15 Komentar

[1/3] Fate

Tittle : Fate

Author : Choi Jinyeong

Main Cast(s) :
+ Kim Myungsoo [L] (INFINITE)
+ Jung Soojung [Krystal] (F(x))

Cameo(s) :
– Choi Minho (SHINEE)
– Son Naeun (A-PINK)
– Jin Bora [Sunday] (CSJH THE GRACE)
– Kim Jaejoong [Hero] (DBSK/JYJ)
– Hwang Miyoung [Tiffany] (GIRLS’ GENERATION)
– F(X)’s Member一minus Amber.
– INFINITE’s Member

Pairing(s) :
MyungStal | MyungEun | MinStal.

Genre :
Drama | Angst | Romance.

Rating :
PG-15.

Length : Three-shots

Warning :
Fail! | Pointless | Alur gajelas | Deskripsi hancur.

Summary :
INFINITE’s L dan f(x)’s Krystal dipertemukan kembali pada kehidupan selanjutnya. Dimana pada kehidupan sebelumnya mereka tidak bisa bersatu.

***

Seoul, 1962.

“Ini putra anda bangsawan Kim?” Wanita tua yang berdiri berhadapan dengan eomma memandangku sekilas. “Tampan sekali.” Pujinya. “Ya, kan Naeunnie?”

Perempuan muda di depan wajahku mengangguk memperlihatkon rona merah di wajah putihnya yang bersih tanpa cacat cela.

“Ini putri tunggal kami, Son Naeun, Kim Jaejoong-ssi.” Lelaki tambun yang berdiri lurus di hadapan appa tersenyum hangat. “Ini akan sangat menyenangkan jika benar kita berbesan.”

Aku membelalakkan kedua mataku. Apa ini? Perjodohan ini cuma keputusan sepihak. Sial, aku dijebak.

Appa menyesap secangkir kopi miliknya, “Aku rasa begitu.”

“Son Naeun imnida.” Tangan kanan gadis itu terulur padaku. Aku tahu sejak tadi ia ingin mencairkan suasana一karena aku tak berbicara sepatah katapun.

Jadi, gadis seperti ini, ya? Gadis ini yang appa katakan satu derajat dengan bangsawan Kim. Cantik memang, tapi tidak menarik.

“Kim Myungsoo imnida.” Aku menyalami tangannya lalu melepaskan tanganku tanpa bermaksud membiarkannya terlalu lama berada di atas euforia sepihaknya.

“Aku rasa mereka cocok. Myungsoo dan Naeun. Aigo, Kim Myungeun一nama bayi yang indah, kan?”

Aiish, ahjumma gemuk ini benar-benar berimajinasi terlalu tinggi. Apa ia sudah yakin 100% bahwa aku mau menikahi putrinya?

***

Aku Kim Myungsoo. Aku lahir di tengah keluarga bangsawan Kim yang kaya raya. Kim Jaejoong dan Jin Bora一keduanya adalah orangtua kandungku. Tahun ini aku baru saja menginjak usia yang ke-25 tahun. Mereka menilaiku telah cukup umur untuk menikah dengan alasan ingin menimang cucu dariku. Mereka memang aneh…

“Myungsoo-ah bagaimana menurutmu putri bangsawan Son?”

Aku menoleh dengan wajah datar, “Menurut eomma?” Aku melontarkan pertanyaan itu kembali padanya. “Dia cantik一”

“Sudah kuduga! Yeobo, siapkan acara pertunangan Myungsoo dan putri bangsawan Son dalam dua hari ke depan!”

Aku mendesah depresi mendengar teriakan eomma yang telah memenuhi kediaman besar kami. Aku menghela nafas, berusaha untuk menetralkan emosi yang telah mencapai ubun-ubun. Eomma selalu begitu, tidak pernah mendengarkanku hingga selesai dan malah menyimpulkan apa yang aku katakan seenaknya sendiri. Aku harus meluruskan semua ini? Percuma saja.

Tanpa terasa sepasang kaki jangkungku membimbing tuannya ini hingga masuk ke dalam ruanganku sendiri. Kamar yang cukup luas sebenarnya. Ranjang king size yang diletakkan lebih-kurang satu meter di sebelah kanan jendela, lemari jati yang aku beli sendiri dengan gaji pertamaku terlihat berdiri tegak di sebelah ranjang. Benda lain yang terlihat mencolok adalah tiga buah rak buku yang menjulang tinggi dan penuh sesak berisi buku-buku tahun 20-an tentang musik一sekilas ruangan ini lebih terlihat sebagai perpustakaan daripada kamar. Aku mencintai musik, terbukti dari sebuah grand piano klasik yang sengaja aku letakkan membelakangi ranjang一tepatnya grand piano tersebut berhadapan dengan sebuah kaca besar yang memantulkan bayangan piano terbaik yang pernah aku miliki ini.

Kupijit keningku. Semua hal telah berjalan dengan buruk hari ini. Perjodohan, pertunangan, dan apalagi setelah ini? Pernikahan?

Merepotkan sekali.

Jujur, menjadi anak seorang bangsawan tidak senyaman apa yang kau pikirkan. Status, ya… aku memilikinya tanpa setetas keringat, harta bergelimang, dan banyak hal lagi. Tapi ada satu hal yang tidak kumiliki…

Kebebasan.

Walau status kami berada di atas rakyat jelata, tapi itu semua tak ada apa-apanya jika harus tinggal dan dikerangkeng terus menerus.

Aku harus patuh pada kedua orangtuaku. Aku harus mengorbankan semua keinginanku untuk harapan mereka. Bahkan untuk memilih hal kecil macam cinta sekalipun, aku tidak bisa mempergunakan hakku.

Tidak ada kebebasan. Tidak ada gairah hidup.

Aku menutup mataku, menarik nafas dalam-dalam dan mulai menekan tuts piano. Memainkan sebuah serenade tentang kehidupan dalam belenggu.

***

Malam ini bulan purnama. Aku sangat menyukai malam hari dimana satelit alami tersebut terpantul cahaya secara penuh一menurutku itu indah sekali.

“Myungsoo, kau mau kemana?” Tanya eomma yang kebetulan berada di ruang tengah. Aku hanya mengabaikannya. Aku tak suka membuang waktu berbicara dengan eomma karena tak ada manfaatnya bagiku.

Keluar dari rumah, aku menutup kelopak mataku. Membiarkan anak-anak rambut menutupi wajahku karena angin. Aku berjalan kemanapun kedua kakiku membawanya pergi.

Tanpa terasa aku terbawa ke sebuah hutan. Gelap dan dingin一aku rasa aku harus berterimakasih pada bulan yang malam ini bersinar dengan penuh. Tapi, di balik itu semua, aku bisa melihat seseorang dari kejauhan yang sedang memanggul kayu di punggungnya. Sesekali orang itu mengusap keningnya. Dia seorang wanita一dan fakta itu benar-benar membuatku kaget. Aku putuskan untuk mengikutinya tanpa alasan khusus一aku hanya iseng dan penasaran saja.

Langkah demi langkah aku mendekat padanya一sesekali aku bersembunyi di balik pohon ketika ia berbalik ke belakang. Tidak terlalu lama, ia masuk ke dalam sebuah gubuk dengan pencahayaan seadanya.

‘Mungkin itu rumahnya.’ Simpulku. Aku baru tahu ternyata ada sebuah gubuk di dalam hutan, apalagi rumah kecil itu ditempati oleh seorang wanita. Makin haus akan rasa penasaran, alhasil aku mendekat pada gubuk yang hanya dibangun dari kayu tersebut dan mengintip dari sela-sela lubang ventilasi yang berada di dekat pintu.

Rasa kagetku semakin menjadi-jadi saat kulihat ada seorang gadis lain di dalamnya. Gadis kurus yang sedang terbaring di ranjang kecil, wajahnya pucat一mungkin ia sedang sakit. Hanbok warna kuning yang ia kenakan-pun telah pudar…

Ini, ya sisi lain kehidupan?

“Sooyeon-eonni.” Si gadis pembawa kayu bakar menghampiri si gadis persakitan, namun kini tanpa kayu bakar di punggungnya. Ia cantik, wajahnya penuh dengan goresan kerja keras. Tangan kanannya membawa semangkuk err… aku rasa itu sup. “Mianhada. Aku sudah pulang terlalu larut.”

Gadis yang lebih tua menggeleng dengan berlinang air mata. “Kau lihat kayu-kayu itu?” Tanya yang lebih muda. Gadis itu tersenyum tulus一baru kali ini aku melihat gadis sepolos itu. “Besok aku akan menjualnya dan membawa banyak uang untuk eonni agar eonni bisa berobat.”

Gomapseumnida, Soojungie…”

Jadi, itu namanya?

Soojung. Soojung dalam hangeul artinya batu mulia. Nama yang sesuai dengan kepribadiannya.

Soojung…

***

Aku dan Naeun melenggang menuju pelataran ruang tengah bangsawan Son yang luas untuk dansa bersama一walau jujur aku merasa risih dengan tangannya yang merangkul erat lenganku. Seperti yang dikatakan eomma, hari ini aku bertunangan dengan putri tunggal bangsawan Son, Son Naeun.

“Myungsoo-ssi.” Naeun mengguncang lenganku yang membuatku menoleh padanya. “Kenapa kau terus melamun? Ayo kita dansa.”

Mau tak mau aku mengikuti paksaannya. Naeun hari ini terlihat cantik, tapi menurutku gadis bernama Soojung lebih cantik. Eh? Apa yang aku pikirkan? Tidak seharusnya aku memikirkan gadis lain saat pertunanganku dengan gadis yang lainnya.

Kuletakkan tangan kiriku di pinggang Naeun, sementara tangan kananku menggenggam tangan kirinya. Kami berdansa bersama alunan musik klasik. Aku tak percaya seluruh mata di setiap penjuru ruangan memandang kami takjub.

“Myungsoo-ssi.” Naeun berbisik di telingaku. “Boleh aku memanggilmu oppa?”

“Lakukan sesukamu, Naeun.” Responku yang membuat bibirnya melengkung. Kami terus berdansa hingga acara selesai, tapi semuanya terasa begitu hambar bagiku.

“Minho kau gila!” Sekilas telingaku mendengar suara dari nyonya Choi yang sedang mengumpat putranya. Choi Minho adalah sepupuku, dan ia sangat suka berulah. Kali ini apa lagi yang ia lakukan?

“Siapa? Dia kekasihku. Aku ingin agar bukan hanya Kim Myungsoo saja yang menjadi pusat perhatian, tapi aku dan kekasihku!” Gertak Minho. Ia menyeringai ke arahku dan membuatku berhenti berdansa.

“Ya, Minho! Lalu untuk apa kau membawa gadis kampungan itu? Bahkan ia terlihat begitu tidak pantas ketika mengenakan gaun cantik itu.” Hina nyonya Choi terlewat batas. Untunglah eomma tidak seperti nyonya tambun itu.

“Cukup, berhenti menghina Soojung-KU!”

Soojung?

Aku melepas tautan tanganku dari Naeun yang membuatnya mendengus, tapi aku tidak peduli. Aku melirik gadis yang kini sedang menunduk, bersembunyi di balik punggung lebar Minho.

Apa Soojung yang itu?

“Minho-ssi, sudahlah. Aku bukan kekasihmu. Maafkan aku yang sudah mengganggu ketenangan acara ini dan ketenangan kalian.” Ya, ternyata dia gadis yang tinggal di hutan itu. Soojung yang tinggal dengan Sooyeon, tapi ia terlihat berbeda dan tampak sempurna dengan dandanan dan gaun mahal yang ia kenakan一aku yakin ini semua Minho yang mengatur. Aku akan mengalami patah hati jika benar ia adalah kekasih Minho.

“Soojung, bicara apa kau?” Protes Minho.

“CHOI MINHO!” Tuan Choi berteriak, seolah berisyarat agar putra bungsunya diam.

“Maafkan aku.” Lirih Soojung kemudian menunduk ke hadapan semua orang. Aku yakin harga dirinya akan sangat terluka, karena itulah aku merasa wajar saat ia berlari keluar dari acara ini.

“SOOJUNG!” Teriak Minho sia-sia. Saat hendak berlari mengejar gadis itu, kedua tangannya ditahan oleh tuan Choi dan Minseok一hyungnya. Mereka membawanya entah kemana, mungkin untuk menenangkan si magnae dari keluarga Choi.

Para undangan riuh setelah hening sejenak. Mereka membicarakan hal omong kosong yang intinya adalah Choi Minho yang kekanakan dan Soojung yang wanita jalang. Aneh, manusia memang begitu…

Mengadili seseorang tanpa mengenal orang itu sendiri.

Aku akui Minho memang kekanakan dengan sikapnya tadi. Tapi Soojung?

Aku rasa terlalu bodoh untuk memberikan cap bahwa ia wanita jalang hanya karena sikap kekanakan Minho.

“Oppa mau kemana?” Interogasi Naeun begitu aku hendak mengambil satu langkah inisiatif untuk keluar.

“Aku ingin mencari udara segar.” Ujarku asal.

“Aku temani.”

“Tidak perlu. Aku ingin sendiri.”

***

Aku menjejakkan kakiku gusar. Entah kenapa aku merasa khawatir pada si batu mulia一Soojung itu. Tidak mungkin, kan gadis itu berjalan dari Seoul ke Daegu hanya dengan jalan kaki? Ia pasti ada di sekitar sini…

Saat berjalan beberapa langkah aku jadi teringat tujuanku keluar tadi…

Cari udara segar? Bukan kebohongan sebenarnya. Hanya saja, alasan itu adalah alasan nomor kesekian. Sebenarnya aku merasa bersalah pada Naeun.

Bagaimana jika aku tetap tidak bisa mencintainya walaupun aku sudah menjadi tunangannya?

Aku mengacak rambutku yang tadinya rapi. Aku sudah banyak berpikir kegilaan hari ini. Tiba-tiba bulu kudukku meremang ketika samar-samar kudengar suara tangis seorang gadis. Kucari keberadaannya dan betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa itu Soojung!

Ia duduk di bangku taman, membelakangi arah pandangku. Ia terlihat sangat sedih sekarang. Bahkan bahunya yang tak tertutupi kain bergetar hebat.

Aku berjalan mendekatinya dan mengulurkan selembar sapu tangan milikku padanya. Hebatnya ia berhenti menangis, walau masih belum menggapai sapu tangan yang kuulurkan. Ia menengadah, membuatku sejenak terpesona dengan cantik wajahnya. Ia cantik dengan pesona yang berbeda…

“Anda siapa?” Tanyanya. Melihat ekspresi ketakutan di wajahnya, ekspresiku melunak. Kuulas sejurus senyum padanya. Ia mengambil uluran sapu tanganku lalu mengusapnya di pipinya yang basah. “Terimakasih.”

“Sama-sama.” Responku, lalu mengambil posisi duduk di sebelahnya. Ia sedikit panik dan menggeser posisi duduknya sehingga tercipta jarak yang cukup luas di antara kami. “Tenang saja, aku bukan pria hidung belang.”

“Untuk apa malam-malam begini kau disini, Soojung?” Tanyaku.

“Huh? Kau tahu darimana namaku?” Teriaknya ketakutan.

Aku menepuk keningku sendiri. Kenapa aku jadi ceroboh begini, ya? Pantas jika ia merasa curiga saat aku tahu namanya. “Kau… kau menyebutkannya di pesta tadi.”

“Pesta?”

Aku menelan ludah. Semoga saja ia tidak memikirkan macam-macam tentangku. Hey! Aku kan memang tidak berniat buruk, kenapa aku harus khawatir begini, coba?

“Maaf sebelumnya, tapi apa benar rumahmu di Daegu?” Kuberanikan menatap dia yang masih mengusap air matanya.

Kedua matanya membulat. Ia一mungkin一kaget. “Nah, darimana kau tahu? Jangan bilang dari pesta juga!”

Aku menggeleng putus asa, “Tidak, aku hanya mengira-ngira. Rumahku juga di Daegu.”

“Hm, sebenarnya aku juga merasa familiar denganmu.” Ujar Soojung. Ia melakukan kontak mata langsung denganku. Hal kecil itu berhasil membuatku berdebar-debar.

“Kau ingin pulang?” Tanyaku.

Ia mengangguk, “Ya. Eonni menunggu di rumah. Andai Minho-oppa tidak mengancamku untuk datang kemari, akan lebih baik jika aku mencari kayu bakar dan menjualnya.” Ia memainkan kedua kakinya seperti bocah lima tahun. “Ah, aku bercerita terlalu banyak.”

Aku terenyuh. Gadis ini memang pekerja keras…

“Kalau kau ingin pulang, bukannya kau bisa menggunakan jasa bus?”

Soojung menghentakkan sepatu hak tingginya, “Aku akan pulang daritadi andai aku bisa. Sayang sekali, aku tak membawa uang sama sekali karena Minho-oppa.”

Aku merogoh kantung celanaku, berharap ada beberapa uang di dalamnya. Beruntunglah dia karena ada beberapa lembar uang di dalam saku-ku.

“Ini…” Aku menyodorkan tiga lembar uang 10.000 won di pangkuannya. “Itu bukan penghinaan, aku hanya ingin membantumu.”

Raut wajah gadis itu melembut, “Terimakasih. Walaupun kau orang asing, kau banyak membantuku hari ini. Ehm, kau bilang kau tinggal di Daegu, kan? Aku pasti akan mengganti uang ini.”

“Aku pegang janjimu.” Candaku. Sebenarnya, aku tak berharap ia menggantinya. Aku ikhlas. Tapi, sepertinya dia tipikal gadis keras kepala. “Ayo, aku bantu mencari bus.”

Aku menggandeng pergelangan tangannya, ia menurut dan mengikutiku. Kami berhenti di sebuah halte yang dekat dengan kediaman bangsawan Son. Kuisyaratkan agar Soojung duduk, dan baguslah… ia mematuhinya.

Aku menengok arloji yang melingkar di tangan kiriku. Aku sudah menghilang dari pesta pertunanganku selama 30 menit, sungguh gila!

Aku menahan tawa saat berandai-andai betapa paniknya orang tua, Naeun, dan calon mertua-ku itu saat aku tak ada disana. Biarlah… Lagipula aku bosan…

Bunyi klakson bus menghentikan lamunanku. Kendaraan besar itu berhenti di hadapanku. Aku memanggil Soojung dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam bus.

“Cepatlah. Aku rasa ini bus terakhir.” Bisikku kemudian mengelus rambutnya. Hey, aku tidak menyangka aku bisa perhatian sefrontal ini pada gadis yang baru kukenal!

“Terimakasih.” Gumamnya kemudian masuk ke dalam bus. Aku tersenyum sekilas saat ia mengambil tempat duduk di sebelah jendela yang membuatnya kembali terlihat dengan jelas olehku.

Ia melambai padaku sesaat kemudian bus itu berjalan.

Ah, sapu tanganku! Aku yakin kain berwarna biru tua itu terbawa oleh Soojung!

*** To be continue ***

15 comments on “[1/3] Fate

  1. Bagus say.. Hahaha walau cerita simple tapi bagus..cuma kesan jadulnya kok aku ga dapet ya.. Hehehe

  2. huaaaaaaaaaaaaa keren keren hehehe

  3. daebak!tapi agak sedikit modern untuk tahun 1962.hehehe
    alurnya,bahasanya bagus!

  4. […] : Sebelumnya FF ini udah aku publish disini. Hope you’ll […]

  5. sepertinya terlalu moderen yah tapi enggak apa” kok hihihi

  6. so sweet mungstal:3 i ship them!!♡♡ヽ(^。^)ノ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: