2 Komentar

[Oneshot] Your Last Gift is My Motivation


Main Characters :

Choi Minho

Jung Krystal

 

Cameo(s) :

Mr. & Mrs. Choi

Jung Jessica

Lee Jongsuk

Kim Myungsoo

Hwang Kwanghee

 

Genre : Hurt/Comfort/Romance.

 

Rated : T

 

Warning : Judul yang nggak sinkron sama fiksi, GaJe, dan bahasa sulit dipahami.

 

Disclaimer :

Choi Minho milik orangtuanya. Bukan milik saia, karena saia milik Gongchan(?) #hey-.-!

Yah, doakan saja biar Choi Minho kelak menjadi milik Jung Krystal. Amiiin😀

 

Summary :

Saat tersulit bagi Choi Minho adalah ketika ia kehilangan Krystal karena kecelakaan yang menimpa keduanya. Mampukah Minho bangkit dari keterpurukannya?

Selamat membaca~!

 

* Your Last Gift is My Motivation *

Musim dingin telah tiba. Salju-salju merayap turun dari langit yang berwarna kelabu, menutupi kawasan jalan raya, perumahan, dan segalanya. Di saat seperti ini, setiap orang一sudah pasti一memilih menghangatkan tubuh bersama keluarga mereka di rumah, tapi berbeda dengan pemuda itu.

Choi Minho mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sesekali ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.

“Hampir satu jam…” Keluhnya. Untunglah hari ini jalanan Seoul cenderung lenggang.

Minho memarkir mobil berwarna hitam miliknya di sebuah taman, kemudian pemuda jangkung itu turun dari mobilnya. Ia merapikan syalnya terlebih dahulu kemudian menghampirinya, menghampiri kekasihnya. Gadis itu duduk di bangku taman dengan tatapan kosong, diguyuri salju yang selalu turun tiap detiknya.

Minho dapat melihat dengan jelas bibir gadis itu bergetar. Tentu saja! Siapa orang yang mampu bertahan di tengah salju selama satu jam penuh?

“Soojung.” Gumamnya dengan tatapan sedih. Krystal yang merasa terpanggil hanya balas tersenyum hambar. “Kau sudah lama disini?”

Gadis itu tak menjawab dengan lisan, ia menggeleng. Minho yakin gadis itu berbohong lagi. Minho menengadahkan kepalanya memandang langit tanpa matahari sejenak, lalu menggamit salah satu tangan mungil Krystal dan memasukkannya ke dalam saku jaket tebalnya一mencoba menghangatkannya.

“Aku rasa sebentar lagi akan badai salju, ayo ke mobilku.” Kata Minho yang dituruti oleh Krystal. Minho membimbing gadis itu melangkah, dalam sakunya ia bisa merasakan betapa dinginnya permukaan kulit Krystal dalam genggamannya. Sungguh ia merasa bersalah, apalagi saat kaki jenjang gadis itu bergerak lemah menyusuri salju. Untunglah jarak mobil Minho tidak terlalu jauh.

Pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Krystal, kemudian ia segera menyusul masuk ke dalamnya. Jujur saja musim dingin seperti ini sangat mengganggunya.

BRUK!

Minho menutup pintu mobilnya dengan keras. Kedua bola obsidiannya menatap Krystal yang masih menggigil hebat dengan sirat kekhawatiran.

“Perlu ke rumah sakit?” Tanyanya khawatir.

“Tak per…lu.” Lirih Krystal. Pemuda bermarga Choi menghela nafas dengan panjang. Kepalanya terasa pening saat ini… Paduan antara marah, khawatir, dan ingin menangis bercampur aduk dalam relung hatinya. Sedih rasanya ketika ia melihat gadis yang dicintainya seperti ini. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya, ini sudah terlalu jauh…

“Kenapa kau bertindak sebodoh ini, eh? Aku sudah bilang kan… Ini musim dingin, rawan badai salju. Jika kau ingin berbicara denganku harusnya kau bisa bicara lewat telpon, atau tidak bertemu di cafe. Aku benci kau yang menyakiti dirimu sendiri!” Sentak Minho. Krystal hanya terdiam, tak berani melawan satu katapun saat ini. Sebagai gantinya ia meneteskan air mata, entah untuk apa.

Minho terperangah, Krystal biasanya akan melawan atau menggoda Minho jika pemuda itu marah. Tetapi mengapa ia menangis? Apa kesalahannya yang kali ini menggores luka terlalu dalam pada Krystal?

“Maaf…” Lirih Minho. Jemari panjangnya bergerak menghapus lelehan kristal hangat itu dari pipi pucat gadisnya. “Maafkan aku…”

“Bukan salahmu, oppa.” Gadis itu bergumam setengah terisak. “Aku yang bodoh…”

Minho menggelengkan kepalanya, “Soojung, berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Tegasnya walaupun dengan intonasi lembut. Ia mengelus kepala Krystal perlahan. Rambut hitam gadis itu telah basah, sangat basah karena ulah salju dan Minho sadar itu. “Aku jelas bersalah, karena keteledoranku aku membiarkanmu menunggu selama hampir satu jam.”

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, sayang?” Tanya Minho. Senyum penuh cinta ia kulum di bibir penuhnya, sepasang mata onyx-nya selalu menatap gadisnya.

“Katakan aku kekanakan.” Bibir berwarna keunguan itu menggumam. “Aku hanya ingin mengucapkan happy anniversary.” Krystal merogoh tas slempang kecil yang sejak tadi ia bawa, jemari lentiknya mengambil sebuah kotak yang tak besar namun juga tidak kecil. Kado tersebut ia ulurkan untuk Minho dengan kedua tangannya. “Terima kasih telah menjadi kekasihku selama satu tahun ini. Segala kebaikan yang oppa berikan akan aku simpan rapat-rapat agar aku tak akan pernah kehilangannya.”

Minho menatap takjub gadis di sebelahnya. Tak pernah ada secercah pikiran yang menyangka bahwa Krystal yang manja dan polos itu bisa menjadi se-dewasa ini. Minho mengambil kotak berwarna merah tua itu dan memeluknya erat.

“Terima kasih juga. Kau gadis paling baik, Jungie.” Ucapnya lalu mengecup puncak kepala Krystal. Ia meletakkan kado pemberian Krystal di dekat setir, dengan bangga ia mengerling pada benda tak hidup tersebut. “Ah, kau pikir aku tak punya hadiah untuk anniversary kita?”

Minho memasang ekspresi misterius yang membuat Krystal一mungkin一penasaran. “Hng, tutup matamu.” Perintah pemuda bermarga Choi tersebut yang langsung dituruti oleh Krystal.

Pemuda itu mendekatkan wajahnya pada gadis di sebelahnya. Ia menghela nafas pelan ketika ia dapat memandang kecantikan kekasihnya itu dengan dekat. So close and also so beautiful…

CHU~

Bibir Minho mendarat di atas bibir tipis Krystal. Pemuda itu tak melakukan apapun, hanya sekedar menempelkannya saja. Ia terlalu cinta pada gadisnya itu sampai-sampai ia tak tega melakukan permainan yang sebagaimana biasa dilakukan sepasang kekasih.

Sentuhan tersebut membuat Minho sadar akan dinginnya bibir Krystal. Kedua matanya tidak tertutup sama sekali, karena itulah ia senang sebab ia bisa memandang wajah Krystal lebih dekat lagi一walaupun gadis itu menutup kedua matanya.

Selang beberapa waktu pemuda bermarga Choi melepas ciumannya dan memandang Krystal lagi. Kali ini gadis itu membuka kedua mata indahnya, gadis itu menyentuh bibirnya sendiri kemudian memalingkan wajahnya dari Minho一malu mungkin?

“Aku membuatmu malu?” Goda Minho sambil terkekeh geli. “Hm… Kau mau aku antar pulang?”

Krystal mengangguk pelan. Kedua bola matanya seolah membius Minho untuk memandangnya dengan dalam.

“Ya, aku ingin bertemu dengan Ssica-eonni.” Gumam gadis itu. Mata indahnya terlihat berbeda, biasanya Minho selalu menangkap keceriaan yang dipancarkannya, tapi kenapa saat ini tidak? “Sebelum aku pergi.”

“Memangnya kau mau kemana?” Potong Minho. Jujur saja, kata ‘pergi’ terdengar sangat ambigu di telinganya.

Krystal hanya balas tersenyum pada kekasihnya itu, seolah mengatakan ‘oppa-tidak-perlu-tahu’.

Dan tanpa Krystal tahu, Minho makin kalut saat gadis itu tersenyum seolah menyembunyikan apa yang seharusnya ia bagi untuknya.

***

“Minho-oppa.”

Minho menoleh ke arah gadisnya begitu pendengarannya menangkap suara lembut itu memanggilnya.

“Hm?” Pemuda itu berdehem seolah mempersilahkan Krystal untuk mengatakan apa yang hendak gadis itu tanyakan.

“Jika aku meninggalkanmu apa yang akan oppa lakukan?”

CKIIIT!

Minho sontak mengerem mobil mewahnya. Kepalanya bahkan membentur setir mobil. Andai saja keduanya tidak mengenakan sabuk pengaman, bisa saja kepala keduanya terbentur kaca.

“Jadi kau mau meninggalkanku, begitu?”

“Bukan begitu.” Gumam Krystal. Sementara Minho mulai melajukan mobilnya. “Hanya saja… Jika takdir yang tak memungkinkan kita untuk bersatu?”

“Hentikan omong kosong itu, Soojung. Takdirku ya hanya bersamamu. Disampingmu.” Elak Minho. Jujur, ia merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpa hubungan keduanya saat Krystal membicarakan itu. “Kau membuatku kalut.”

“Maafkan aku.” Krystal menundukkan kepalanya. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Itu saja.”

“Aku tahu… Aku hanya terlalu sensitif jika kau membicarakannya, Soojung-yeppeo.” Lirih Minho. Sesekali ekor matanya melirik Krystal yang menatap lurus jalanan yang diselimuti kabut tersebut.

“Aku juga tahu itu Choi Minho jelek.” Ejek Krystal sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Hal itu seolah menyihir Minho untuk terus memandang gadis cantik itu. Dalam hati Minho bersyukur, ia berterima kasih pada tuhan karena telah menganugerahkan gadis sesempurna Krystal padanya.

Gadis yang merubah pandangannya untuk tak meremehkan yang lebih muda.

Gadis yang membuka matanya tentang arti kesetiaan yang sebelumnya tak pernah ada dalam kamusnya一dulu, bagi Minho semua gadis sama saja. Mudah dipermainkan sesuka hati asal kau punya materi dan wajah rupawan.

Ia harap ia tidak akan pernah kehilangan momentum ini…

“Oppa!”

Selamanya…

BRAAAAAKK!

Nyeri sekaligus sakit dirasakan seluruh bagian tubuh Minho一tanpa terkecuali. Kedua mata lebarnya berkunang-kunang sementara kepalanya mulai kehilangan kesadaran. Minho hampir menutup matanya, tidak sampai tangan dingin itu menyentuh wajahnya.

“Soo-jung…” Eja pemuda itu dengan nafas terengah-engah. Matanya memburam, namun ia cukup yakin tangan Krystal berlumuran darah. “Soojung…” Panggilnya. Kini air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Dengan sisa tenaga dan tentu saja masih dalam keadaan terjepit ia mengedarkan pandangannya mencari Krystal. Pelan, ia merasa tulang lehernya patah. Nyeri di punggungnya benar-benar tak tertahankan lagi. ‘Aku kecelakaan.’ Nalar otaknya. ‘Bukan hanya aku, tapi Soojung juga.’

“Minho-oppa.” Suara itu. Itu suara Krystal. Krystal-nya. Minho berharap ini semua hanya mimpi. Sakit batinnya saat melihat wajah Krystal berlumuran darah. Darah itu mengalir deras dari kening dan bibir gadis itu.

“Soo…” Minho tergugu. Bibirnya tak dapat lagi memanggil nama itu dengan lengkap.

“Dengarkan aku, oppa. Buka pintu di sebelah oppa. Keluarlah dengan segera.” Perintah Krystal, nafasnya tersengal-sengal. Sekarat, ternyata begini rasanya sekarat? Demi tuhan.

“Tapi…”

“Segera!”

“SOOJUNG!” Teriak Minho dengan suara seraknya. “Aku tidak akan keluar tanpamu!” Minho menangis. Ia telah melupakan imej-nya sebagai ‘gentleman yang takkan menangis karena sebab apapun’. Krystal. Krystal-nya…

“Aku… Akan… Ma-ti.”

DEG!

Minho merasa telah berada diambang batas kesadarannya.

“Andwae!” Lirih Minho. Kepalanya sudah terasa berat. Ia pikir ia akan pingsan.

“Tidak denganmu.” Samar Minho mendengar bisikan Krystal. Isak tangis gadis itu bahkan terdengar dengan jelas. “Kau akan hidup.” Jemari lemah Krystal merayap ke bibirnya. Sensasi dingin itu terasa saat jemarinya menyapu bibir penuh pemuda bermarga Choi dengan penuh kasih sayang. “Saranghae.” Bisiknya.

Kini, biarkan Minho tidur. Tertidur pulas dalam bingkai mimpinya.

***

“Agasshi, kau trainee baru juga?”

“Ah, iya. Berarti kau juga?”

“Hm. Aku Choi Minho.”

“Jung Krystal. Itu namaku.”

.

“Kau lebih suka dipanggil siapa? Krystal atau Soojung?”

“Soojung.”

“Kalau begitu aku akan memanggilmu Soojung mulai sekarang.”

“Eh? Baiklah.”

.

“Soojung dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu.”

“Jangan bercanda oppa.”

“Kau tahu aku tak punya selera humor.”

“Ya, lalu?”

“I love you since i saw you. Please be mine.”

“Pronounciationmu aneh, oppa. Hehehe.”

“Jadi?”

“I love you too.”

.

Minho berdiri di padang rumput. Ilalang terhampar sejauh mata memandang. Tapi satu yang ia lihat, pemuda itu hanya memandang gadis berbalut dress berwarna putih selutut dengan bunga matahari yang berada dalam genggamannya.

“Soojung!” Panggil Minho reflek. Bukannya mendekat, gadis itu malah berlari. Setapak demi setapak menjejaki padang ilalang, dan semakin jauh pula jaraknya dengan Minho.

Saat pemuda itu hampir berlari mengejarnya, tangannya tertahan oleh tangan seseorang.

“Eomma?” Minho mengernyit tak mengerti saat ibu kandungnya berekspresi seolah ‘Jangan-ikuti-gadis-itu’. “Kenapa, eomma? Kenapa eomma melarangku bertemu dengannya?”

“Jalan hidupmu masih panjang sayang…” Gumam wanita paruh baya tersebut. Anak rambut yang sedikit menutupi wajah Minho diusapnya dengan sayang. “Dia memang pergi dari penglihatanmu, tapi percayalah dia selalu berada disini.” Jemari yang sekilas tampak keriput itu menyentuh dada bidang putranya yang tertutup oleh kemeja berwarna putih. “Cintanya kekal di hatimu.”

Setetes air mata Minho lolos dari peraduannya begitu tangan sang ibu beralih mengelus pipinya dengan lembut. “Aku… Aku mencintainya, eomma.”

“Eomma tahu sayang.”

***

“MINHO!”

Teriakan histeris memenuhi telinga pemuda bermarga Choi. Setengah sadar ia membuka kedua mata yang sungguh terasa berat. Pening kembali menghampirinya ketika kedua mata itu sukses terbuka. Remang-remang ia bisa melihat peralatan medis menutupi hidungnya, wajah ibunya, keluarganya.

“Kau sadar, Minho?”

Wanita yang berusia sekitar 40 tahunan itu menyentuh dan menciumi telapak tangan Minho yang masih disisipi dengan selang infus. Mrs. Choi menangis hebat saat putra kebanggaannya sadar.

“Sudah seminggu sejak kecelakaan itu terjadi.” Mr. Choi angkat bicara, sesekali ia menepuk pundak istri-nya yang masih tersedu-sedu. “Kami khawatir hal buruk terjadi padamu karena kau berada dalam fase koma selama tujuh hari.”

Minho menatap kedua orangtua-nya itu dengan sendu.

“Soojung…” Bibirnya bergetar menyebut nama itu. Layaknya orang gila Minho tetap menggumamkan nama itu berulang-ulang, “Soojung… Soojung… Soojung.”

Mr. Choi mendongakkan kepalanya, menahan tangis, sementara Mrs. Choi semakin jatuh dalam tangisnya.

“Di-dimana di-a?”

Mr. Choi menghembuskan nafas panjang, “Sooyeon-ssi…” Lelaki paruh baya itu menggerakkan kakinya dengan gugup. “Sooyeon-ssi berkata…”

“Soojungie meninggal di tempat kejadian…” Potong Mrs. Choi. Ia menggenggam erat tangan kanan Minho seolah menguatkannya.

Tapi percuma…

Minho terguncang.

Pemuda itu terlanjur terguncang.

“Andwae!” Lirih Minho. Dadanya perih. Butiran air mata mengalir dari kedua mata lebarnya. “Andwae!”

“Abunya disemayamkan di padang ilalang di daerah Daegu. Sooyeon-ssi berkata kalau kau pasti tahu persis letaknya.” Lanjut ayah kandungnya itu.

“Andwae…” Gumam Minho. Sesak ia rasakan menghujam dada. Demi tuhan! Rasa ini sungguh sakit sekali.

“Ironis…” Mrs. Choi mengusap air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya dengan tissue. “Dia gadis yang baik. Sangat baik. Sungguh tak pantas ia meninggal di usia yang bahkan belum kepala dua.”

“Andwae, Soojung!” Minho meremas seprei berwarna putih bersih dibawahnya. Ia menangis, meraung, dan melupakan sosoknya sendiri sebagai seorang flaming charisma. Ya… Perlahan.

***

Tempat ini masih sama. Berjejer ilalang masih menghiasi daerah ini. Sinar matahari malu-malu menerobos jejeran awan berwarna kelabu.

Pemuda itu menghirup harum khas padang ilalang, membiarkan hairstyle-nya dihancurkan hembusan angin kencang.

“Sudah dua minggu Soojung. Aku merindukanmu.” Gumamnya kemudian melanjutkan langkahnya.

Sepasang kaki jangkung itu berhenti di hadapan nisan berukir hangeul Jung Soojung. Ia mengelus puncak batu itu seiring dengan gerimis yang menghujani bumi.

Hening, Minho tak mengatakan sepatah katapun tapi siapa yang menyangka ia sedang patah hati saat ini?

Minho menyentuh dadanya yang mulai terasa sesak, seperti dihantam sebuah godam raksasa tepat di ulu hati.

Sekian lama diguyur air hujan Minho mulai menggigil, tetesan air dari langit beserta tiupan kencang angin terasa menusuk-nusuk permukaan kulitnya. Pemuda itu bahkan tidak dapat membedakan mana air hujan dengan air matanya sendiri.

Sebagai titik terakhir, pemuda itu meletakkan mawar merah di atas makam tersebut.

Mawar merah sebagai perwujudan rasa cinta tiada akhir dan merah itu sendiri untuk warna kesukaan Krystal.

Minho menundukkan kepalanya, mengenang semua hal tentang Krystal. Semua… Segalanya…

***

Minho menatap datar seisi kamarnya. Hambar. Tidak ada yang menarik lagi di dalamnya. Sebelum Krystal pergi untuk selamanya, gadis itu rutin merapikan kamarnya. Hebatnya, Minho tak pernah tahu kapan Krystal merapikan kamarnya. Lihatlah sekarang? Kamar dengan cat dasar biru langit itu berantakan. Sisa junk food dimana-mana, selimut dan sprei yang berserakan di bawah kasur. Hal kecil memang kadang terlupakan, namun jika telah hilang… Hal itu seolah dibutuhkan.

Minho duduk memeluk kedua lututnya, kedua matanya terpejam. Ia lelah… Seluruhnya terasa berat untuk dijalani.

Tiba-tiba sekilas ia teringat pada sebuah kotak yang pernah diberikan Krystal saat anniversary mereka. Pemuda itu dengan sigap bangun dari posisinya dan mendekati kotak berwarna merah tua yang diletakkan diatas sebuah meja. Well, Minho yakin eomma-nya yang meletakkan benda tersebut disitu.

Awalnya Minho berpikir, mungkin saja kotak tersebut beserta isinya akan hancur akibat kecelakaan. Tapi, tidak! Bahkan tidak ada lecet apapun di kotak itu. Aneh…

Minho mengambil kotak yang tidak terlalu besar itu. Perlahan jemari panjangnya membuka benda itu.

Antara ingin menangis dan bahagia.

Mungkin itu yang bisa dirasakan Minho saat ini.

Sebuah syal berwarna biru dongker berada di dalamnya. Ketika Minho mengambil syal tersebut, secarik kertas terlihat menarik perhatian.

Pemuda itu mengapit syal dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk mengambil kertas berwarna biru muda itu.

“Minho-oppa…

Happy annyversary. Terima kasih telah menjadi seorang yang mengerti aku selama satu tahun ini. Maaf jika aku mungkin membuatmu jengkel karena kedekatanku dengan pria-pria lain. Kalau boleh jujur, itu sendiri bukan keinginanku, tapi atas desakan profesionalitas一Yah, kau pasti tahu aku adalah gadis paling ambisius, kan?

Ngomong-ngomong, ini musim dingin. Aku putuskan untuk memberikanmu syal hasil buatanku sendiri ini untukmu一Hey, harusnya kau bangga karena aku bisa menyulam. Oppa tahu? Banyak, sangat banyak halangan untuk membuatkan dan memberikanmu kado ini.

Sooyeon-eonni mengomeliku untuk berhenti melakukan hal yang menurutnya tak berguna ini.

Jongsuk-oppa mengatakan kinerja aktingku menurun karena menyulam, tapi jangan salahkan dia karena ia yang selalu menemaniku menyulam di sela-sela break syuting.

Myungsoo-oppa yang setiap hari mengirimiku pesan teks agar tak lupa makan walaupun sedang terobsesi untuk menyelesaikan syal ini.

Kwanghee-oppa yang tak jarang menyeretku untuk pergi ke Lotte World untuk melupakan tugas menyulamku ini.

Jadi, jangan pernah mengira dalam seminggu ini aku tak bertemu denganmu karena sibuk selingkuh. Sesekali kau harus mengurangi ke-posesif-anmu itu.

Sudahlah, aku rasa cukup sampai disini.

Tetap sehat dan jangan pernah selingkuh dengan siapapun juga. Kkk~ aku bercanda, tentu saja kau boleh tak mencintaiku jika aku sudah mati kelak.

P.S : Tetaplah berada di jalur kesuksesanmu, oppa. Jangan pernah terpuruk! Jika kau merasa kesepian ingatlah aku. Aku akan selalu mendukungmu walau hanya dengan doa. Raih kesuksesanmu itu dan tunjukkan padaku kelak.

Your motivation,

Jung Soojung.”

Minho meremas kertas di tangannya. Pikiran serta perasaannya berkecambuk. Rasanya bercampur-aduk, antara senang, sedih, dan kecewa.

“AARGH!” Teriaknya frustasi. Syal dan kertas yang semula berada dalam genggamannya ia lepaskan. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan liar. Semuanya terasa begitu berbeda tanpa Krystal. Semua terasa asing.

Kedua bibir Minho meringis menahan emosi yang meluap dan serasa tak bisa ditampung lagi oleh dirinya sendiri.

“Terlalu cepat, Soojung! Kau pergi terlalu cepat…”

***

Minho menjejakkan kakinya pada padang ilalang. Menikmati sapuan angin pada kedua pipinya.

Ini sudah lewat dari setahun.

Dan tentu saja pemuda itu terlihat makin dewasa. Namun sayang sekali wajah matangnya sedikit tertutupi oleh topi hitam yang ia kenakan.

Pemuda jangkung itu bisa melihat tempat yang telah lama tak ia kunjungi. Ya, tempat dimana abu Krystal dikuburkan.

“Annyeong Soojung-ah. Lama tidak bertemu denganmu.” Gumamnya sambil mengelus nisan bertulis ‘Jung Soojung’ tersebut.

“Aku kemari untuk menunjukkan kesuksesan yang kuraih padamu. Kau dan segala rasa saat kehilanganmu mengajarkanku banyak hal, sayang.” Pemuda itu mengukir sejurus senyum nan tulus di bibirnya.

“Aku akan menjadi orang yang tangguh dan melihat lurus ke depan seperti yang kau inginkan.”

Sepertinya pelupuk mata Minho sudah tak sanggup menahan dorongan butiran bening yang kini telah mengalir membasahi pipinya. Ia menyentuh syal yang mengalungi lehernya, kemudian mengelusnya pelan. “Terima kasih telah menjadi motivatorku. Semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa bersama kembali. Aku mencintaimu. Selamanya…”

– Fin –

2 comments on “[Oneshot] Your Last Gift is My Motivation

  1. Sad ending T.T
    Ikut larut dlm surat Krystal nih gw

  2. Ah, keren….. T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: