Tinggalkan komentar

[Oneshot] That Woman

 

[Oneshot] That Woman

__________________________________________________________________________________

 

That Woman

 

Disclaimer :

All Chara(s) belong to SM-Ent, God, and Theirself.

 

Genre :

Hurt | Comfort | Romance.

 

Rating :

as usual, never be Mature!

 

Main Cast(s) :

~ Shin Haewoon

~ Kim Junsu

~ Kim Taeyeon

 

Pairing(s) :

Woon x Su x Yeon.

 

Warning :

FAIL! | OC | OOC | SUCK AT DESCRIPTION! | SONGFIC | AU.

 

A/N :

Special for Nae Ahjumma, Vhatia-jumma^^

Happy birthday, ne?

#np: That (wo)man – Baek Ji Young << Secret Garden’s OST.

__________________________________________________________________________________

One woman loves you

That woman loves you with all his heart

Everyday like a shadow she follows you around

 

Annyeong, Junsu-ah…” Sapaku pada Namja itu. Ia tersenyum lebar sambil menepuk bahuku.

“Woonie, jangan panggil terlalu formal begitu, kenapa? Hehe…” Ia terkekeh kecil, membuatku mau tak mau menunduk malu.

“Kebiasaan sih. Hehe…” Jawabku asal sambil ikut tersenyum.

“Panggil saja Suie, seperti teman-teman lainnya,” Jelasnya ramah sambil lagi-lagi tersenyum. Aku tersenyum datar.

‘Jadi Kau hanya menganggapku teman seperti yang lainnya?’

Ne, Suie…”

~Noona961019~

When that woman smiles she is crying on the inside

“Suie… I Love You, Saranghae. Be My Boyfriend, Okay?” Aku mengenal suara Yeojya itu. Kuputuskan untuk mendekati sumber suara tersebut. Langkah demi langkah Kujejakkan.

Kuputuskan bersembunyi dibalik pepohonan. Kedua pupilku menangkap seorang Yeojya manis menundukkan kepalanya. Angin sore berembus menyejukkan, meniup indahnya helai rambut hitamnya. Benar-benar mempesona.

NYUT!

Dadaku nyeri.

Kedua mataku tak sanggup melihat Namja didepannya.

Namja itu…

Kim Junsu.

Benar-benar lama dalam keheningan, Aku yang tadinya menutup mata, membuka perlahan kedua kelopak mataku.

Bulir cairan bening membasahi kedua pipiku. Mereka berdua berciuman di depan mataku. Aku menggeleng kuat, instingku mencoba berpikir positif, tapi tak ada yang Aku dapat.

Apa yang Aku dapat? Hancur!

Itu yang Aku dapat ketika Namja jangkung itu menekan tengkuk si Yeojya, sementara sang Yeojya melingkarkan kedua tangannya pada leher Junsu-ku.

Junsu-ku, eh? Konyol! Tentu saja bukan.

Tangisku makin deras, Kuputuskan untuk berlari dari sana. Berlari dari kenyataan.

Kenyataan akan orang yang Ku cinta berbahagia dengan Yeojya lain.

Kenyataan akan Aku yang iri, iri pada Yeojya yang telah memenangkan hatinya.

~Noona961019~

How much longer

Do I have to just look at you alone

“Woonie-ah… Tahu nggak cara ngerjain ini?” Ia menyodorkan selembar kertas berisi soal-soal yang tak dimengertinya beserta selembar kertas buram. Aku mengambil keduanya. Membaca soal tersebut matang-matang. Baiklah, bukan pamer, tapi Aku memang jago-nya matematika, tak heran jika Junsu bertanya padaku.

“Gini lho, Suie… Mana bolpennya?”Pintaku nge-sok. Langsung saja Namja tampan itu menyelipkan bolpen di tangannya pada jemariku. Wajahku memerah, Kenapa sih Dia melakukannya? Skinship sederhana memang. Tapi kan… Sudahlah, Aku mengalihkan perhatian dengan mengerjakan soal didepan mataku, mencoret-coret kertas buram tersebut hingga penuh dengan angka. Setelah selesai, Kugeser kertas buram tadi ke arahnya, Dia yang duduk di depanku. Tatapan kagum terpancar dari wajahnya. “Mengerti? Coba kerjakan soal yang lain, ya?”

Arra. Tolong koreksikan nanti, ya? Hehehe…” Katanya kemudian berkonsentrasi mengerjakan soal yang lainnya. Wajah seriusnya benar-benar lucu. Alisnya mengernyit, matanya menyipit, dan bibirnya yang dimonyong-monyongkan, tentu saja Dia tak sadar, Aku tersenyum sekilas dibuatnya.

Apa Dia tak sadar?

Aku selalu memperhatikannya…

Mengagumi kepolosan wajahnya, indah binar matanya.

Mengagumi merdunya alunan nada yang keluar dari bibir plump-nya.

Mengagumi indah senyumannya.

 

Kenapa Suie? Kenapa Kau buat Aku seperti ini?

Aku menggilaimu, tak mengertikah Kau?

~Noona961019~

This love like the wind

This worthless love

If I keep trying will it make you fall in love with me

Come a little bit closer

 

Aku sadar perasaan ini tak berbalas.

Tapi, Aku selalu berusaha. Berusaha membuat Suie jatuh cinta padaku.

Setiap hari, Aku meletakkan surat cinta pada lokernya, dan ketika melihat surat itu, Ia akan tersenyum penuh pesona. Menebarkan feromon-nya sekaligus membuatku makin jatuh padanya.

“Woonie, Kau tahu? Hari ini Dia meletakkan surat lagi. Benar-benar misterius, tapi Aku suka caranya,” Curhatnya. Ia memang sering bercerita padaku mengenai Surat cinta misterius itu. Aku tersenyum malu-malu, Aku tentu saja tahu siapa ‘orang itu’. Kuremas kemejaku pelan.

“Menurutmu… Siapa Orang misterius itu?” Tanyaku hati-hati. Kedua bola mata hazelnya terbelalak, kemudian Dia terkikik kecil.

“Entahlah, tapi rasanya Aku tahu siapa Dia,” Gumamnya sambil menunjukkan Eye Smile-nya yang khas.

DEG!

“A… Apa terlihat jelas?” Tanyaku diluar skenario. Apa benar Dia tahu Aku yang mengiriminya surat itu? Aku ragu. Padahal Aku telah berusaha berhati-hati.

“Entahlah… Hanya perkiraan saja,” Jawabnya jujur. Ia menganggukkan kepalanya pelan. Sejurus kemudian, Ia menatapku penuh selidik, “Waeyo? Kenapa Kau bertanya seperti itu padaku memang?”

Aku gugup, wajahku memerah karenanya. Aku rutuki dalam hati kata-kataku yang keluar tadi. “A… Anniya,” Gumamku asal. Ck, ini merepotkan. Haruskah Aku lanjutkan semua ini? Disaat Junsu masih terikat hubungan dengan Yeojya itu? Ini memang gila. Sungguh gila!

~Noona961019~

Just a little bit

I’m the one who loves you

Right now by your side

That woman is crying

“Suie…” Panggil seorang Yeojya dengan mesra. Tadinya, Aku dan Junsu duduk di Taman Kampus berdua, membicarakan mengenai mata kuliah yang tak Ia mengerti. Aku hanya mendengarkannya saja, mendengarkan Ia bercerita ternyata mengasyikkan juga.

Sampai akhirnya seorang Yeojya mungil memeluknya dari belakang. Mengalungkan tangannya pada Junsu, kemudian mencium pipi Namja berjuluk ‘Dolphine‘ itu sekilas.

Apa Dia nggak memperhatikan disini ada Aku?

Aku yang kini dadanya menjadi sesak?

Sesak melihat Mereka berdua seperti itu!

Junsu mempersilahkan Yeojya berambut blonde itu duduk di pangkuannya, yang langsung disambut dengan manja oleh Orang itu.

Aku hanya menunduk, tak mengerti harus berbuat apa. Terlalu rumit untuk dijabarkan mengenai apa yang Aku rasakan saat ini. Sakit, perih, semuanya bercampur menjadi satu.

“Dia siapa, Suie?” Tanya Yeojya itu penasaran. Bola mata kecoklatannya menyelami diriku yang tengah tertunduk. Samar-samar dapat Kulihat Junsu tersenyum, tersenyum pada Yeojya itu.

Hal itu benar-benar membuat perutku terasa bergejolak. Benar-benar mengesalkan. Cih! Aku bahkan hampir menitikkan air mata hanya karena hal ini. Hanya, eh?

“Woonie, kenalkan Dia Yeojya-chinguku, Taeyeon. Taeyeon kenalkan Dia sahabatku, Hae Woon.” Jelas Junsu sambil tersenyum manis. Aku mendongakkan kepalaku, menatap wajah Yeojya manis itu. Shit! Dia memang manis. Aku kalah telak dengannya.

Yeojya itu menyodorkan tangan kanannya padaku, mengajakku berkenalan mungkin? Entah kenapa, Aku malah reflek menghempas tangannya. Membiarkan sepasang kekasih itu bingung akan sikapku. Aku menggigit bibir bawahku sendiri, menahan kekecewaan. Kutinggalkan Mereka berdua.

Aku cemburu! Dan satu lagi!

Aku menangis!

~Noona961019~

So that Woman

Loved you because you were the same

Just another fool

Just another fool

Aku ini bodoh, ya?

Benar-benar bodoh!

Seharusnya Aku tahu…

Junsu hanya menganggapku sebagai sahabat baiknya.

Bukan sebagai seorang Yeojya, seperti Ia menganggap Taeyeon.

Begini, ya rasanya sakit hati?

Kecewa, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu.

Kenapa Kami begitu bodoh?

~Noona961019~

Is it wrong to ask you to hold me once before you leave?

I want to be loved..

Its true Every day inside …Inside her heart… She shouted and

That woman is by your side again today

“Kau kenapa Kemarin Woonie? Kenapa meninggalkan Aku dan Taeyeon begitu saja? Ada masalah?” Namja ini segera saja memberondongku dengan berbagai pertanyaan selepas mata kuliah selesai. Aku lelah untuk menjawab, karena Dia juga tak mengerti.

“Aku hanya tak enak badan,” Jawabku datar. Seperti tak puas akan jawabanku, Ia beranjak, menatap mataku dalam. Sejenak, Aku terhipnotis akan keindahan bola mata hazelnya. Indah…

“Aku tahu bukan itu alasannya,” Ujarnya. Tatap matanya benar-benar menandakan Ia serius sekarang.

Aku berpikir sejenak, haruskah Aku mengakui perasaanku kali ini?

Aku sudah benar-benar tak sanggup untuk menyembunyikannya lagi.

Baiklah…

Kupeluk Namja yang berada dihadapanku itu. Kurasakan badannya menegang, kaget mungkin.

“Hey,” Gumamnya tak mengerti. Aku menghiraukan gumamannya itu. Kupejamkan mataku menikmati keadaan Kami saat ini. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Pelukan yang cukup lama. Aku tahu Junsu tak membalas pelukan ini, tapi setidaknya Ia tak menolak kan?

“Wae… Waeyo Woonie?” Tanya Junsu yang masih tak mengerti. Kau begitu polos Suie, ingin rasanya Aku berteriak bahwa Aku… Aku Yeojya yang mencintaimu, Suie!

Aku melepaskan pelukanku sambil menunduk. Kebingungan untuk merangkai kata, sementara Junsu memandangiku seduktif, mencari-cari ada apa gerangan yang terjadi.

“Wae, Woonie? Kenapa memelukku tiba-tiba?” Tanyanya dengan tampang super innocent. Aku mengepalkan kedua tanganku, menautkan kedua alisku. Aku akan mengatakannya sekarang. Toh, ini akan mengurangi bebanku selama ini.

“Sa… Saranghae, Suie…” Kataku terbata. Ia menatapku dengan tatapan seriusnya.

“Kita nggak sedang main-main kan?” Pertanyaan yang benar-benar tak penting untuk Kujawab lisan. Aku hanya menggelengkan kepalaku. “Kau serius?”

“Suie… Surat cinta itu… Aku… Aku, Suie… Yeojya misterius itu Aku… Apa Kau percaya padaku?” Kucoba memastikan. Junsu memalingkan wajahnya sambil menggeleng.

“Nggak mungkin. Kau pasti berbohong! Kau bohong-kan? Bohong-kan?” Ulangnya meracau, Dia mengguncang bahuku. Aku menangis dalam diam, ini pertama kalinya seorang Kim Junsu membentakku. Hal ini benar-benar membuatku terluka. Kuberanikan menatap matanya tajam.

Do you know that I ’m that woman?

You wouldn’t act this way if you knew

You wouldn’t know because you ’re a fool

“Sudah lama, Suie… Aku menyukaimu, dan semakin lama Aku mencintaimu. Aku tahu Kau memiliki Taeyeon, yang bahkan 100 kali lebih baik daripada Aku. Tapi, cinta ini terlanjur datang. Aku mencintai Junsu. Aku berjanji melepasnya, jika Suie tak menginginkanku. Namun, Aku nggak akan pernah mencabut perasaan ini, Suie.”

Namja itu diam. Aku yakin Dia mengerti. Wajahnya memucat. Matanya kosong. Ada apa gerangan? Aku membuatnya kecewa?

Mianhae,” Gumamnya sambil menerawang langit. “Ta… Tapi, Aku mencintai Taeyeon,”

Aku mengangguk pelan, hancur rasanya. Aku tahu, sekarang tahu… Cintaku bertepuk sebelah tangan. “Aku cinta Suie. Tapi, kalau Suie mencintai Taeyeon, It’s ok…” Jawabku sambil menahan genangan air mata yang makin berat di kelopak mataku. “Tapi, boleh Aku memeluk Suie? Terakhir kalinya, dan Aku akan menghilang dari Kalian berdua.”

Junsu speechless. Entah ingin mengangguk atau menggeleng. Dia tahu pasti apa maksud dari ‘menghilang’ itu. Ia hanya menatapku pasrah.

Entah apa yang terjadi, Aku dapat merasakan tangan besarnya memelukku erat. Pelukan hangat ini…

Tak ingin Aku lepaskan. Aku sungguh sayang pada Junsu. Sungguh…

Pertahananku runtuh, Aku tak sanggup menahan tangis. Air mataku membasahi belakang kemejanya.

Perlahan Aku lepaskan pelukannya. Bisa-kah Kau lihat wajahnya yang memucat?

Aku tersenyum, senyum yang damai. “Aku pergi sekarang. Jaga diri dan Taeyeon dengan baik, ya?”

Aku berjalan meninggalkannya. Dia masih berdiri disana, memandangku dari jauh.

Pandanganku seketika kosong ketika Kudengar seorang Yeojya bermanjaan dengan Junsu disana. Kosong… Hampa… Tiba-tiba…

BRAK!

ANDWAEE!”

Badanku terhuyung hingga akhirnya jatuh di tepi aspal. Pekikan Junsu terdengar nyaring di telingaku, berputar-putar seperti kaset kusut. Cairan kental berwarna merah membasahi kepalaku. Bau amis darah, ya… Aku sadar itu.

Aku tersanjung melihat Junsu dan Taeyeon yang mendekat padaku. Junsu menggendongku ke tepi jalan. Dia tak peduli kemeja putihnya dinodai warna merah darah. Terharu rasanya, masih ada seseorang yang menangisiku sebelum Aku ‘pergi’. Air mataku meleleh sama derasnya dengan darahku yang keluar dari tubuh.

“Woonie-ah… Hiks… Kenapa Kau begini, eh? Kau pabo!” Ucap Junsu disela isakan tangisnya.

Dengan tenaga yang tersisa, Aku mengulurkan tangan kananku. Menggapai dan mengelus halus pipinya, menghapus lelehan air matanya.

“Kita harus menelpon Ambulans Suie,” Saran Taeyeon. Ia juga menangis, menangis dalam diam. Junsu merogoh ponsel di kantung celananya.

“Sial! Kenapa lama sekali?” Rutuknya sambil menggertakkan giginya kesal. “Sialan!” Ia membanting ponselnya kesal. Nafasnya naik turun, sesak.

Kedua mataku terasa berat. Kucoba menutupnya perlahan. Tak peduli teriakan Taeyeon atau Suie sekalipun. Sejurus kemudian kuukir senyum damai di bibirku.

Selamat tinggal, Suie… Jeongmal gomawoyo, Saranghae…

 

~END~

 

A/N:

Muahahah..#evil laugh.

Aku secara resmi minta maaf pada Vhatia-Unnie yang Aku buat ehemmatiehem disini.. Buakakak..

Jelek-kah Unnie??

Komen loh.. Wajib!

 

Sunday, 17th July 2011 at 13:41

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: