuntut balasan darimu. Aku sudah merasa lega saat mengatakannya.” Jelasnya. Ia menutup kedua kelopak matanya, membiarkan deru angin menerbangkan helai rambut panjangnya yang terurai bebas. “Terima一”

Aku memeluknya tanpa membiarkan ia menyelesaikan kalimatnya.

“Kasih…” Sambung Soojung lirih. Ia menyandarkan kepalanya pada dadaku.

Basah. Pakaian yang kukenakan sedikit basah, terkena bulir kristal dari kedua matanya.

“Kau bukan sampah, Soojung.” Gumamku. Tanpa sadar tangan kiriku merengkuh erat pinggangnya, membiarkan tubuh ringkihnya berkontak langsung denganku. “Dan… ini bukan cinta sepihak.”

Tubuh Soojung mengeras dalam dekapanku. Ia memandangku lekat-lekat, namun kedua tangannya masih merayap di dadaku. “Apa maksudmu?”

Aku merapatkan wajahku padanya hingga kedua hidung kami bersentuhan. Aku terkekeh ketika ia malah membuang pandangannya ke arah lain. Ck, gadis pemalu.

“Ini salah…” Desah Soojung. Ia mendorong badanku hingga pelukan kami terlepas. “Kau salah jika kau mencintaiku tapi memiliki Naeun. Itu tidak adil.”

Aku mengangguk. “Kau benar. Tapi memang inilah adanya.” Ujarku. Aku menghembuskan nafas, lembabnya udara membuat hembusan nafasku terlihat layaknya asap. “Aku memang bodoh.”

Wajah Soojung berubah jadi ketakutan. “Myungsoo-goon jangan katakan itu! Jangan pernah katakan kalau kau mencintaiku!” Serunya. Kedua telapak tangannya ia gunakan untuk menutupi telinganya. Ia menggelengkan kepalanya seakan tak mau memahami kenyataan.

“Apa? Aku memang mencintaimu, Soojung. Secara utuh.” Kataku yang masih tidak mengerti apa yang terjadi.

“Ya!” Seseorang berdecak di balik pepohonan. “Jangan pernah menghalangi aku, Minho!”

Naeun? Suara itu milik Naeun.

Apa ia mendengar percakapanku dengan Soojung? Oh, tidak. Riwayatku akan tamat jika begini.

“Kim Myungsoo!” Geram gadis yang sepantaran dengan Soojung itu. Dia dengan segala emosinya berjalan mendekat padaku, sementara Soojung berjalan mundur karena ketakutan. Permainan apa ini?

“Brengsek!” Teriak Naeun lalu menampar pipi kananku. Ia berdiri di depanku, menahan amarah yang benar-benar memenuhinya sekarang. Bahkan wajahnya penuh akan kemarahan, berbeda dengan Naeun polos yang kukenal. “Brengsek! Brengsek! Brengsek kau Myungsoo!” Gadis itu berteriak dan memukul dadaku berulang-ulang.

Aku hanya bisa terdiam, membiarkan Naeun melampiaskan kemarahannya. Bagaimanapun, disini aku yang salah.

“Bajingan!” Naeun berteriak lagi. Ia menampar pipi kiriku kali ini.

“Naeun hentikan!” Seru Minho yang kini berjalan untuk menahan serangan tangan yang Naeun lakukan. Minho… apa ini pembalasanmu? Sialan. “Kim Myungsoo memang bajingan. Ia telah menyakiti seorang gadis yang baik hati sepertimu demi wanita lain, itu benar. Tapi, pikirkanlah… tak ada gunanya kau memukul-mukul dia. Hatinya telah beku, Naeun.”

Minho menyeringai padaku.

Brengsek. Lelaki ini benar-benar一

“Berhenti menyentuh tanganku kodok jelek!” Pekik Naeun pada Minho. “Jangan pikir setelah aku membenci Myungsoo-oppa aku berhenti membencimu!” Kedua mata cokelatnya kini terarah padaku, berusaha mengintimidasiku agar membuatku merasa bersalah. “Myungsoo-oppa lihat apa yang akan terjadi setelah ini semua! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, kau harus camkan apa yang kukatakan ini.” Teriaknya kemudian memendelikkan mata bulatnya. Ia berlari sambil menangis, meninggalkan kami bertiga di tepian sungai Han.

“Hih, katak jelek menakutkan sekali…” Gurau Minho. Ekspresinya berubah saat ia menengok padaku. “Kim Myungsoo, kau kalah, ya?” Seringai tipis tersungging di bibirnya. Dasar bajingan!

Aku hanya menatap laki-laki tua tapi kekanakan ini dengan datar, “Apa yang kau mau?”

Minho tertawa sarkastik sambil menepuk tangannya. “Jangan pernah bertingkah sok keren di hadapanku!” Makinya lalu mencekik leherku. Sial, aku bahkan tak bisa bernafas.

Soojung menjerit melihat apa yang terjadi di depannya. Ia jatuh terduduk kemudian menangis. Dia seperti seorang anak kecil yang mengalami phobia.

“Aku hanya ingin gadis yang saat ini kau perhatikan!” Lanjut Minho yang ternyata mengikuti arah pandangku. Sesaat kemudian, ia melepaskan tangannya dari leherku. “Dan karena dia jual mahal dan kau yang sok menjadi pahlawan kesorean. Maka inilah balasannya. Lihat apa yang akan Naeun lakukan nanti. Dan Soojung…” Laki-laki bermarga Choi itu mendekat pada Soojung. Ia berjongkok dan menyentuh dagunya. “Perjanjian kita. Masih ingat?”

“Ya!” Tegurku. “Apa maksudmu dengan perjanjian?” Tanyaku. Minho mengacuhkanku dan malah mencium tulang pipi Soojung, membuat gadis itu semakin ketakutan.

“Jangan bunuh eonni!” Teriak Soojung. Kedua pasang bibirnya menggigil. Ia seperti sedang terguncang. “Jangan bunuh eonni-ku!” Ronta Soojung, ia memeluk kaki Minho. Bersujud di bawah kakinya. Menarik-narik si empunya kaki dan memohon-mohon agar Minho mengabulkan permintaannya.

“Ya, Choi Minho!” Teriakku. “Apa yang Soojung maksud?”

Minho memungut sebongkah kerikil dalam genggamannya, “Aku tidak membunuhnya, Soojung. Dia mati dengan sendirinya, asal kau tahu. Lepaskan tanganmu dari kakiku!”

Soojung menggeleng hingga pasir mengotori wajahnya. “Tidak mau! Kau harus kembalikan eonni-ku!”

Minho tersenyum memuakkan, dia melempar kerikil yang tadi ia genggam ke sungai. “Yang telah mati tidak akan kembali. Sejujurnya…” Lelaki itu melirik Soojung yang berada di bawahnya. “Jika kau memohon padaku sebelum ini terjadi, aku pasti akan memperistrimu. Kita berdua pasti akan hidup bahagia dan… ah, tapi itu sudah terlambat Jung Soojung! Jangan harap aku akan mengasihanimu sekarang setelah kau membawa si brengsek Myungsoo ke dalam hidup kita!” Hardik Minho. Ia menginjak kepala Soojung dengan kaki kirinya, membuat gadis yang sedang memelas itu berteriak kesakitan dan melepas pelukannya dari kaki Minho.

Lelaki ini benar-benar!

“Choi Minho!” Pekikku lalu berlari ke arah Soojung yang tersungkur di atas tanah. Aku duduk di dekatnya dan membawanya dalam pelukanku. Melankolis… wajah cantiknya dikotori oleh pasir, begitupula hanbok sederhananya. “Apa yang kau maksud? Eonni-nya. Dimana dia?”

Minho menyeringai lagi. Aku benci melihatnya. “Kau itu tuli? Aku bilang apa tadi? Sooyeon sudah mati!” Teriaknya sambil tertawa sarkastik. Soojung, tangisnya makin keras. Tragis sekali. “Dan kau Kim Myungsoo! Jika aku tidak bisa memiliki hati Soojung, maka tidak ada yang boleh memilikinya!” Dan ia berjalan pergi dengan senyuman puas. Ya, puas setelah menghancurkan aku dan Soojung.

Choi Minho memang gila.

Aku menepuk punggung Soojung tanpa bisa mengatakan sepatah katapun. Dia pasti sangat berduka atas kematian eonni-nya, aku jelas tidak tahu bagaimana rasanya, sebab aku tak pernah kehilangan seorangpun dalam hidupku.

“Sooyeon-eonni…” Tangisnya. “Minho-oppa brengsek.”

Aku tak tahu harus berbuat apa pada seseorang yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Aku hanya bisa memeluknya dalam diam. Ya, lebih baik aku diam.

 

To Be Continued

6 comments on “[2/3] Fate

  1. sadis!tragis!ff nya sukses buat hatiku jungkir balik.huhuhu
    tapi overall keren

  2. Thor, aku ninggalin jejak sini dulu, ya?
    Tragedi banget ssica mati -cry-
    Myungsoo-ah… Krystal…. Ah, complicated, really.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: